Kamis, 22 Juni 2017

Community Building

Related with strong leadership

I learned from Historical of Nasu Canal, how the good purpose only can happen with a good strategy, good management and good attitude with honest, sacrifice and hard work start from the leader up to the members. Nobody take a hidden benefit from there but they got a benefit for all members together.
Community building will long / durable when everyone in community tak a responsibility and contribution equally.

Eunike-2104

FOODLIFE

This activity is very much great in ARI. How deep this activity to be an important learning, is very clear, very dynamic, very inspire us, teach us to know how is life is start, germinate, grow, face some difficulties, maintain until harvesting. All those things are describe how is life begin until ending. How farmer should face many steps in one cycle of cultivation of one kind of crop. And so another kinds of their crop. How difficult and high value all that they have to do. When we respect the product (crop, veg, livestock) with efficiency using good way in preparation and learn this important thing to our children and family to respect too, we also respect to life.
Meal service is a unique activity in ARI. Kitchen management is very good learning here. How to manage time and share the burdens, how much, how to prepare for "Debaki-Ban San-Rehana" and other special needs. Sometimes not so simple but wonderful. That's the art of management. Very useful learning for our community back home.

Eunike-2014

Servant Leadership ARI 2014

SERVANT LEADERSHIP

I am very much interested with servant leadership in ARI which is shown by top leader (Otsu Sensei), no excuse for any activity: cleaning, diswashing,. It's very good curriculum that arranged all the whole learning become unity which have to be shown by  a good leader: to serve, to accomodate, to encourage, t manage, sometimes also she have to direct and mking a decision thoughnessly.
Also good communication with everyone, no exception for building good reletioan and networking.
"SMART SERVANT".

Eunike-ARI 2014

Sabtu, 22 April 2017

Penyakit Keloidku



Selamat Tinggal Marah

Di sisi lain kehidupan iman, saya pernah terpuruk ke titik paling buruk. 
Kita sebagai manusia hanya bisa menjalani.
Saya terlahir sempurna. Saya dididik dalam ajaran Kristen yang kuat. Ibu saya, Miryam Sani adalah seorang guru agama yang hebat. Setiap mengajar di kelas, semua murid mendengarkan dan menikmati cerita-cerita Alkitab yang dibawakan ibu saya. Semua murid selalu merindukan cerita-cerita yang dibawakan leh ibu saya. Masih jelas terngiang di telinga saya, di setiap kelas tanpa kecuali begitu Ibu masuk kelas tersebut langsung semua murid kompak berseru: Bu Sani, critani buuuuu.....
Saya bangga sekali punya ibu yang hebat seperti beliau.
Demikian juga ibu mendidik kami, saya dan kedua saudara saya untuk taat pada Tuhan sejak kecil.

