Sabtu, 22 April 2017

Penyakit Keloidku



Selamat Tinggal Marah

Di sisi lain kehidupan iman, saya pernah terpuruk ke titik paling buruk. 
Kita sebagai manusia hanya bisa menjalani.
Saya terlahir sempurna. Saya dididik dalam ajaran Kristen yang kuat. Ibu saya, Miryam Sani adalah seorang guru agama yang hebat. Setiap mengajar di kelas, semua murid mendengarkan dan menikmati cerita-cerita Alkitab yang dibawakan ibu saya. Semua murid selalu merindukan cerita-cerita yang dibawakan leh ibu saya. Masih jelas terngiang di telinga saya, di setiap kelas tanpa kecuali begitu Ibu masuk kelas tersebut langsung semua murid kompak berseru: Bu Sani, critani buuuuu.....
Saya bangga sekali punya ibu yang hebat seperti beliau.
Demikian juga ibu mendidik kami, saya dan kedua saudara saya untuk taat pada Tuhan sejak kecil.

Pada umur saya yang ke 13 tahun, entah mengapa muncul penyakit aneh di tubuh asaya tanpa jelas penyebabnya. Saya kelas 2 SMP waktu itu. Keloid tumbuh dengan sendirinya di punggung saya, terasa clekit-clekit dan gatal silih berganti, tanpa penyebab. Waktu itu belum ada dokter ahli penyakit kulit di tempat kami. Kami tidak tahu harus diapakan, saya Cuma bisa menjalani keadaan itu dan bertanya-tanya tanpa mendapat jawaban dari manapun, dan tetap dalam didikan ibu untuk terus berdoa meminta pertolongan Tuhan seraya tetap penuh syukur. Penyakit itu terus tumbuh, lambat tetapi terus. Sampai saya kelas 2 SMA mulai ada dokter kulit di RSUD kabupaten kami. Ibu mengantar saya menemui dokter itu. Tetapi dokter itu tidak melakukan apa-apa, bahkan hanya memanggil para mahasiswa kedokteran (sekitar 5-6 orang) yang sedang praktek di RS itu, mereka semua menonton penyakit saya sambil dokter itu menjelaskan kepada mereka tentang nama penyakit itu dan menunjuk-nunjuk di lokasi sakit, tanpa memberi solusi apapun. Ketika kejadian itu, saya dan ibu yang masih sangat awam dan lugu, dalam keterbatasan keberanian kami, tidak bertanya mengapa kok dipertontonkan tanpa dikasih solusi, kami hanya menunggu siapa tau akan dilakukan suatu tindakan atau diresepkan suatu obat, tetapi sampai akhir tidak ada apapun yang dilakukan dokter itu. Dokter itu perempuan tua dan gendut.
Kehidupanku berjalan terus hingga aku menjelang kuliah di lain kota, kami ke dokter kulit lagi, dokternya sudah ganti. Yang ini lebih baik. Dia mengerti penyakit ini tetapi belum punya peralatan lengkap. Dia merujuk saya ke temannya sesama dokter di ibukota provinsi yang punya peralatan cukup lengkap untuk dilakukan operasi kecil. Saya senang, karena ada harapan sembuh. Meskipun kulit saya tidak akan mulus lagi, tidak masalah, yang penting tidak terasa sakit lagi, itu sudah cukup bagi saya.
Saya jalani semua langkah yang diminta dokter, setelah operasi pengambilan keloid itu, masih harus dilanjut proses panjang berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Jadi untuk mematika sel kanker itu, sebulan sekali saya harus disuntik. Saya harus menempuh perjalanan jauh karena di lainmkota dan saya harus bermalam di rumah adiknya ibu di kota itu setiap kali jadwak suntik.
Proses penyuntikan itu sendiri luar biasa menyakitkan. Luka sepanjang 3 cm lebar 1 cm, harus dicoblosi cukup dalam untuk memasukkan obat dan harus di sekeliling serta tengah keloid, jadi bisa 6-7 coblosan mendalam untuk setiap keloid, padahal waktu itu sudah ada 5 keloid. Semua tahap itu harus dilakukan kontinyu, karena jika berhenti atau terlambat, maka keloid akan tumbuh lebih besar dan saya harus mengulang proses dari awal. Sangat menyakitkan, tetapi saya jalani dengan penuh kesabaran dan doa penuh syukur karena saya percaya SAYA AKAN SEMBUH. Saya juga mengadakan doa syukur dan mohon dukungan doa teman-teman dekat saya.
Rasa sakit tak tertahankan dan biaya yang tidak sedikit, dan jauhnya harapan sembuh, membuat saya menyerah dan penyakit itu tumbuh lagi. Tiga tahun setelah itu, saya punya semangat sembuh lagi. Saya datang ke dokter itu lagi tetapi si dokter merujuk saya ke teman dokter lain, karena dia akan melanjutkan studi ke Singapura.
