Rabu, 02 Februari 2011

Analisis Usaha Tani Organik

PERBANDINGAN ANALISIS USAHA TANI

PADI

BUDIDAYA SECARA LEISA DAN BUDIDAYA BIASA

Masa budidaya : Agustus – Desember 2008

Varietas : Ciherang

Luas lahan : 1 hektar

Sistem tanam : tabela

No

Kebutuhan

Biaya (Rp)

LEISA

BIASA

1

Benih (60 kg)

120.000,-

120.000,-

2

Pupuk dasar (4 ton kompos)

  • Urea
  • ZA
  • TSP/SP36
  • KCl

1.000.000,-

0,-

186.000,-

62.000,-

300.000,-

3

Pupuk susulan

· 1 ton kompos

· Urea

· ZA

· TSP/SP36

· KCl

· Pupuk organik cair (dibuat sendiri)

300.000,-

62.000,-

62.000,-

62.000,-

62.000,-

50.000,- ,-

0,-

186.000,-

0,-

300.000,-

300.000,-

0,-

4

Pestisida

Pestisida organik (dibuat sendiri)

Pestisida kimia

Fungisida

Herbisida

50.000,-

110.000,-

0,-

600.000,-

200.000,-

5

Tenaga kerja

  • Pembibitan dan pengolahan lahan
  • Penanaman
  • Penyiangan
  • Pemupukan (3 kali)
  • Pengendalian hama/ penyakit
  • Panen dan paska panen (perontokan gabah)
  • Penggilingan gabah

350.000,-

75.000,-

50.000,-

300.000,-

50.000,-

200.000,-

200.000,-

350.000,-

75.000,-

50.000,-

300.000,-

50.000,-

200.000,-

200.000,-

6

Sewa traktor

700.000,-

700.000,-


Total (Rp)

3.803.000,-

4.179.000,-

Sumbersari, 16 Mei 2008

Tim Pertanian Lestari Y-TBL

Pertanian Lestari

PERTANIAN LESTARI

Oleh : Eunike Widhi W

Siklus nutrisi dalam pertanian :

Matahari

Peternakan




Panen Pupuk kandang


Tanaman Tanah

Tanah dan kesuburan tanah

Fungsi tanah dalam pertanian :

1. Media (tempat) tumbuh tanaman

2. Penyedia hara/ makanan yang sangat diperlukan tanaman untuk berproduksi baik itu menghasilkan batang, buah, biji ataupun daun, akar, dan bagian lainnya. Tanpa hara dalam tanah itu mustahil tanaman dapat hidup apalagi berproduksi.

3. Tempat berlangsungnya dekomposisi (pelapukan) bahan-bahan organik.

4. Habitat mikroorganisme penyubur tanah yang sangat berjasa bagi tumbuhan

Kesuburan tanah meliputi sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Jadi kalau tanah mengandung unsur hara yang diperlukan tanaman saja, tetapi miskin bahan organic dan sulit diolah, maka tanah itu belum cukup dikatakan sebagai tanah yang subur. Karena sifat biologi dan fisik tanah belum tercukupi.

Pemupukan

Ketersediaan unsur hara dapat dipenuhi dengan penambahan pupuk. Tanaman kacang-kacangan memerlukan pupuk dengan kandungan N, P dan K. Rumput, terutama membutuhkan N banyak untuk tumbuh dan berproduksi menghasilkan daun. Hasilnya : tanaman kacang-kacangan menghasilkan panen dengan kandungan N yang tinggi karena memiliki bintil akar yang bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium dalam tanah sehingga dapat mengikat Nitrogen bebas dari udara. Maka limbah panen kacang-kacangan sering digunakan sebagai pupuk hijau.

Tanaman pada usia tertentu perlu pupuk dengan kandungan unsur hara tertentu. Namun ketersediaan mikroba tanah yang mendukung sifat biologi dan fisik tanah, tidak cukup dipenuhi hanya dengan penambahan sembarang pupuk. Kondisi fisik tanah misalnya tanah gembur sangat penting untuk perakaran agar mudah menembus tanah. Kondisi biologi tanah yang baik berarti dalam tanah terdapat cacing tanah dan mikroba tanah lainnya yang menguraikan limbah organic menjadi kompos, sehingga memperbaiki kesuburan tanah.

Dengan pemupukan urea, ZA, KCl, TSP secara benar tanaman akan berproduksi tinggi dari musim ke musim. Kondisi pertanian untuk ketersediaan pangan di negara kita sedang terpuruk. Pemerintah mengimpor beras dan gandum dari luar negeri untuk mencukupi kebutuhan pangan nasional. Mengapa? Karena pertambahan jumlah penduduk yang drastis tidak sebanding dengan ketersediaan pangan. Usaha pertanian pun diupayakan terus untuk mengejar volume produksi dari tahun ke tahun. Namun kalau kita hanya mengambil hasil dari tanah semaksimal mungkin, kemudian tidak mengembalikan lagi kesuburan tanah itu, lama kelamaan tanah menjadi kering, keras dan miskin bahan organik. Selain itu pada titik tertentu produksi tanaman tidak meningkat terus seperti yang kita harapkan, tetapi justru lama-kelamaan menurun.

Banyak petani yang mengaplikasikan pupuk lebih banyak daripada tahun sebelumnya untuk mendongkrak panen. Demikian terus, hingga pada titik tertentu bukannya produksi tinggi yang kita peroleh, tetapi justru produksi rendah ditambah kerusakan lahan karena diforsir untuk menghasilkan panen melimpah, tetapi kita lupa untuk memberi “makanan” kepada tanah agar tetap sehat dan dapat berproduksi seperti yang kita harapkan. Selain itu residu pupuk dan pestisida kimia dari waktu ke waktu terkumpul di tanah membahayakan lingkungan : tanah, udara dan perairan. Aliran residu bahan kimia ke hilir sungai dan ke laut dapat mengganggu ekosistem laut.

Petani dan pertanian masih menjadi tumpuan harapan

Pemakaian pupuk atau pestisida kimia sebenarnya tidak diharamkan, tidak dilarang. Asalkan dilakukan secara benar dengan jumlah secukupnya (tidak berlebihan), pupuk dan pestisida kimia dapat dijadikan mitra petani. Pupuk dan pestisida kimia boleh digunakan namun sifatnya sebagai pelengkap saja. Pada tanah yang masih subur dengan kandungan hara yang lengkap, bisa jadi tanpa penambahan pupuk kimia, tanaman sudah berproduksi dengan baik. Dalam pengendalian hama terpadu dijelaskan bahwa penggunaan pestisida merupakan alternatif terakhir setelah cara-cara yang lain tidak membuahkan hasil dan catatan pentingnya adalah bila populasi hama/ penyakit sudah melebihi batas perhitungan untung rugi usaha tani, di situlah pestisida boleh digunakan.

Dalam hal ini kita diharapkan lebih bijak, ketika kita dapat menggunakan pestisida yang ramah lingkungan tanpa mempengaruhi hasil, mengapa harus menggunakan pestisida kimia yang berspektrum luas dan mematikan musuh alaminya juga? Sayangnya petani justru tergantung pada pupuk dan pestisida kimia itu dengan alasan praktis. Akan tetapi kalau kondisi tanah dan lingkungan sudah demikian parah, lalu akan berharap kepada siapa lagi kita, untuk memenuhi pangan di masa depan?

Selama manusia masih mengkonsumsi hasil pertanian, nampaknya pertanian masih akan menjadi tumpuan harapan pangan seluruh umat manusia di muka bumi. Maka sungguh mulia jasa petani kepada semua manusia di bumi ini. Karena lewat karya tangannyalah tergantung harapan seluruh manusia untuk makan, hidup, bergerak aktif, tumbuh, berkembang, berpikir dan bertindak. Bayangkan jika semua petani di Jawa Barat saja misalnya; serempak mogok menanam tanaman pangan. Bayangkan jika suatu saat mereka hanya menanam tanaman pangan untuk dikonsumsi sendiri dengan keluarganya.

Pertanian Organik/ berkelanjutan

Issue tentang kerusakan tanah telah lama disadari oleh banyak pihak termasuk petani sendiri. Kita mulai merindukan kondisi alam dan makanan yang bebas kontaminasi bahan kimia, lebih sehat, yang ada di masa lalu sebelum dikenal banyak pupuk dan pestisida kimia. Muncullah produk-produk pupuk berlabel ramah lingkungan yang beredar di petani. Kembali petani tergantung pada produk-produk tersebut.

Salah satu pilihan bijak adalah pertanian yang berproduksi tinggi namun tidak merusak tanah dan alam lingkungan. Mungkinkah itu dilakukan? Jawabnya adalah mungkin dan kita mampu melakukannya.

Pemupukan yang bagaimana yang sebaiknya kita lakukan/ kita berikan kepada tanah kita? Pestisida yang bagaimana yang akan kita gunakan untuk mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman kita? Banyak materi pelatihan yang diterapkan oleh para pegiat pertanian lestari di masyarakat. Mulai dari pembuatan kompos, pestisida nabati dan hayati, sampai pada budidaya tanaman. Pada prinsipnya menggunakan sumber daya local dan meminimalkan penggunaan input dari luar.