Pada umur saya yang ke 13 tahun, entah mengapa muncul penyakit aneh di tubuh asaya tanpa jelas penyebabnya. Saya kelas 2 SMP waktu itu. Keloid tumbuh dengan sendirinya di punggung saya, terasa clekit-clekit dan gatal silih berganti, tanpa penyebab. Waktu itu belum ada dokter ahli penyakit kulit di tempat kami. Kami tidak tahu harus diapakan, saya Cuma bisa menjalani keadaan itu dan bertanya-tanya tanpa mendapat jawaban dari manapun, dan tetap dalam didikan ibu untuk terus berdoa meminta pertolongan Tuhan seraya tetap penuh syukur. Penyakit itu terus tumbuh, lambat tetapi terus. Sampai saya kelas 2 SMA mulai ada dokter kulit di RSUD kabupaten kami. Ibu mengantar saya menemui dokter itu. Tetapi dokter itu tidak melakukan apa-apa, bahkan hanya memanggil para mahasiswa kedokteran (sekitar 5-6 orang) yang sedang praktek di RS itu, mereka semua menonton penyakit saya sambil dokter itu menjelaskan kepada mereka tentang nama penyakit itu dan menunjuk-nunjuk di lokasi sakit, tanpa memberi solusi apapun. Ketika kejadian itu, saya dan ibu yang masih sangat awam dan lugu, dalam keterbatasan keberanian kami, tidak bertanya mengapa kok dipertontonkan tanpa dikasih solusi, kami hanya menunggu siapa tau akan dilakukan suatu tindakan atau diresepkan suatu obat, tetapi sampai akhir tidak ada apapun yang dilakukan dokter itu. Dokter itu perempuan tua dan gendut.
Kehidupanku berjalan terus hingga aku menjelang kuliah di lain kota, kami ke dokter kulit lagi, dokternya sudah ganti. Yang ini lebih baik. Dia mengerti penyakit ini tetapi belum punya peralatan lengkap. Dia merujuk saya ke temannya sesama dokter di ibukota provinsi yang punya peralatan cukup lengkap untuk dilakukan operasi kecil. Saya senang, karena ada harapan sembuh. Meskipun kulit saya tidak akan mulus lagi, tidak masalah, yang penting tidak terasa sakit lagi, itu sudah cukup bagi saya.
Saya jalani semua langkah yang diminta dokter, setelah operasi pengambilan keloid itu, masih harus dilanjut proses panjang berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Jadi untuk mematika sel kanker itu, sebulan sekali saya harus disuntik. Saya harus menempuh perjalanan jauh karena di lainmkota dan saya harus bermalam di rumah adiknya ibu di kota itu setiap kali jadwak suntik.
Proses penyuntikan itu sendiri luar biasa menyakitkan. Luka sepanjang 3 cm lebar 1 cm, harus dicoblosi cukup dalam untuk memasukkan obat dan harus di sekeliling serta tengah keloid, jadi bisa 6-7 coblosan mendalam untuk setiap keloid, padahal waktu itu sudah ada 5 keloid. Semua tahap itu harus dilakukan kontinyu, karena jika berhenti atau terlambat, maka keloid akan tumbuh lebih besar dan saya harus mengulang proses dari awal. Sangat menyakitkan, tetapi saya jalani dengan penuh kesabaran dan doa penuh syukur karena saya percaya SAYA AKAN SEMBUH. Saya juga mengadakan doa syukur dan mohon dukungan doa teman-teman dekat saya.
Rasa sakit tak tertahankan dan biaya yang tidak sedikit, dan jauhnya harapan sembuh, membuat saya menyerah dan penyakit itu tumbuh lagi. Tiga tahun setelah itu, saya punya semangat sembuh lagi. Saya datang ke dokter itu lagi tetapi si dokter merujuk saya ke teman dokter lain, karena dia akan melanjutkan studi ke Singapura.
Mulailah saya pengobatan ulang dari awal dengan proses menyakitkan dan waktu yang panjang sebagaimana sebelumnya. Tetapi penyakit itu tidak peduli dengan segala upaya saya. Dia terus tumbuh. Dokter meningkatkan intensitas penyuntikan yang awalnya 1 belan sekali menjadi 2 minggu sekali. Dua-tiga kali tetap tidak ada perubahan, dokter meningkatkan dosis obatnya. Akibatnya ke organ reproduksi saya. Wktu itu saya masih singe. Siklus menstruasi saya terganggu, saya mens terus tidak bisa berhenti selama 1 bulan. Doter mengurangi dosisnya lagi, tetapi dia juga tidak menjamin apakah bisa sembuh/tidak. Saya mulai berpikir dan mengevaluasi semua langkah saya untuk mengalahkan penyakit sialan ini. Yang sudah jelas, langsung nyata adalah di organ reproduksi, dan itu risikonya berat di masa depan, mungkin tidak hanya kesulitan mendapat keturunan tetapi yang lebih mengerikan adalah kalau lebih dari itu, misalnya saya menghasilkan keturunan yang cacat atau lebih parah terjadi kanker atau penyakit lain di organ reproduksi saya. Belum organ dalam yang lain. Saya mulai takut tubuh saya akan rusak kalau ini saya teruskan, saya putuskan untuk menghentikan penyuntikan ini.
