Jumat, 17 Juni 2016

Pupuk Bawang


sebuah pembelajaran iman Kristen dari para pejuang


Dalam permainan anak-anak kecil, contohnya jilumpetan (sembunyi-sembunyian), pupuk bawang yang ketahuan, tidak disuruh untuk jaga, dan pupuk bawang tidak bisa mati. Pupuk bawang hanyalah tahapan sementara seorang anak kecil dalam belajar suatu permainan. Pupuk bawang tidak bisa dikenai sanksi, tidak bisa mati tetapi juga tidak dapat mengatur permainan. Pada perkembangannya seorang anak akan memotivasi diri untuk dapat bermain sampai pada tahap tidak lagi menjadi pupuk bawang. Mereka akan menantang  dirinya untuk menerima sanksi/ konsekuensi dalam permainan. Konsekuensi dan sanksi bukanlah petaka menakutkan lagi, tetapi bagian dari tanggung jawab dan komplitnya merasakan dan memahami seluruh proses bermain. Dia akan protes jika “diturunkan” levelnya kembali menjadi pupuk bawang.
Beberapa contoh berikut yang saya ambil dari Alkitab. Daud adalah Maharaja yang dicatat dalam sejarah perkembangan bangsa Israel akan segala prestasi dan kehebatannya membawa kejayaan Israel. Daud pernah melakukan kesalahan, kemudian dia menyesali, mengakuinya dan mohon ampun kepada Tuhan. Tetapi bagi Tuhan pengampunan bukan berarti boleh bebas dari sanksi. Tuhan mengampuni Daud tetapi dengan penuh penyesalan, pertobatan dan tanggung jawab atas dosa-dosanya Daud menerima sanksi dari Tuhan dengan ikhlas. Daud bukan pupuk bawang.
Musa adalah seorang pemimpin besar dengan tugas berat memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir. Musa harus mendidik dan memperbaiki mental  bangsa Israel, umat pilihan Allah tetapi sekaligus sering melakukan pelanggaran itu, untuk menjadi bangsa yang bermental independen dan taat kepadaTuhan. Kalau dihitung sudah berapa banyak effort Musa untuk tugas berat itu. Tetapi sekali saja Musa terpancing kemarahan dan itu mendukakanTuhan, dia harus kena sanksi tidak boleh ikut masuk ke tanah perjanjian. Padahal tanah itulah visi utama perjuangan Musa dan bangsa Israel dalam perjalanannya selama 40 tahun. Meskipun kena sanksi Musa tetap setia kepada Tuhan. Musa bukan pupuk bawang.
Sebagai orang Kristen, kita tahu bahwa setiap orang memikul salibnya sendiri. Paulus memohon agar Tuhan menyingkirkan ”duri dalam daging” (penyakit) yang ada di tubuhnya. Semua orang tahu Yesus adalah tabib penyembuh atas banyak orang yang sakit, bahkan orang mati bisa dihidupkannya jika Dia berkenan. Paulus seorang beriman, salah satu “orang terdekat”nya Tuhan. Tetapi Tuhan memutuskan untuk tidak mengabulkan permohonan itu. Paulus tidak “mutung” lalu menghentikan pelayanannya. Meski penyakitnya itu sangat mengganggu, Paulus tetap memberitakan kasih Tuhan di setiap tempat yang dikunjunginya. Paulus memberi warna tegas dalam sejarah penginjilan di daratan Eropa, Asia dan Afrika. Iman dan kesetiannya sungguh berkualitas juara. Karena Paulus bukan pupuk bawang.
Pupuk bawang belum mengerti fairness dalam pertarungan.  Celakanya jika seseorang sudah dewasa masih berkarakter pupuk bawang dan memiliki kekuasaan mengatur permainan. Contohnya di dalam pekerjaan ia menuntut hak-hak istimewa untuk mendapatkan berbagai fasilitas lebih dari yang lain, sering menyalahgunakan jabatannya dan minta dibebaskan dari sanksi ketika melakukan kesalahan. Meskipun orang pupuk bawang ini terlihat hebat dalam pergaulan sosial tetapi sesungguhnya menjadi beban kawan-kawannya. Dia memanfaatkan kekuasaannya untuk menikmati hasil jerih payah kawan-kawan yang bekerja di bawah sinar matahari dan hujan, untuk hal-hal bersifat pribadi. Bagi si pupuk bawang prosedur hanya berlaku untuk kawan-kawannya, bukan untuk dirinya. Ketika terjadi kekeliruan orang lain, secepat kilat sanksi dijatuhkan, namun bila terjadi pada si pupuk bawang, konsekuensi dan sanksi menjadi tidak berlaku. Pokoknya pupuk bawang selalu “menangan” dan kebal sanksi.
Pupuk bawang dalam permainan saat kita kecil dulu, adalah hal biasa. Tetapi akan sangat mengganggu jika karakter pupuk bawang itu dikembangkan oleh seorang leader/ pemimpin dalam kehidupan nyata (bukan dolanan), baik leader formal maupun informal, atau minimal leader dalam keluarga. Kepemimpinan terlalu sia-sia jika sang pemimpin melewatkan amanah itu dengan metode jadi pupuk bawang.
Orang Kristen dididik oleh Alkitab dan pelajaran hidup untuk menjadi pejuang sejati seperti contohnya Daud, Musa dan Paulus. Itulah sebabnya Yesus pun datang berikutnya mempertegas contoh leadership dengan karakter pejuang sejati, bukan pupuk bawang. Seorang pemimpin sebenarnya beruntung punya kesempatan emas untuk membangun kapasitas dirinya menjadi pejuang sejati seperti Musa, Daud, Paulus dan Yesus.
Hanya belajar dan berlatih terus maka kita dimampukan untuk menjadi pejuang sejati. Karena hidup ini sungguh serius, bukan sebuah permainan yang di dalamnya ada pupuk bawang, karena di mata Tuhan tidak ada pupuk bawang.

Eunike