Mulailah saya pengobatan ulang dari awal dengan proses menyakitkan dan waktu yang panjang sebagaimana sebelumnya. Tetapi penyakit itu tidak peduli dengan segala upaya saya. Dia terus tumbuh. Dokter meningkatkan intensitas penyuntikan yang awalnya 1 belan sekali menjadi 2 minggu sekali. Dua-tiga kali tetap tidak ada perubahan, dokter meningkatkan dosis obatnya. Akibatnya ke organ reproduksi saya. Wktu itu saya masih singe. Siklus menstruasi saya terganggu, saya mens terus tidak bisa berhenti selama 1 bulan. Doter mengurangi dosisnya lagi, tetapi dia juga tidak menjamin apakah bisa sembuh/tidak. Saya mulai berpikir dan mengevaluasi semua langkah saya untuk mengalahkan penyakit sialan ini. Yang sudah jelas, langsung nyata adalah di organ reproduksi, dan itu risikonya berat di masa depan, mungkin tidak hanya kesulitan mendapat keturunan tetapi yang lebih mengerikan adalah kalau lebih dari itu, misalnya saya menghasilkan keturunan yang cacat atau lebih parah terjadi kanker atau penyakit lain di organ reproduksi saya. Belum organ dalam yang lain. Saya mulai takut tubuh saya akan rusak kalau ini saya teruskan, saya putuskan untuk menghentikan penyuntikan ini.
Kehidupan berjalan terus dengan segala suka duka. Saya diberkati punya keluarga, punya anak-anak yang saya lahirkan sempurna. Penyakit itu lambat tapi pasti, tumbuh terus dan bertambah jumlahnya di punggung dan dada saya. Rasa sakit semakin bertambah intensitasnya.
Lama setelah itu saya hanya minum rebusan daun sirsak, meskipun ada efek samping namun saya bisa mengaturnya agar semua bisa berjalan.
Saya terlahir sempurna dari seorang ibu yang penuh iman. Penyakit in sudah saya rasakan 30 tahundengan segala jatuh bangun dengan segala harapan, doa, tangis dan kecewa silih berganti. Saya pernah marah pada Tuhan, luar biasa marah, karena suatu malam, tepat di malam tahun baru 2012, penyakit itu terasa sangat sakit luar biasa, perih, panas dan kemranyas tanpa saya tahu mengapa. Sebelumnya sakit tetapi tidak sehebat malam tahun baru itu. Saya sampai menangis karena tidak tahan lagi dengan rasa sakitnya. Rupanya beberapa hari kemudian baru kutahu mulai ada nanah keluar dari dalam keloidku. Ini rupanya yang membuat rasa sakit luar biasa. Ya...siapa yang tahu sebelumnya, coba? Apakah pertanyaanku dan permohonanku dijawab Tuhan? Tidak pernah. Waktu-waktu setelah itu aku mulai harus membiasakan diri pada waktu-waktu tertentu keluar nanah dari keloid itu yang didahului dengan rasa sakit, perih dan kemranyas. Itu saya rasakan termasuk ketika saya di Jepang, teman sekamar saya tahu itu, heran dan kasihan kepada saya, tetapi tidak ada seorangpun yang bisa menolong.
Kebiasaan keluar nanah berhenti sendiri pada tahun 2015. Saya juga tidak tahu mengapa begitu dan mengapa dulunya tidak lalu ada lalu kemudian berhenti.
Masa-masa marah pada Tuhan terlewat dan saya capek sendiri dengan kemarahan saya.
Doa saya sepanjang 30 tahun yang tidak pernah terjawab, memberi pelajaran kepada saya bahwa hidp sebagai manusia, kita diberi kesempatan untuk terus bertanya dan belajar tiada akhir. Penyakit ini menguatkan pribadi saya menjadi pantang menyerah, soal tidak ada hasilnya tidak masalah tetapi saya dilatih oleh penyakit ini untuk bertahan dan berjuang. Itu terbawa dalam karakter saya selanjutnya dalam meraih suatu impian.
Masih sering sakit dan msih ada sedikit kemarahan, kadang saya butuh menangis dan berseru : Tuhan, Engkau menciptakan aku sempurna saat dilahirkan ibuku hingga usiaku 13 tahun, tetapi mengapa kemudian Engkau menyesali keputusanMu lalu mengubah takdirku dengan merusak kesempurnaan ciptaanMu sendiri? Apa tujuanMu Tuhan?
Saya menimpakan semua penyebab hanya pada Tuhan karena saya sebagai manusia yang sudah berusaha mencari tahu tetap tidak diberitahu penyebabnya.
Kalau Cuma jadi cacat dan jelek, oke, saya terima dan sudah saya jalani itu 30 tahun. Tetapi kumohon ya Tuhan, hilangkan rasa sakitnya. Saya sering mengaitkan ini dengan firman Tuhan :Ketoklah, maka kamu akan dibukakan pintu. Tetapi???
Kita diberkati bukan karena kebaikan kita tetapi kita dipilih.
Hujatan saya yang lain kepada Tuhan adalah: kita bisa menuntut diskriminasi, HAM, gender, hak petani kepada penguasa di dunia ini, tetapi kita tidak bisa menuntut hak kita kepada Tuhan.
Dosa menghujat mungkin sudah terlanjur saya lontarkan, dan akan saya pertanggungjawabkan kelak di akhirat, karena sebagai manusia yang berpikir dengan logika, jika itu dianggap salah, saya pun sudah mengalah dan menyerah berserah penuh dan bersyukur seperti ajaran almarhum ibu. Akhirnya daripada menghujat, saya justru memutuskan untuk bersyukur, saya beruntung diberi pengalaman menyakitkan ini yang tidak setiap orang merasakan, berarti saya terpilih. Tuhan memang tidak dapat kita minta seperti kemauan kita, ya setidaknya mungkin pada orang lain iya, tetapi bagi saya tidak.