Prinsip-prinsip Pertanian Organik

  1. Menggunakan sumber daya lokal bermutu yang dapat diupayakan oleh petani sendiri
  2. Meniadakan penggunaan racun kimia (tidak mencemari tanah, udara dan perairan)
  3. Memperhatikan kesuburan tanah (kesuburan fisik, kimia dan biologi tanah)
  4. Mengutamakan penggunaan teknologi tepat guna yang bersumber pada potensi lokal
  5. Pengaturan pola tanam untuk memutus siklus hama dan penyakit

Pola Tanam

Secara umum pola budidaya tanam dibagi 2 : monokultur dan polikultur. Monokultur adalah menanam hanya 1 jenis tanaman, sebaliknya polikultur adalah menanam lebih dari 1 jenis tanaman, bisa 2, atau 3 jenis, atau lebih. Polikultur masih dibagi menjadi beberapa macam : system surjan, system lorong, system tumpang gilir, dsb.

Monokultur lebih mudah dikerjakan karena hanya 1 jenis tanaman. Namun dari segi volume hasil, polikultur lebih menguntungkan, karena panen tidak hanya 1 jenis komoditas sehingga dapat mengantisipasi kegagalan panen (artinya kalau satu komoditas mengalami gagal panen, masih ada panen komoditas lain). Dari segi hama dan penyakit, pola tanam polikultur dapat digunakan sebagai salah satu strategi memutus siklus hama dan penyakit apabila perpaduan tanaman tepat. Misal tanaman padi sering ditumpangsarikan dengan kacang panjang atau tanaman beraroma tajam seperti serai. Karena hama padi diusir oleh aroma serai yang tajam. Selain itu pola budidaya tanaman dalam satu tahun dapat direncanakan misal padi-padi-palawija. Atau padi-palawija-padi. Semua itu juga bertujuan memutus siklus hama dan penyakit padi.

Pemilihan benih dan bibit tanaman

Idealnya jenis tanaman untuk dikembangkan secara organic diperoleh dari benih-benih local. Misal padi local setempat, sayuran atau kacang-kacangan yang benihnya berasal dari benih local. Mengapa? Karena benih-benih tersebut telah terbukti dapat tumbuh dan berproduksi pada waktu lampau, mungkin 20 atau 30 tahun yang lalu. Karena kita tidak dapat memaksakan suatu jenis tanaman yang sebenarnya tidak cocok ditanam di suatu tempat. Mungkin tanaman itu dapat tumbuh dan hidup. Namun produksinya rendah, bahkan tidak dapat berproduksi.

Itulah maka kita sering mendengar/ mengetahui bahwa daerah A terkenal sejak dulu sebagai penghasil jeruk, daerah B penghasil apel, C Anggunr, padi, kelapa, kakao, dlsb. Karena memang hanya di daerah-daerah itulah jenis-jenis tanaman tersebut dapat berkembang dan berproduksi secara optimal. Itu yang dinamakan keunggulan komparatif suatu daerah. Keunggulan komparatif tersebut sangat berkaitan dengan syarat tumbuh tanaman dari aspek iklim mikro, kesuburan tanah dan kondisi lingkungan. Selain itu berkaitan pula dengan budaya masyarakat setempat, sebagai contoh di Jawa Tengah dalam seluruh rangkaian budidaya padi, dilakukan ritual-ritual tertentu pada berbagai fase pertumbuhan padi, yang semuanya itu ada maknanya. Kadang-kadang seperti takhyul, tetapi kalau dianalisa sebenarnya cukup rasional.

Sebenarnya, akan baik jika semua daerah di Indonesia memiliki keunggulan komparatif, produk pertanian tidak hanya ikut arus. Si A menanam jagung. B, C, D dll ikut juga menanam jagung karena tergiur penghasilan tinggi di tempat A.

Pertanian lestari sebaiknya menggunakan benih dan bibit tanaman local. Namun dalam konteks Sumbersari hal itu cukup sulit karena untuk padi, sudah tidak ada lagi benih local. Petani dapat menggunakan benih yang ada, meskipun bukan benih local tetapi harus dipilih benih yang baik, bermutu (baik mutu genetic, fisiologik dan fisiknya) dan kemudian dibudidayakan secara organic. Petani perlu membiasakan lagi melakukan seleksi benih untuk persediaan musim tanam berikutnya.

Pembuatan pupuk dan pestisida organic

Bahan organic mengandung mikroorganisme yang baik untuk kesuburan fisik, kimia dan biologi tanah. Pupuk kimia tidak dapat mengembalikan bahan organic tanah, sehingga kesuburan tanahpun menurun. Maka bahan organic atau kompos mutlak diberikan pada tanah. Banyak resep atau materi pembuatan kompos. Pada intinya menggunakan kotoran ternak, limbah panen, seresah daun atau bahan-bahan organic lainnya baik dengan pemeraman biasa dalam waktu lama maupun difermentasikan dengan bantuan bakteri fermentasi seperti EM4, mikroorganisme buatan sendiri, rumen sapi dengan beberapa bahan tambahan. Sebaiknya petani mampu membuat bakteri fermentasi sendiri agar tidak tergantung harus membeli bakteri. Bahkan lebih baik lagi jika produk tersebut dari petani dapat dijual ke pengguna lainnya.

Demikian pula insektisida, fungisida dan herbisida organic dapat kita buat sendiri dari bahan-bahan alami. Karena sifatnya yang alami, maka pestisida organic ini aman bagi lingkungan dan mudah terurai di alam. Sedangkan daya racunnya pada hama dan penyakit, tidak kalah dengan pestisida kimia. Prinsip bahan alami untuk pestisida adalah : beraroma tajam (menyengat), berasa tajam (pahit, pedas) dan beracun (mematikan atau memandulkan hama).

Kedaulatan petani

Banyak pihak kadang lupa untuk menghargai peran besar petani dalam kehidupan ini. Petani diposisikan sebagai pihak yang lemah, terdesak dan tidak diberi kesempatan untuk mengambil keputusan. Apa yang mereka tanam, bagaimana budidayanya, bagaimana memperoleh benih, dlsb terlalu banyak intervensi pihak luar. Petani hanya disodori berbagai merk dan jenis bahan serta alat untuk budidaya pertaniannya, tetapi semua itu sebenarnya tidak memberdayakan dan memandirikan petani.

Benih padi yang dahulu petani dapat memproduksi sendiri dengan kearifan lokalnya, lama kelamaan tergeser oleh benih pabrik yang dikuasai hanya oleh produsen benih dan direkomendasi oleh pemerintah untuk dipasarkan, dan semua itu introduksi dari luar. Bahkan lebih parah lagi petani sering tertipu benih palsu yang berlabel. Selain itu perusahaan pestisida, herbisida dan fungisida kian marak berlomba menawarkan hasil yang tinggi di musim panen.

Produksi memang tinggi. Tetapi di musim tanam berikutnya untuk mempertahankan produksi pada tingkat itu, aplikasi pupuk dan pestisida harus ditambah dan ditambah lagi dari musim ke musim. Lama kelamaan petani tergantung pada pupuk dan pestisida kimia, kesuburan tanah menurun, risiko bahaya racun kimia mengancam manusia dan makhluk hidup lainnya dan benih local menghilang punah. Budaya pertanian berubah dan kedaulatan petani musnah.

Sudah saatnya petani diberdayakan untuk menerapkan usaha tani yang mandiri. Mulai dari benih, pupuk dan sarana produksi lain yang mengangkat kemampuan dan keterampilan petani untuk mengupayakan, merawat dan menjaga ketersediaannya secara mandiri, tidak tergantung pada input-input dari luar yang mematikan kearifan lokal dan kedaulatan petani. Memang kini hal itu memerlukan proses yang panjang, tidak mudah dan tidak cukup dilaksanakan dalam hitungan minggu atau bulan. Perlu bertahun-tahun untuk memunculkan kembali kedaulatan petani untuk kedaulatan pangan. Perlu dukungan dari banyak pihak untuk mewujudkannya. Namun ada satu keyakinan yang dapat kita jadikan semangat bahwa pertanian adalah untuk kehidupan. Kehidupan kita sekarang dan tentu kehidupan anak cucu kita kelak. Tentu kita tidak hanya menjalankan usaha tani untuk kehidupan sekarang saja tanpa memikirkan bagaimana anak cucu kita memperoleh makanan dan gizi untuk pertumbuhan, kesehatan, kekuatan dan kecerdasan mereka. Kita sehat salah satu factor penentu terbesarnya karena memakan makanan yang cukup dan sehat pula. Untuk memperoleh makan sehat, kita harus mengupayakan setiap tahap dalam proses produksi pertanian yang sehat dan cukup. Siapa lagi yang memulai kalau bukan kita? Dan kapan lagi kita memulai kalau tidak sekarang?

