Kamis, 21 Desember 2017

Malaikat pelindungku (bagian 2)

Halo pembaca...

Kemarin aku melihat angka kembar 0000 beberapa kali, dan hari ini juga 000 dan 0000 beberapa kali. 
Perubahan ekstrem apa yang akan kualami...
Karena aku mulai sering melihat angka kembar 111, 222, 333, 444, 555, setiap angka triple kembar kini sering muncul dalam satu bulan ini. Yang paling sering 111, 777, 888 dan 000 atau 0000.
Dari merasakan beban berat dalam hidup ini yang tak mampu kutanggung lagi...aku seperti diarahkan untuk melakukan pencarian atas darma dalam hidupku...saat ini aku masih mencari sebenarnya apa mandat dari kehendak Tuhan yang harus kulakukan dalam hidupku untuk menjadi sempurna.
Aku mulai menyadari kehadiran malaikat pelindungku...mungkin malaikat pelindung juga yang menyelamatkan aku dari maut saat kecelakaanku 3 bulan yang lalu. Kecelakaan tunggal misterius aku sampai tidak sadarkan diri, setelah sadar sempat muntah dan ada sedikit gumpalan darah mungkin karena benturan keras di bagian perut (ternyata liverku yang kena), dan diperkirakan dokter bedah bahwa aku akan sembuh dalam waktu 1 bulan, eee ternyata bari 11 hari aku sudah sehat dan ke mana-mana naik motor lagi termasuk menempuh jarak jauh Salatiga-Bantul. Terima kasih Roh Kudus, yang diutus Bapa. Terima kasih malaikat pelindungku, kehadiranmu mulai kurasakan kini
....cerita bersambung karena keburu nunggu Keliling Santa untuk anak-anakku...see you...