Tetapi kemudian Firman Tuhan di Kisah Para Rasul...menyadarkan saya bahwa dalam kelemahan, kasihKu dinyatakan. 
Bolehkah kita bertanya kepada Tuhan? Bolehkah kita marah dan protes kepada Tuhan? Tentu boleh. Mengapa tidak?
Tuhan kita bukan Tuhan yang otoriter. Kita selalu diberi pilihan.
Soal penyakit itu tidak dapat sembuh, oke. Ada maksud baik di balik semua itu, yang kitapun sampai detik ini dilarang untuk tahu. Tetapi kita diberi otoritas bagaimana menyikapi penyakit itu.
Umur saya sudah 43 tahun. Untuk sembuh total, mungkin itu impian yang terlalu mewah bagi saya, mustahil dan mahal biayanya. Mungkin saya harus lupakan harapan sembuh tetapi setidaknya dalam kondisi begini, saya masih diijinkan melayani masyarakat desa yang selalu menerima saya sebagai sahabat. Saya memiliki keluarga terhebat di dunia ini, suami dan anak-anak yang mendukung saya. Saya tidak harus menutupi penyakit ini lagi. Bagi yang senasib dengan saya, mari kita bersyukur karena kita orang-orang pilihan yang diijinkan mengalami sakit ini, tidak semua orang merasakannya. Bagi saudara-saudara senasib, mungkin orang akan jijik atau ngeri melihatnya, bahkan orang terdekat seperti pasangan pun kadang benci dan jijik melihatnya, tetapi tidak ada gunanya menutupi hanya karena malu. Malulah ketika kita korupsi atau merugikan orang lain. Tetapi keloid ini diciptakan untuk kita bukan untuk membuat kita malu, tetapi untuk menunjukkan kasih Tuhan yang bisa kita lakukan bagi mereka yang membutuhkan. Jadi dengan ini kuucapkan selamat tinggal marah pada Tuhan.

Eunike
konflik batin selama 30 tahun terakhir