Salatiga, 10 Oktober 2008

Eunike Widhi Wardhani

Panduan Pengorganisasian Program Pertanian Organik

PANDUAN PENGORGANISASIAN PROGRAM PERTANIAN ORGANIK *

Oleh : Eunike Widhi Wardhani **

PENGANTAR

Issue tentang kerusakan tanah telah lama disadari oleh banyak pihak termasuk petani sendiri. Kita mulai merindukan kondisi alam dan makanan yang bebas kontaminasi bahan kimia, lebih sehat, yang ada di masa lalu sebelum dikenal banyak pupuk dan pestisida kimia. Muncullah produk-produk pupuk berlabel ramah lingkungan yang beredar di petani. Kembali petani tergantung pada produk-produk tersebut.

Salah satu pilihan bijak adalah pertanian yang berproduksi tinggi namun tidak merusak tanah dan alam lingkungan. Mungkinkah itu dilakukan? Jawabnya adalah mungkin dan kita mampu melakukannya.

Bagaimana memperoleh benih atau bibit tanaman yang baik? Pemupukan yang bagaimana yang sebaiknya kita lakukan/ kita berikan kepada tanah kita? Pestisida apa yang akan kita gunakan untuk mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman kita dan bagaimana aplikasinya? Banyak materi pelatihan yang diterapkan oleh para pegiat pertanian lestari di masyarakat. Mulai dari pembuatan kompos, pestisida nabati dan hayati, sampai pada budidaya tanaman. Pada prinsipnya menggunakan sumber daya local dan meminimalkan penggunaan input dari luar.

I. PENDAHULUAN

Latar Belakang

Selama manusia masih mengonsumsi hasil pertanian, nampaknya pertanian masih akan menjadi tumpuan harapan pangan seluruh umat manusia di muka bumi. Maka sungguh mulia jasa petani kepada semua manusia di bumi ini. Karena lewat karya tangannyalah tergantung harapan seluruh manusia untuk makan, hidup, bergerak aktif, tumbuh, berkembang, berpikir dan bertindak. Bayangkan jika suatu saat petani padi di Jawa Tengah melakukan gerakan tidak menjual padi/ beras tetapi menyimpan hasil panennya itu untuk kebutuhan sendiri.

Banyak pihak kadang lupa untuk menghargai peran besar petani dalam kehidupan ini. Petani diposisikan sebagai pihak yang lemah, terdesak dan tidak diberi kesempatan untuk mengambil keputusan. Apa yang mereka tanam, bagaimana budidayanya, bagaimana memperoleh benih, dlsb terlalu banyak intervensi pihak luar. Petani hanya disodori berbagai merek dan jenis bahan serta alat untuk budidaya pertaniannya, tetapi semua itu sebenarnya tidak memberdayakan dan memandirikan petani.

Benih padi yang dahulu dapat diproduksi sendiri oleh petani dengan kearifan lokalnya, lama kelamaan tergeser oleh benih pabrik yang dikuasai hanya oleh produsen benih dan direkomendasi oleh pemerintah untuk dipasarkan, dan semua itu introduksi dari luar. Bahkan lebih parah lagi petani sering tertipu benih palsu yang berlabel. Selain itu perusahaan pestisida, herbisida dan fungisida kian marak berlomba menawarkan hasil yang tinggi di musim panen. Produksi memang tinggi. Tetapi di musim tanam berikutnya untuk mempertahankan produksi pada tingkat itu, aplikasi pupuk dan pestisida harus ditambah dan ditambah lagi dari musim ke musim. Lama kelamaan petani tergantung pada pupuk dan pestisida kimia, kesuburan tanah menurun, risiko bahaya racun kimia mengancam manusia dan makhluk hidup lainnya dan benih local menghilang punah. Budaya pertanian berubah dan kedaulatan petani musnah.


Sudah saatnya petani diberdayakan untuk menerapkan usaha tani yang mandiri. Mulai dari benih, pupuk dan sarana produksi lain yang mengangkat kemampuan dan keterampilan petani untuk mengupayakan, merawat dan menjaga ketersediaannya secara mandiri, tidak tergantung pada input-input dari luar yang mematikan kearifan local dan kedaulatan petani. Memang kini hal itu memerlukan proses yang panjang, tidak mudah dan tidak cukup dilaksanakan dalam hitungan minggu atau bulan. Perlu bertahun-tahun untuk memunculkan kembali kepercayaan diri petani menjalankan usaha taninya untuk kedaulatan pangan. Perlu dukungan dari banyak pihak untuk mewujudkannya. Namun ada satu keyakinan yang dapat kita jadikan semangat bahwa pertanian adalah untuk kehidupan. Kehidupan kita sekarang dan tentu kehidupan anak cucu kita kelak. Tentu kita tidak hanya menjalankan usaha tani untuk kehidupan sekarang saja tanpa memikirkan bagaimana anak cucu kita memperoleh makanan dan gizi untuk pertumbuhan, kesehatan, kekuatan dan kecerdasan mereka. Kita sehat salah satu factor penentu terbesarnya karena memakan makanan yang cukup dan sehat pula. Untuk memperoleh makan sehat, kita harus mengupayakan setiap tahap dalam proses produksi pertanian yang sehat dan cukup.

Hilangnya kedaulatan pangan

Kebutuhan pangan merupakan persoalan penting yang tak bisa ditawar bagi kehidupan manusia. Dan kebutuhan pangan tersebut dapat dipenuhi dengan pengelolaan pertanian secara bijaksana. Hendaknya disadari oleh semua pihak bahwa pertanian merupakan sektor yang vital dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional, terlebih di saat bangsa kita menghadapi berbagai krisis pangan dan krisis-krisis yang lain seperti sekarang ini. Artinya pertanian pangan menjadi big point yang menuntut kepedulian banyak pihak untuk menghasilkan pangan yang sehat dalam jumlah yang cukup.

Dahulu petani mampu mengupayakan penyediaan benih sendiri setiap musim tanam. Petani memiliki kemandirian dan kebebasan menentukan jenis benih yang akan ditanamnya tanpa intervensi pihak lain. Petani dapat menyediakan sendiri pupuk dari limbah panen dan kandang ternak. Tetapi setelah masuknya modernisasi pertanian yang diikuti dengan propaganda bermacam-macam jenis pupuk dan pestisida kimia serta monopoli industri perbenihan dari perusahaan transnasional dari negara-negara maju, petani Indonesia kehilangan kedaulatannya sebagai produsen pangan paling potensial. Petani harus menurut kepada aturan-aturan aneh menguasainya seperti harus menggunakan benih, pupuk dan pestisida tertentu dan harus diperoleh di tempat tertentu. Lama-kelamaan petani tidak terbiasa lagi memproduksi benih lokal. Dan kenyataan yang sangat mencengangkan adalah hilangnya 8000 varietas padi lokal Indonesia yang sekarang dimiliki oleh Amerika. (Anggawedhaswhara, 2006). Bagaimana itu terjadi? Apakah kita yang kurang memperhatikan harta berharga milik kita hingga orang lain dengan mudah mengambilnya. Selayaknya kini kita mulai menyadari hal itu untuk tidak membiarkannya berlanjut.

Teknologi bukan monopoli laboratorium atau gaya hidup serba modern saja. Kearifan lokal dan keharmonisan alam juga merupakan hasil teknologi para makhluk yang mencintai alam dan umat manusia. Penemuan-penemuan baru hasil teknologi patut kita syukuri dan kita nikmati karena teknologi juga merupakan hasil upaya dan pemikiran yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Namun bila teknologi telah mematikan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri maka bencanalah yang akan dituai di akhir nanti. Hilangnya kedaulatan petani atas produk pangan juga mempercepat datangnya bencana tersebut.

Ketahanan Pangan

Ketahanan pangan merupakan tantangan besar di era industri sekarang ini. Ketika manusia mulai enggan menyentuh sektor-sektor pangan untuk memenuhi kebutuhan pokok, saat itulah krisis pangan mengancam kita. Namun pada kenyataannya ada yang lebih berbahaya daripada sekedar keengganan itu. Ketika sektor-sektor pertanian dieksploitasi untuk mengejar keuntungan semata tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan, saat itulah kehancuran dunia dimulai.

Petani selama ini hanya menjadi robot pemerintah, robot pengusaha benih dan pupuk kimia untuk menghasilkan bahan pangan tanpa kuasa menentukan sikapnya sendiri. Keuntungan terbesar tetap di tangan pengusaha. Sedangkan petani yang menanggung risiko terbesar hanya menjadi “bulan-bulanan” nasib yang diciptakan oleh aktor-aktor politik dan ekonomi di negeri agraris nan kaya ini. Sekuat apapun upaya petani, pihak produsen benih dan pupuk kimia lebih banyak meraup untung. Sebagai contoh benih padi atau jagung yang dipromosikan lewat pemerintah adalah benih padi atau jagung hibrida yang menuntut tersedianya pupuk kimia dalam jumlah besar dan benih tidak dapat diproduksi oleh petani sendiri. Mereka hanya mampu menghasilkan kuintal demi kuintal beras atau jagung kering tanpa dapat menentukan harga per kilogramnya.