Malaikat pelindungku

Lama tak menulis, hari ini ingin kembali menulis.
Banyak peristiwa besar kualami dalam 5 bulan terakhir ini.
Tonggak sejarahnya berawal ketika aku menerima tugas dari lembaga tempatku bekerja, Trukajaya untuk tinggal di desa Gilangharjo Pandak Bantul Yogyakarta dalam kegiatan kedaulatan pangan yang didanai oleh sebuah donor ICCO Netherland.
Entah spirit dari mana, sebagai pekerja lapang aku sangat antusias menerima tugas ini, setelah sekian lama dalam kenyamanan tugas dekat yang setiap hari berkumpul bersama keluarga.
Awalnya aku tinggal di rumah sebuah keluarga kecil yang anaknya sudah bekerja jauh di Aceh sedangkan ayahnya sedang menjalani persoalan hukum di pengadilan, jadi sehari-hari hanya ada sang ibu. Muncul ide dalam pikiranku untuk mengelola lahan sawah dan kebun percontohan yang aku kerjakan sendiri. Ini bukan standar kerja di lembagaku tetapi atas inisiatifku sendiri untuk kulakukan sendiri tetapi tujuanku untuk mendukung pelayananku pada petani di desa ini. Untuk memenuhi kebutuhan itu, aku pindah di dusun sebelah, di sebuah rumah kosong berhalaman luas dan juga aku menyewa sebidang sawah untuk aku "nyawah" nantinya. Entah mengapa semua begitu membuatku bersemangat. Tentu berbeda dengan live in waktu aku masih muda dahulu, kali ini aku tidak banyak membentuk kelompok baru tetapi hanya mengikuti kelompok-kelompok lama bentukan lama oleh masyarakat desa sebelum aku datang.
Pengalaman menarik kemudian muncul.
Suatu hari aku mengalami kecelakaan tunggal dalam perjalanan naik motor dari Salatiga ke Bantul. TKP di Salam Magelang sebelum sampai di tugu ireng Salam-Tempel Yogyakarta. Itu kejadian misterius yang tidak kupahami sampai hari ini. Aku berangkat dari Salatiga jam 14.00 kalaupun lebih paling beberapa menit sedikit. Sampai di Muntilan hujan dan terpaksa aku berhenti untuk mengenakan jas hujan, lalu lanjut jalan lagi. Beberapa titik traffic light masih kuingat sampai saat ini, anehnya setelah itu entah kesadaranku hilang atau bagaimana, aku tidak ingat pom bensin baledono bahkan 2 gapura suara merdeka yang biasanya aku titeni, tidak ada dalam ingatanku, hanya satu kejadian kuingat saat sepeda motorku oleng ke kanan setelah itu aku tak sadar lagi dan tahu-tahu aku sadar sudah berada di depan Sofie Cell, dalam keadaan luka ringan di bagian wajah dan kedia tanganku. Kulihat 2 orang polisi melihatku sejenak, lalu salah seorang berkata : "oke, sudah sadar, saya tinggal ya". Seorang ibu yang ada di dekatku menjawab : ya pak, monggo. Ibu itu menjelaskan kalau aku baru saja mengalami kecelakaan tunggal di depan tokonya dan aku tidak sadar selama 5 menit. Ibu itu yang menolongku, kulihat ada minuman bermerk teh pucuk harum di sebuah kursi dekatku, katanya itu minumanku, tetapi aneh aku tidak ingat meminumnya. Sudahlah, yang penting aku sudah ditolong. Kepalaku terasa sangat pusing saat aku bangun dari lantai tanah di depan toko itu untuk berpindah duduk di kursi. Jas hujan yang tadi aku pakai, sudah berada di atas kursi dekatku, berarti ada yang melepasnya dari tubuhku. Aku bertanya pada ibu yang ternyata pemilik Sofie Cell itu, apakah tadi waktu jatuh, helmku lepas, dan ibu itu menjawab tidak, helmku masih kupakai, jas hujan juga dalam kondisi aku kenakan. Aku benar-benar heran mengapa aku sampai tidak sadar dengan semua kejadian ini, dan hanya 5 menit, karena ibu itu bercerita beberapa kali diulang bahwa aku tidak sadar cuma 5 menit. Setelah duduk di kursi, kepalaku tambah pusing dan aku muntah, kulihat ada sebercak kecil darah menggumpal di muntahanku, tapi tidak terlalu kupikirkan. Dan yang membuatku miris adalah ketika ibu itu menjelaskan begini " tadi siang juga ada mbak, persis di tempat njenengan jatuh itu, tapi lebih parah dan tidak sadarnya lama sampai dibawa ke rumah sakit, entah sekarang bagaimana nasibnya, njenengan beruntung cuma luka sedikit dan pingsan cuma 5 menit, memang sering terjadi kecelakaan, dan saya titeni selalu di lokasi itu mbak".
Aku mendengarkan penjelasan ibu (yang belakangan kutahu namanya bu Amin, karena aku sekalian memperkenalkan diri dan bertanya nama si ibu dan suaminya yang ada didekatnya bernama pak Amin), kemudian aku berusaha memberi kabar suamiku, kutelepon berkali-kali tidak terjawab, akhirnya kusampaikan di grup keluarga tentang kecelakaan ini. Kakak ipar di Jakarta segera merespon dengan terus menghubungi suamiku dan akhirnya berhasil. Itu salah satu gunanya grup keluarga. Kakak iparku menyarankan agar  aku minta :di-CT Scan kepala saat nanti ketemu dokter karena sempat tidak sadar. Aku juga menghubungi ketua kelompok di desa yang baru saja WA aku mengingatkan bahwa malam ini ada pertemuan yang harus aku hadiri, aku justru menjawabnya dengan kabar kecelakaan ini. Aku juga mengabari grup kantor. Kabarku tersebar dan dari desa Gilangharjo datang lebih dulu kemudian segera membawaku ke RSUD Murangan Sleman. Sampai di sana barulah suamiku datang, kemudian dari kantor yang terakhir. Dari pengamatan dokter karena aku bisa berkomunikasi dengan baik, aku diperbolehkan pulang ke Salatiga. Tetapi jika besok pusing aku disuruh langsung ke rumah sakit Salatiga.
Alhasil, esok harinya aku pusing, lihat langit-langit kamar berputar-putar, jadilah aku diantar suami ke RSUD Salatiga dan diputuskan dokter untuk opname karena harus menjalani CT Scan dan Rontgent kepala serta CT scan perut karena benturan mungkin dengan stang motor kemarin, karena mulai terasa sakit. Jadilah aku 4 hari di RSUD Salatiga...cerita selanjutnya menyusul ya...