Telah lama berlalu sejak runtuhnya kejayaan green revolution baik pemerintah, lembaga-lembaga sosial yang terkait dengan pengembangan pertanian dan petani mulai menyusun banyak program dan kegiatan untuk menyukseskan Pertanian Organik, LEISA (Low External Input for Sustainable Agriculture), pertanian berkelanjutan, pertanian ramah lingkungan dan beberapa istilah dengan konsep yang sama menuju ketahanan pangan yang sekarang ini mulai diprihatinkan banyak orang. Mengapa prihatin? Kondisi pertanian dan petani di Indonesia pada umumnya kini menghadapi tantangan ke depan menuju ketahanan pangan. Tentunya yang dituju adalah ketahan pangan yang sehat.

Tantangan untuk pertanian masa depan di Jawa Tengah

Problema pertanian di Jawa Tengah dengan lahan yang sempit menyulitkan petani untuk bereksperimen mengangkat kearifan lokal dan ramah lingkungan yang di satu sisi untuk ketahanan pangan dan di sisi lain memperoleh laba. Persoalan degradasi lahan kian memperparah kondisi pertanian kita. Padahal pertanian merupakan tumpuan hidup dan tumpuan keuntungan ekonomi petani sekaligus penopang pangan seluruh rakyat. Tak hanya krisis ekonomi yang dirasakan petani namun juga krisis pangan yang dirasakan seluruh bangsa ini ketika lahan pertanian harus tersingkir oleh industrialisasi maupun kepentingan lain.

Petani terancam tak punya lahan karena secara kolektif luas lahan pertanian berkurang dengan beralih fungsi menjadi lahan industri dan pemukiman. Hak paten terhadap aset-aset industri sedemikian gencar diperjuangkan orang. Namun kita belum pernah berpikir, bagaimana memperjuangkan hak paten terhadap lahan pertanian agar tetap pada fungsinya, tidak dialihfungsikan. Bagaimana agar pertanian dapat menjadi aset yang dipertahankan oleh semua pihak, mengingat negara kita adalah negara agraris. Bagaimana agar pertanian dapat menjadi “industri” utama yang tidak hanya dikuasai oleh pengusaha besar tetapi juga petani di desa-desa sehingga posisi tawar menjadi adil bagi semua pihak. Kemudian mengenai lahan-lahan yang tidak produktif, bagaimana kita mengupayakan kesuburannya agar produktif kembali dengan cara yang tidak merugikan alam.

Saat ini petani Jawa Tengah rata-rata hanya memiliki lahan seluas 0,35 hektar dengan hasil padi maksimal hanya 1,5 ton gabah tiap panen rata-rata menjadi 800 kg beras. Bagaimana seorang kepala keluarga petani menghidupi keluarganya dari penghasilan sekecil itu selama 5 – 6 bulan di zaman serba mahal sperti ini? Biaya pangan, sandang, listrik, air, sekolah anak, BBM., dan lain-lain. Padahal petani adalah profesi mulia, namun petani kecil di pedesaan sangat identik dengan kemiskinan.

II. INTI PEMBELAJARAN

Pertanian Lestari untuk Ketahanan Pangan

Dilema antara kerusakan lahan baik akibat peristiwa alam maupun karena ekspoitasi lahan oleh manusia untuk mengatasi krisis pangan merupakan polemik panjang. Masing-masing pihak menempuh caranya sendiri untuk mengejar tujuannya sendiri berdasarkan perhitungan untung-rugi dari perspektif jangka pendek masing masing. Green revolution yang sempat mengantar kita pada terwujudnya swasembada pangan pernah menjadi jawaban, tetapi ternyata belum memuaskan. Justru aplikasinya di lapang banyak merugikan petani maupun konsumen produk pangan.

Issu kenaikan harga BBM yang diikuti dengan kenaikan harga barang lainnya termasuk saprodi pertanian seperti pupuk dan pestisida hendaknya menyadarkan petani untuk memikirkan kembali pola budidaya pertanian yang banyak masukan dari luar (high external input) selama ini. Belum lagi petani kadang diombang-ambingkan dengan kelangkaan pupuk di pasaran yang sering itu terjadi tanpa diketahui penyebabnya, apakah karena ulah produsen untuk menaikkan harga, atau factor politik yang ada di balik semua itu. Sementara petani sudah tergantung pada pupuk tersebut. Berpijak dari hal itu, perlu kesadaran petani untuk melepaskan ketergantungan pada produk-produk pabrik dan mulai berusaha memenuhinya dengan produk-produk buatan sendiri yang berasal dari lingkungan sekitar (local). Di samping itu perlu kesadaran petani bahwa mereka mampu melaksanakan budidaya pertanian untuk memperoleh keuntungan, produk lebih sehat seraya tetap memperhatikan alam.

Pertanian lestari untuk lahan sempit

Pertanian lestari merupakan pilihan bijak untuk menghadapi krisis pangan yang berbenturan langsung dengan kerusakan lingkungan dan degradasi lahan akibat penggunaan pupuk dan pestisida pabrik yang relatif berbahan aktif racun kimia. Kita sering ragu memulai Pertanian Organik (PO)/ Pertanian lestari pada lahan sempit dan terpisah-pisah. Memang idealnya PO diterapkan pada satu hamparan luas sehingga memperkecil kontaminasi dengan input luar dari lahan sekitarnya. Namun kondisi nyata di Jawa Tengah sangat sulit menemukan lahan hamparan luas yang dimiliki satu orang.

Menghadapi hal itu, yang dapat kita lakukan adalah : mengorganisir petani-petani berlahan sempit namun berdekatan sehingga membentuk hamparan luas untuk pengembangan PO. Hal itulah yang nantinya akan kita lakukan bersama. Bagaimana mengorganisir petani yang memiliki lahan saling berdekatan untuk dihimpun menjadi satu organisasi dan bersama melaksanakan PO

Penerapan pertanian lestari secara subsisten

Di samping alternatif di atas, pertanian lestari dapat dimulai dari komunitas terkecil yaitu keluarga. Pertanian lestari berbasis keluarga yang dilakukan di pekarangan rumah dengan tanaman penyangga kebutuhan dapur sekaligus sebagai arena praktek pupuk dan pestisida organik. Program ini dapat kita mulai melalui ibu-ibu. Peran ibu sangat dibutuhkan sebagai manager untuk menentukan tanaman apa yang dipilih sesuai kebutuhan dapur dan pemeliharaannya dapat dilakukan di sela kegiatan rumah tangga. Alternatif ini lebih mudah diterapkan dan biaya rendah (low cost farming) dan sifatnya relatif berkelanjutan (sustainable) karena tidak memperhitungkan kurun waktu tertentu seperti dalam sebuah kelompok.

Gambar 3. Pertanian lahan sempit di pekarangan rumah atau rumah kaca

Selain itu mengingat hasil panennya akan dinikmati keluarga sendiri, kecil kemungkinan terjadi manipulasi hasil seperti penggunaan pestisida atau pupuk berlebihan untuk mendongkrak panen seperti kalau akan dijual. Seorang ibu tentu sayang pada keluarganya sehingga akan memberikan makanan terbaik untuk orang-orang yang dicintainya. Program ini membutuhkan beberapa informasi sebagai bentuk penyadaran untuk ibu-ibu akan bahaya racun pestisida dan residu pupuk kimia. Ada beberapa sumber informasi yang dapat kita peroleh dari berbagai referensi baik buku, bulettin, ataupun mengundhuh dari internet.

Setelah kelompok masyarakat memahami maka akan lebih mudah meneruskan langkah-langkah berikutnya.

Pertanian lestari merupakan langkah yang realistis dilaksanakan di desa dampingan Trukajaya maupun beberapa desa yang bermitra dengan Trukajaya baik secara langsung maupun dalam jejaring PO di mana Trukajaya terlibat di dalamnya. Sebenarnya teknis pertanian lestari itu itu sendiri bukan hal baru untuk petani. Petani-petani pada masa dahulu telah menerapkan pola budidaya pertanian yang ramah lingkungan sebelum diproduksi berbagai jenis pupuk dan pestisida kimia. Mereka menggunakan sisa-sisa panen dan kotoran ternak untuk memupuk tanaman. Dengan coba-coba pula mereka menemukan jenis-jenis tanaman untuk mengusir hama dan penyakit. Secara prinsip langkah baru itulah yang mestinya dimulai lagi di masa sekarang dengan kondisi pertanian yang demikian sarat dengan masukan bahan kimia.

Untuk itu, kami tim pengembangan pertanian lestari Trukajaya bermaksud mengajak semua pihak yang peduli dan memiliki visi dan misi keberlanjutan terhadap kondisi pertanian dan lingkungan desa-desa dampingan Trukajaya serta lembaga mitra untuk menjadi fasilitator membantu langsung ataupun mendukung pengembangan pertanian lestari. Bantuan atau dukungan itu dapat dalam bentuk memberi penyadaran kepada petani tentang pentingnya pertanian berbasis potensi local, serta mengorganisir beberapa pelatihan dan praktek maupun membantu penerapan langsung pertanian lestari di lapang.

III. METODOLOGI

Tujuan Umum Program Pengembangan Pertanian Lestari di Trukajaya

  1. Mengembalikan kepercayaan diri petani bahwa mereka mampu menjalankan kegiatan pertanian berbasis potensi lokal, pengetahuan dan pengalaman petani di masa lalu serta memperhatikan kelestarian alam untuk menghasilkan produk pangan yang sehat dan berkualitas.
  2. Membuka wawasan petani dalam menghadapi dampak globalisasi, issu krisis pangan, dan krisis lingkungan
  3. Memperkenalkan konsep pertanian lestari/ ramah lingkungan sebagai bentuk pengelolaan pertanian berbiaya rendah (low cost farming) kepada petani dan kelompok masyarakat yang konsen pada pembangunan pertanian lokal, untuk kebutuhan keluarga petani sendiri (subsistence).
  4. Mengembangkan sistem budidaya pertanian yang berkelanjutan, ramah lingkungan, mandiri dan memberdayakan petani sebagai penguasa produk pangan.
  5. Mengembangkan pengorganisasian dan pembentukan jaringan komunitas PO dalam rangka menggalang kekuatan untuk menyikapi skenario neoliberalisme dan monopoli pasar global yang telah merugikan petani kecil di Indonesia.

Tujuan Khusus

1. Fasilitator memahami arti penting kepercaayan diri petani sebagai modal awal untuk pengembangan pertanian lestari yang partisipatif dan pemberdayakan masyarakat desa

2. Fasilitator mampu menyampaikan gambaran umum kondisi pertanian yang terkait dengan dampak globalisasi serta tantangan menghadapi krisis pangan dan lingkungan

3. Fasilitator mampu menguasai tahap-tahap pengembangan pertanian lestari dan penyusunan programnya dengan teknik fasilitasi yang partisipatif

4. Fasilitator dapat mengajak petani mengaplikasikan sistem pertanian ramah lingkungan secara subsisten pada lahan sempit (dan skala besar, bila memungkinkan)

Sasaran program

1. Petani atau kelompok-kelompok tani dampingan Trukajaya di desa-desa dampingan Trukajaya masing-masing bersedia mengorganisir kelompoknya mengembangkan pertanian lestari sedemikian rupa sehingga lahan mereka membentuk suatu hamparan (tidak terpisah-pisah).

2. Kelompok masyarakat di luar dampingan Trukajaya yang berpotensi mengembangkan pertanian lestari di lingkungannya (kelompok tani, kelompok pengairan, komunitas pemerhati bidang pertanian dari berbagai latar belakang SARA, kelompok dasa wisma ibu-ibu, karang taruna, remaja dan kelompok-kelompok lainnya) bersedia menjadi fasilitator lokal atau petani pemandu program pertanian lestari di daerahnya.

Waktu

Perintisan program ini secara keseluruhan membutuhkan waktu minimal 1 tahun

  1. Diskusi Reguler bulanan atau 2 bulanan tiap desa dengan materi-materi : dampak globalisasi di bidang pertanian, tinjauan ekobiofisiologis dan ekonomis PO
  2. Pembentukan organisasi/ kelompok tani PO dan tindak lanjutnya berupa pembentukan jaringan petani PO baik berdasarkan konsen di bidang ekonomi, sosial dan ekologis, berdasarkan jarak secara`geografis, baik berkaitan dengan latar belakang SARA maupun tanpa batasan SARA. Kegiatan ini umumnya memerlukan waktu 2 – 4 bulan di awal program.
  3. Demplot budidaya PO membutuhkan waktu 6-12 bulan (jika diperlukan).

Metode

  1. Petemuan kelompok (Brainstorming/curah pendapat ataupun diskusi kelompok)
  2. Pengamatan
  3. Wawancara
  4. Penyampaian materi
  5. Praktek/ demplot budidaya tanaman, pembuatan pupuk dan pestisida organik
  6. Pendokumentasian

Gambar 4. Diskusi kelompok tani bersama PPL dan insan tani

Gambar 5. Demplot kebun organik tumpang sari


Metode-metode di atas biasa digunakan oleh fasilitator masyarakat. Fasilitator dapat mengikuti pertemuan-pertemuan kelompok ataupun pertemuan rutin lingkungan yang sudah ada (RT, RW, dasa wisma, kelompok tani, pengajian, pemahaman Alkitab di gereja, pertemuan karang taruna, dll).

Pengamatan dapat dilakukan setiap saat diperlukan baik oleh fasilitator sendiri maupun bersama kelompok tani/ kelompok sasaran. Setiap hasil pengamatan hendaknya dicatat dan didokumentasikan dengan baik. Bila ada pengamatan yang perlu menggunakan peralatan tertentu, penggunaan peralatan sebaiknya dipelajari dan disiapkan sebelumnya.

Bila diperlukan dapat dilakukan wawancara untuk memperoleh beberapa data awal maupun proses sampai dengan akhir kegiatan. Wawancara dapat dilakukan secara fleksibel baik waktu maupun tempatnya namun diusahakan tidak mengganggu waktu aktivitas calon responden yang akan diwawancarai. Meskipun sederhana, teknis wawancara harus juga disiapkan dengan matang agar hasilnya lengkap dan tidak ada informasi yang tertinggal.

Penyampaian materi dilakukan dengan partisipatif dua arah. Hal ini pun perlu disiapkan dengan baik, mungkin perlu menggunakan media-media tertentu dalam presentasi agar penjelasan fasilitator dapat dipahami oleh kelompok sasaran.

Praktek dan demplot merupakan acara penting bagi petani sebagai sarana belajar langsung di lapang. Sebaiknya waktu ini dimanfaatkan semaksimal mungkin agar benar-benar dapat menambah pengertian, pengetahuan dan keterampilan petani dalam menerapkan pertanian lestari.

Gambar 6. Sayuran organik dari kebun sendiri

Pendokumentasian menjadi satu bagian dengan keseluruhan metode di atas. Dokumentasi harus menggambarkan kenyataan dalam proses belajar itu. Dokumentasi tidak sekadar untuk kepentingan bukti bahwa kegiatan itu telah dilaksanakan saja namun lebih penting dari itu dokumentasi dapat digunakan sebagai alat evaluasi dan sarana diskusi dan belajar di waktu-waktu selanjutnya sehingga keterampilan dalam pertanian lestari terus meningkat dari waktu ke waktu.

Alat uji

Secara umum fasilitator bertanggung jawab melaksanakan hal-hal berikut :

1. Persuasi kepada masyarakat tentang pengembangan pertanian lestari untuk ketahanan pangan dan melepaskan ketergantungan petani terhadap input kimia dalam kegiatan pertanian.

2. Mengorganisir terbentuknya kelompok tani baru atau mengorganisir kegiatan kelompok tani lama mengembangkan PO

Program ini dikatakan berhasil jika memenuhi kriteria berikut ini :

  1. Terdapat minimal 60% dari setiap anggota kelompok di masing-masing desa yang memahami arti penting pengembangan PO dan 10 % dari jumlah tersebut bersedia menjadi petani pemandu dalam pengembangan PO di desanya.
  2. Terbentuknya demplot tanaman organik minimal 1 demplot di tiap desa dan petani setempat bersedia berswadaya dalam pembuatan demplot tersebut
  3. Petani/ kelompok tani dapat menyusun rencana kegiatan program PO secara partisipatif untuk diterapkan pada musim berikutnya.

IV. PRINSIP KERJA

Prinsip partisipatif

Prinsip partisipatif mutlak diperlukan dalam pengembangan pertanian ramah lingkungan di desa. Mengapa? Karena dengan meninggalkan prinsip partisipatif, masyarakat hanya menjadi penonton bahkan bagian dari obyek kegiatan itu. Lantas, tujuan pengembangan pertanian untuk kedaulatan dan ketahanan pangan tak dijamin bakal nyambung dengan kenyataannya.

Prinsip partisipatif menjadi jiwa dari seluruh program ini. Sehingga di awal fasilitator berhadapan dengan petani atau masyarakat, sangat tidak tepat kalau langsung menyampaikan konsep-konsep pertanian organik/ pertanian lestari secara menggurui atau menganggap petani/ kelompok sasaran tidak tahu dan fasilitator yang lebih tahu. Akan lebih bijak jika fasilitator mulai dengan memberi kesempatan petani menceritakan pengalaman mereka, kemudian fasilitator dan petani mencari pola pembelajaran bersama tentang apa harapan dari proses belajar ini, apa cara yang ditempuh untuk mencapainya, apa saja yang dibutuhkan, bagaimana aturan mainnya, dan sebagainya.

Kalau petani merespon positif diskusi tersebut, fasilitator dapat mengajak mereka untuk masuk dalam proses selanjutnya, yaitu pengorganisasian dan Rencana Tindak Lanjut (RTL) atau Rencana Aksinya.

Sangat penting bagi fasilitator untuk menghargai setiap pendapat, peran dan kontribusi apapun dari setiap petani dalam setiap kegiatan. Fasilitator hendaknya juga jeli membaca situasi ataupun menangkap beberapa potensi yang ada. Akan lebih baik kalau sebelum program dijalankan fasilitator telah mengenal latar belakang peserta. Namun ada kalanya sebagai orang luar, fasilitator tidak banyak mengetahui latar belakang peserta/ petani sehingga terjebak melakukan kesalahan besar ketika fasilitator menempatkan diri sebagai satu-satunya sumber informasi dan menganggap semua petani tersebut memiliki pengetahuan yang sama. Dalam suatu komunitas masa kini tak terkecuali komunitas petani, tak jarang terdapat sumber daya manusia yang handal baik secara formal maupun non formal seperti : latar belakang pendidikan pertanian atau seorang petugas penyuluh pertanian. Fasilitator hendaknya dapat ”nguwongke” orang tersebut, meski bukan berarti mengabaikan peserta yang lain. Nguwongke dapat diwujudkan dengan meminta pendapat beliau dalam diskusi atau jika beliau bersedia, fasilitator tak perlu menutup diri untuk melibatkannya dalam program ini.

Gambar 7. Membuat kompos jerami

Selain itu, hal teknis dalam dunia pertanian sebenarnya sudah sangat dikuasai petani, karena petani sendiri sejatinya adalah profesor tani (istilah yang dipopulerkan oleh Sukamto, seorang petani yang nyambi PNS sebagai guru SMP) yang telah belajar puluhan tahun dan melakukan penelitian, melalui berbagai kegagalan dan keberhasilan. Soal bagaimana mencangkul, menanam, memupuk bukan hal yang perlu diperdebatkan. Justru yang terpenting membuka wawasan petani (profesor tani) untuk berani membuat sebuah gerakan tani yang mengedepankan kemandirian dan kreativitas dalam profesinya yang sungguh mulia tersebut.

Semua itu dilakukan dengan metode pembelajaran orang dewasa (andragogi) yang lebih banyak memberi kesempatan peserta (petani dan kelompok masyarakat) berperan aktif menyampaikan ide, mempraktekkan, menganalisa, memonitoring, mengevaluasi dan memimpin kegiatan. Pada intinya fasilitator harus menempatkan diri pada posisi yang sejajar dengan petani atau kelompok sasaran namun fasilitator haruslah tetap mengendalikan seluruh proses belajar.

Strategi Pengorganisasian

Suatu strategi dengan nama tertentu yang diadopsi dari luar wilayah tidak selalu dapat diterapkan secara persis di tempat lain. Fasilitator bebas berkreasi untuk menciptakan strategi yang paling sesuai sebagai pintu masuk dan proses pengembangan PO selama masih dalam koridor yang tidak bertentangan dengan tujuan besar program pengembangan pertanian. Strategi berikut dapat diterapkan dalam menghadapi 2 tingkatan komunitas petani.

I. Strategi pengorganisasian awal

Persiapan sosial

Sebelum memasuki suatu komunitas sosial, seorang fasilitator perlu melakukan persiapan sosial. Kira-kira apa saja yang harus dilakukan dalam tahap ini?

Perkenalan

Awal ketika masuk ke lingkungan manapun, perkenalan merupakan hal nampaknya begitu sederhana namun justru itu awal yang sangat penting dan menentukan langkah-langkah selanjutnya. Dalam perkenalan fasilitator dapat mengatur sendiri seberapa banyak informasi yang ingin disampaikan tentang identitas diri kepada orang yang diajak bicara. Kalau mereka sudah tahu nama fasilitator karena merupakan orang lokal, tentu yang dimaksud adalah perkenalan dalam arti luas menyangkut niatnya mengapa ingin memfasilitasi masyarakat dalam program pertanian lestari, apakah memiliki ide tertentu dalam penerapan pertanian lestari tersebut atau niat fasilitator ingin mengajak kelompok sasaran untuk bersama-sama menapaki tahap demi tahap kegiatan pertanian lestari tersebut. Kalau mereka sudah mengerti tentang perkenalan diri fasilitator serta maksud dan tujuannya, tentu komunikasi selanjutnya antara sang fasilitator dengan kelompok sasaran tidak akan menemui kesulitan yang berarti.

Orientasi dan identifikasi kondisi pertanian

Banyak faktor yang harus diketahui oleh seorang fasilitator dalam pengembangan pertanian di suatu wilayah desa. Tak sekedar teknis bahwa pembuatan kompos, pestisida nabati dan budidaya suatu tanaman itu akan dimulai kapan, bagaimana, oleh siapa dan akan dimulai dari mana tetapi hal yang tak kalah penting adalah mengetahui latar belakangnya: siapa stake holder (tokoh yang berpengaruh), apa masalah yang dirasakan oleh petani, solusi apa yang telah dilakukan oleh para stake holder terhadap masalah tersebut, bagaimana hasilnya saat ini, dsb.

Selain itu mungkin diperlukan juga identifikasi kondisi sosial-ekonomi masyarakat desa terutama kelompok sasaran. Karena sosial ekonomi tersebut erat kaitannya dengan respon dan dukungan serta kesediaan mereka menerima konsep pertanian organik dalam usaha taninya. Selain itu berpengaruh juga pada kemampuan mereka mengajak pihak luar di sekitarnya untuk terlibat.

Analisis Sosial

Analisis sosial selalu menjadi perhatian penting dalam bekerja bersama masyarakat. Permasalahan yang sesungguhnya tidak selalu sama persis dengan kondisi yang tampak dari luar. Sehingga dibutuhkan kemampuan seorang fasilitator masyarakat untuk menganalisis permasalahan atau kepentingan-kepentingan di balik kondisi yang tampak dari luar itu. Misal pertanian high input dan high cost nampaknya membawa hasil yang memuaskan dari sisi kuantitas produksi. Petani sejahtera secara ekonomi dalam jangka pendek. Namun dibalik itu ternyata banyak penyakit aneh bermunculan akibat penggunaan pestisida dan pupuk kimia. Petani terlanjur merasakan kesejahteraan ekonomi namun kesehatan keluarga tidak terjamin. Pihak-pihak tertentu sebenarnya merasakan keuntungan karena ketergantungan terhadap sarana produksi (saprodi) pertanian yang dimonopoli pihak tertentu di desa itu.

Perlu analisis tentang mengapa petani cenderung menggunakan pupuk dan pestisida kimia secara berlebihan. Apakah hanya karena alasan praktis di lapang ataukah ada faktor lain yang belum terungkap. Seorang fasilitator haruslah mampu menganalisis semua itu.

Penyadaran tentang kondisi pertanian lokal, nasional dan global

Setelah kita diterima dan menyatu dengan kelompok masyarakat tersebut, maka kita mulai dapat menyampaikan beberapa issue yang berkaitan dengan pertanian. Kondisi pertanian high input dan high cost menuai hasil yang banyak merugikan petani dan masyarakat umum. Kita dapat menampilkan kondisi itu dalam bentuk gambar, foto, film, ataupun media-media informasi lainnya untuk menggugah kesadaran petani tentang pertanian yang tidak berpihak pada alam. Soal-soal globalisasi, neoliberalisme dan pasar bebas bukan lagi menjadi issu keprihatinan di tingkat nasional ataupun global tetapi sudah langsung menyentuh ke lokal petani, sehingga persoalan itu hendaknya dipahami secara komprehensif oleh setiap petani dampingan kita. Lemahnya kebijakan nasional akibat perangkap IMF, Bank Dunia dan WTO kian memperparah keterpurukan kondisi pertanian Indonesia.

Tumbuhnya kesadaran di tingkat petani akan kondisi buruk bidang pertanian kita, diharapkan memunculkan suatu gerakan yang kuat secara fundamental dalam menyukseskan pertanian organik.

Pembangunan nilai-nilai partisipatif dan kesukarelaan

Seperti telah dijelaskan di atas, partisipatif merupakan keharusan dalam pembangunan. Ibaratnya meninggalkan nilai partisipatif itu haram hukumnya. Intinya adalah keterlibatan masyarakat sebagai pemilik wilayah baik dalam ide, perencanaan, pelaksanaan sampai evaluasi dan keberlanjutan pengembangan pertanian lestari itu. Itulah nilai partisipatif.

Sedangkan nilai kesukarelaan mengikuti di belakangnya sebagai sebuah konsekuensi logis. Apapun bentuk kontribusi masyarakat kecil maupun besar akan menumbuhkan rasa memiliki terhadap program pengembangan pertanian lestari sehingga masyarakat akan menjaga betul apa yang menjadi miliknya itu.

Membangun nilai partisipatif itu bukan perkara mudah. Diperlukan kerja keras, kesabaran dan komitmen yang kuat dari seorang fasilitator. Upaya sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan menjadi contoh, bukan saja memberi contoh. Apa yang dilakukan seorang fasilitator sangat menentukan hasil akhir nilai-nilai yang terbentuk dalam masyarakat termasuk nilai partisipatif dan kesukarelaan.

Strategi pengorganisasian lanjut

Penyadaran tentang kondisi pertanian

Berangkat dari beberapa keprihatinan dan issu-issu global hingga, fasilitator hendaknya dapat menjelaskan semua latar belakang kondisi pertanian hingga Setelah itu fasilitator dapat menyampaikan beberapa gambaran kondisi pertanian dengan segala konspirasi bisnis yang menggurita. Fasilitator hendaknya mampu menyampaikan informasi-informasi dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami bahwa kondisi tersebut mutlak harus diketahui oleh petani, bukan hanya konsumsi para politikus dan negarawan saja. Mengapa? Karena petani adalah pihak yang paling rentan dalam menghadapai tekanan globalisasi (Anonim, 2008).

Setelah itu kita beri kesempatan masing-masing orang untuk menyampaikan tanggapan terhadap issue tersebut dan didiskusikan bersama. Diskusi harus tetap dikendalikan agar tidak melebar dan berlarut-larut waktunya. Bila terjadi banyak permasalahan yang belum terbahas, fasilitator dapat mengusulkan agar masalah tersebut diagendakan pada pertemuan berikutnya. Sehingga petani atau semua anggota komunitas selalu memiliki rasa ingin belajar lebih dalam dan selalu bersemangat dalam setiap diskusi. Di sinilah titik rawan sebuah program. Jangan sampai fasilitator membiarkan semangat petani menjadi kendor ataupun berhenti sampai di situ. Fasilitator harus mampu menjaga/ mempertahankan semangat petani untuk mempelajari pertanian lestari karena pertanian lestari merupakan program panjang, banyak hal harus dipelajari dan dikuasai oleh petani.

Menyikapi respon petani

Dari beberapa diskusi dan pertemuan, kalau petani sepakat mengembangkan pertanian lestari, maka akan muncul langkah berikutnya yaitu penyusunan RTL dan rencana aksi. Di situlah langkah nyata pengembangan pertanian lestari dimulai. Namun bisa jadi masyarakat/ petani menolak semua konsep yang ditawarkan, artinya program berhenti sampai di situ. Kalau menghadapi hal demikian, fasilitator tidak diperkenankan memaksakan program harus berlanjut. Perlu evaluasi internal fasilitator terhadap langkah-langkah yang telah dijalankan. Mungkin perlu beberapa perbaikan penting ke depan untuk kembali memfasilitasi program pertanian lestari. Atau ditemukan beberapa faktor luar yang menjadi kendala. Semua hasil evaluasi internal dianalisa dan dibuat kesimpulan untuk membuat keputusan ke depan. Kuncinya : tidak pernah menyerah tetapi tidak juga memaksakan diri. Memang itu sulit, tetapi di situlah seninya mengembangkan masyarakat.

V. LANGKAH-LANGKAH

Langkah-langkah pengembangan pertanian lestari/ ramah lingkungan

1.Survei

Survei merupakan sarana untuk mengamati kondisi awal sebelum pengembangan pertanian lestari dilaksanakan. Survei dapat meliputi survei kondisi umum desa, karakterisktik desa, sosial –ekonomi masyarakat petani, komoditas potensial, sampai dengan survei ke pihak-pihak lain seperti pemerintah desa, dinas pertanian setempat tentang prospek pengembangan pertanian lestari di desa ke depan. Survei ini dapat dilakukan sendiri oleh perwakilan masyarakat bersama fasilitator desa ataupun dengan bantuan ahli tergantung kondisi dan kesepakatan warga. Dapat dilengkapi dengan peta/ gambar atau foto kondisi pertanian. Data yang diperoleh sangat penting untuk menyusun analisa dan rencana selanjutnya. Hasil survei awal ini akan terus digunakan dalam program pengembangan pertanian.

2. Analisa Hasil Survei

Analisa data hasil survei baik tentang jenis komoditas potensial, keunggulan komparatif desa maupun penentuan target awal berapa petani atau kelompok tani yang akan dilibatkan pada awal program pengembangan pertanian ini. Karena dari hasil survei bisa jadi diputuskan bahwa semua petani di desa akan dilibatkan secara serentak, namun bisa jadi dikerjakan mulai dari sebagian kecil lebih dulu, sedangkan bagian lain dilibatkan pada waktu-waktu yang akan datang (bertahap). Analisa hasil survei dapat dilakukan sendiri saat pertemuan warga maupun oleh ahli yang ditunjuk.

3. Pemetaan kondisi pertanian

Pemetaan kondisi pertanian meliputi pemetaan masalah, tujuan, stake holder (pihak-pihak yang berpengaruh) dan pemetaan potensi. Dapat ditambah pemetaan yang lain menurut kebutuhan. Hal itu dapat dilakukan dengan berbagai bentuk kegiatan seperti pengamatan lapang, maupun melakukan PRA dengan berbagai metodenya. Tidak menutup kemungkinan jika kelompok menemukan suatu metode yang paling sesuai, maka itu dapat dijalankan.

Sebagai contoh, hal-hal yang mungkin dapat didiskusikan : (i) Mengapa pertanian dengan banyak masukan bahan kimia dikembangkan dengan begitu gencar ? (ii) Bagaimana cara menerapkan budidaya pertanian tanpa merusak lingkungan ? (iii) Siapa saja/ pihak-pihak mana saja yang dapat mendukung gerakan pertanian ramah lingkungan?

Tujuan yang ingin dicapai dalam diskusi adalah (i) untuk mengetahui sampai seberapa jauh penggunaan input kimia oleh para petani di desa dampingan Trukajaya. (ii) untuk mengetahui sistem budidaya pertanian ramah lingkungan yang dapat diterapkan secara lokal di desa (iii) untuk mengetahui kondisi pertanian masa depan di desa tersebut serta hal-hal yang berhubungan dengan pengelolaannya (iv) untuk mengetahui beberapa kemungkinan yang dapat digunakan dalam penyusunan RTL (Rencana Tindak Lanjut) dan rencana aksi kegiatan pertanian lestari baik jangka menengah maupun jangka panjang.

4. Perencanaan program

Perencanaan kegiatan disusun oleh kelompok sasaran baik itu kelompok tani, paguyuban tani masji atau gereja, ibu-ibu maupun pemuda/ remaja bersama fasilitator, tokoh masyarakat, kalau perlu perangkat desa dan ahli yang ditunjuk (kalau ada). Perencanaan meliputi : 1) kegiatan apa saja yang akan dilakukan (mulai dari pertemuan kelompok tani, diskusi tentang pertanian lestari, demplot pupuk organik, demplot budidaya padi atau sayuran organik, praktek membuat pestisida ramah lingkungan, kemudian panen, processing hasil panen, penyimpanan dan mungkin sampai dengan pemasaran), 2) Dari hasil survei, dapat dihitung biaya yang dibutuhkan untuk semua kegiatan tersebut dan dari mana biaya itu diperoleh. Untuk semua itu bahan-bahan dan peralatan apa saja yang dibutuhkan serta seberapa banyak/ besar volumenya. Berapa pupuk kandang dan bahan-bahan lainnya yang dibutuhkan dalam demplot itu dan 3) bagaimana cara mencukupinya, apakah masing-masing orang berswadaya atau membeli atau dengan cara lain, semuanya direncanakan sehingga seluruh kebutuhan untuk demplot ini dapat tercukupi.

Anggaran dapat disusun bersama dalam perencanaan. Selain itu dari hasil survei dan perhitungan anggaran dapat direncanakan apakah bahan-bahan dan alat tadi harus diperoleh dengan cara membeli atau dapat dipikirkan kemungkinan tidak harus membeli tetapi membuat sendiri atau mengumpulkan material baik sebagian maupun seluruhnya yang ada di sekitar lokasi secara bergotong-royong sehingga dapat menghemat biaya sekaligus merupakan wujud partisipasi masyarakat. Semua itu harus dibahas dalam perencanaan yang disusun oleh semua unsur kelompok sasaran.

Dalam perencanaan ini tentunya dapat sekaligus dilakukan pembentukan kelompok dan penamaan kelompok tersebut kemudian disusun kepengurusannya. Calon petani pemandu dilibatkan langsung mulai dari ketua, bendahara, seksi usaha dana, seksi budidaya, perlakuan pasca panen, pemasaran, dan lain-lain sesuai kebutuhan. Organisasi ini sebagai sarana koordinasi untuk memudahkan teknis kegiatan dan pelaporan hasil nantinya. Siapa yang menjadi pengurus, dapat dimusyawarahkan dalam forum pertemuan kelompok tersebut. Secara sederhana dapat dibuat kriteria misalnya : dapat membaca dan menulis, jujur, memiliki niat yang kuat untuk membangun desa, rela berkorban dan sanggup bekerja keras, dan lain sebagainya dapat ditambahkan kriteria-kriteria lain sesuai kebutuhan dalam pengembangan pertanian lestari di desa.

Penyusunan kepengurusan tersebut tentunya sekaligus dengan penjelasan tugas masing-masing pengurus dan pembagian beban kerja untuk memperjelas pekerjaan masing-masing unsur dalam kepengurusan.

Selain itu dapat pula dilanjutkan dengan penyusunan jadual kegiatan pengembangan pertanian lestari. Jadual tersebut memudahkan pengurus dalam bekerja nantinya agar tidak banyak terjadi penumpukan beban kerja pada waktu tertentu sehingga kegiatan pertanian lestari dapat diselesaikan pada waktu yang ditentukan.

Kemudian siapa pelaksana program pertanian lestari itu? Idealnya program ini dilaksanakan oleh petani sendiri atau kelompok sasaran bila perlu melibatkan ahli dari dinas pertanian setempat, hal ini dapat dibahas dan diputuskan sesuai kebutuhan, kemampuan masyarakat dan anggaran yang ada. Hal-hal lain yang perlu ditambahkan dalam perencanaan dapat ditambahkan sendiri oleh fasilitator.

5. Pelaksanaan

Meskipun dilakukan secara bersama-sama, pelaksanaan setiap kegiatan dipimpin atau dikoordinasi oleh pengurus yang telah ditunjuk. Perlu diperhatikan bahwa pengurus tersebut merupakan wakil masyarakat petani atau kelompok sasaran, hasil keputusan bersama untuk mengemban tanggung jawab dalam pengembangan pertanian lestari. Untuk itu harus didukung dan diberi kepercayaan penuh dan wewenang dari semua pihak di lingkungan tersebut baik masyarakat, tokoh masyarakat maupun lembaga desa yang ada untuk melaksanakan pengembangan pertanian lestari. Tanpa itu, pekerjaan pengurus menjadi berat.

Setelah program terlaksana seluruhnya, atau di luar program kelompok ini, kalau petani ingin mencoba/ berlatih menerapkan pertanian lestari dalam usaha taninya sendiri-sendiri itu akan lebih baik. Karena justru itulah tujuan akhir dari pertanian lestari.

6. Monitoring

Monitoring dapat dilakukan oleh pengurus bersama kelompok tani atau kelompok sasaran. Apa saja yang perlu dimonitoring dan apa tujuan monitoring? Kadang pelaksanaan di lapang tidak dapat berjalan kembar dengan perencanaan yang kita susun di awal. Monitoring dilakukan untuk memastikan bahwa pelaksanaan tidak terlalu jauh menyimpang dari rencana yang disusun. Misal anggaran yang terkumpul belum cukup untuk membeli bahan dan alat pada waktu yang ditentukan, sehingga pembelian benih mengalami kemunduran 1 minggu, atau pembelian pupuk kandang mengalami pembengkakan anggaran karena kenaikan harga, dan contoh-contoh lainnya. Kalaupun terjadi penyimpangan, dalam monitoring dapat dijelaskan penyebabnya dan upaya yang ditempuh untuk meneruskan kegiatan. Monitoring dapat dilakukan setiap waktu misalnya setiap minggu atau seminggu 2 kali atau bahkan setiap hari dilakukan monitoring sampai kegiatan berakhir. Data hasil monitoring digunakan untuk evaluasi.

Adapun peran fasilitator di sini sebagai pengamat dan pengarah langkah awal monitoring. Hasil monitoring dipastikan terdokumentasi dengan baik dan dapat dilaporkan secara berkala. Setelah pengurus dan kelompok tani memahami dan mampu melaksanakan monitoring sendiri, peran fasilitator hendaknya dikurangi bahkan ditiadakan agar masyarakat tidak tergantung pada fasilitator.

7. Evaluasi

Evaluasi adalah menilai dan melihat ulang semua tahap kegiatan melalui data hasil monitoring. Evaluasi dapat dilakukan setelah kegiatan berakhir. Evaluasi meliputi semua hal yang dijalankan mulai survei awal hingga monitoring. Tujuan dari evaluasi adalah menilai apakah rencana kegiatan pertanian lestari yang disusun dapat dilaksanakan untuk mencapai tujuan, apakah pencapaian-pencapaian selama tahap-tahap berlangsung baik sekali, cukup baik atau kurang. Apakah petani dapat menggunakan demplot PO di desanya sebagai arena belajar dan berkreasi untuk kemandirian dan kedaulatan pangan. Dari evaluasi juga dapat direkomendasikan langkah-langkah selanjutnya dan perbaikan kualitas pekerjaan di waktu-waktu selanjutnya baik berkaitan dengan pertanian maupun program lainnya.

8. Pelaporan pencapaian dan hasil kegiatan

Pelaporan dapat dilaksanakan berkala setiap pertemuan RT, RW, dawis, PKK, pengajian, pertemuan gereja ataupun waktu tertentu yang disepakati. Sebaiknya pelaporan secara lengkap dilakukan terbuka dalam forum desa yang dihadiri oleh semua unsur desa sehingga setiap detil kegiatan, anggaran, hasil yang dicapai, dan lain-lain dapat diketahui oleh kelompok tani.

Motode brainstorming dan ice breaking

Pada pertemuan-pertemuan atau diskusi seperti penggalian permasalahan atau rapat evaluasi akhir, agar semua peserta dapat menyampaikan ide dan permasalahan yang dihadapinya, fasilitator dapat memilih cara curah pendapat (brainstorming) yaitu semua peserta diskusi secara bergantian diminta menyampaikan aspirasinya berkaitan dengan pertanian lestari di desa itu. Semua aspirasi ditampung, dicatat oleh fasilitator. Dalam curah pendapat tersebut tidak ada pendapat yang dinyatakan salah atau benar. Semua orang boleh menyampaikan apapun, namun dalam koridor yang jelas, yaitu permasalahan kondisi pertanian di desanya.

Dalam diskusi atau musyawarah baik brainstorming maupun pengambilan keputusan dalam kegiatan pertanian lestari apabila terjadi kejenuhan atau menemui permasalahan yang tidak dapat diambil kesimpulannya (dead lock), fasilitator dapat mengajak peserta diskusi untuk bermain sebentar memecah kebekuan (ice breaking). Diharapkan setelah ice breaking, pikiran peserta menjadi segar kembali, cerah kembali, konsentrasinya pulih dan dapat meneruskan diskusi untuk mengambil keputusan.

Banyak permainan yang dapat dijadikan bahan ice breaking. Sebaiknya permainan tersebut dipilih yang sifatnya santai, namun membangun dan menyadarkan kita untuk memupuk rasa kegotong-royongan, konsentrasi, permainan olah strategi, kepemimpinan dan lain sebagainya yang mendukung nilai-nilai pemberdayaan dan partisipasi masyarakat.

Metode ice breaking ini digunakan mengingat dalam program-program yang banyak membutuhkan pertemuan atau rapat, sering terjadi kejenuhan pada peserta. Namun apabila rapat tetap tidak dapat mengambil keputusan, biasanya rapat dilanjutkan pada waktu lain yang disepakati untuk membahas masalah yang dead lock tadi.

Penutup

Demikian, panduan pendampingan organisasi Pertanian Lestari ini dibuat untuk mendukung kerja fasilitator atau petani pemandu dalam pengembangan pertanian lestari/ramah lingkungan di desa-desa dampingan Trukajaya. Adapun materi penunjang panduan ini akan ditambahkan kemudian. Penyusun sangat membutuhkan masukan dan saran dari fasilitator maupun pihak-pihak yang mempunyai kepedulian pada pengembangan pertanian lestari untuk perbaikan panduan ini.

Bibliografi

Hanani, AR et al. 2003. Strategi Pembangunan Pertanian. Sebuah pemikiran baru. Lappera Pustaka Umum. Yogyakarta. 299 h.

Khudori. 2004. Neoliberalisme menumpas petani. Menyingkap Kejahatan Industri Pangan. Resist Book. Yogyakarta.

Sasanti et al. 2006. Kembalinya hak petani atas benih padi. Serial Pengorganisasian Petani. VECO Indonesia. Denpasar. 102 h

Sutanto, R. 2002. Penerapan Pertanian Organik Pemasyarakatan dan pengembangannya. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. 219 h.

Wahono, F. 2002. Hak-hak asasi petani Proses perumusannya (penyuntingan). Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas. Yogyakarta

Wahono, F et al. . 2004. Kearifan Lokal dan Keanekaragaman Hayati. Pertaruhan Bangsa yang terlupakan. Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas (CPRC). Yogyakarta. 278 h.

Winangun, W. 2005. Membangun Karakter Petani Organik Sukses dalam era Globalisasi (penyuntingan). Penerbit Kanisius. Yogyakarta. 147 h.

Semoga bermanfaat bagi penggunanya.

Salatiga, 25 September 2008

Eunike Widhi Wardhani