Kehidupan berjalan terus dengan segala suka duka. Saya diberkati punya keluarga, punya anak-anak yang saya lahirkan sempurna. Penyakit itu lambat tapi pasti, tumbuh terus dan bertambah jumlahnya di punggung dan dada saya. Rasa sakit semakin bertambah intensitasnya.
Lama setelah itu saya hanya minum rebusan daun sirsak, meskipun ada efek samping namun saya bisa mengaturnya agar semua bisa berjalan.
Saya terlahir sempurna dari seorang ibu yang penuh iman. Penyakit in sudah saya rasakan 30 tahundengan segala jatuh bangun dengan segala harapan, doa, tangis dan kecewa silih berganti. Saya pernah marah pada Tuhan, luar biasa marah, karena suatu malam, tepat di malam tahun baru 2012, penyakit itu terasa sangat sakit luar biasa, perih, panas dan kemranyas tanpa saya tahu mengapa. Sebelumnya sakit tetapi tidak sehebat malam tahun baru itu. Saya sampai menangis karena tidak tahan lagi dengan rasa sakitnya. Rupanya beberapa hari kemudian baru kutahu mulai ada nanah keluar dari dalam keloidku. Ini rupanya yang membuat rasa sakit luar biasa. Ya...siapa yang tahu sebelumnya, coba? Apakah pertanyaanku dan permohonanku dijawab Tuhan? Tidak pernah. Waktu-waktu setelah itu aku mulai harus membiasakan diri pada waktu-waktu tertentu keluar nanah dari keloid itu yang didahului dengan rasa sakit, perih dan kemranyas. Itu saya rasakan termasuk ketika saya di Jepang, teman sekamar saya tahu itu, heran dan kasihan kepada saya, tetapi tidak ada seorangpun yang bisa menolong.
Kebiasaan keluar nanah berhenti sendiri pada tahun 2015. Saya juga tidak tahu mengapa begitu dan mengapa dulunya tidak lalu ada lalu kemudian berhenti.
Masa-masa marah pada Tuhan terlewat dan saya capek sendiri dengan kemarahan saya.
Doa saya sepanjang 30 tahun yang tidak pernah terjawab, memberi pelajaran kepada saya bahwa hidp sebagai manusia, kita diberi kesempatan untuk terus bertanya dan belajar tiada akhir. Penyakit ini menguatkan pribadi saya menjadi pantang menyerah, soal tidak ada hasilnya tidak masalah tetapi saya dilatih oleh penyakit ini untuk bertahan dan berjuang. Itu terbawa dalam karakter saya selanjutnya dalam meraih suatu impian.
Masih sering sakit dan msih ada sedikit kemarahan, kadang saya butuh menangis dan berseru : Tuhan, Engkau menciptakan aku sempurna saat dilahirkan ibuku hingga usiaku 13 tahun, tetapi mengapa kemudian Engkau menyesali keputusanMu lalu mengubah takdirku dengan merusak kesempurnaan ciptaanMu sendiri? Apa tujuanMu Tuhan?
Saya menimpakan semua penyebab hanya pada Tuhan karena saya sebagai manusia yang sudah berusaha mencari tahu tetap tidak diberitahu penyebabnya.
Kalau Cuma jadi cacat dan jelek, oke, saya terima dan sudah saya jalani itu 30 tahun. Tetapi kumohon ya Tuhan, hilangkan rasa sakitnya. Saya sering mengaitkan ini dengan firman Tuhan :Ketoklah, maka kamu akan dibukakan pintu. Tetapi???
Kita diberkati bukan karena kebaikan kita tetapi kita dipilih.
Hujatan saya yang lain kepada Tuhan adalah: kita bisa menuntut diskriminasi, HAM, gender, hak petani kepada penguasa di dunia ini, tetapi kita tidak bisa menuntut hak kita kepada Tuhan.
Dosa menghujat mungkin sudah terlanjur saya lontarkan, dan akan saya pertanggungjawabkan kelak di akhirat, karena sebagai manusia yang berpikir dengan logika, jika itu dianggap salah, saya pun sudah mengalah dan menyerah berserah penuh dan bersyukur seperti ajaran almarhum ibu. Akhirnya daripada menghujat, saya justru memutuskan untuk bersyukur, saya beruntung diberi pengalaman menyakitkan ini yang tidak setiap orang merasakan, berarti saya terpilih. Tuhan memang tidak dapat kita minta seperti kemauan kita, ya setidaknya mungkin pada orang lain iya, tetapi bagi saya tidak.

Tetapi kemudian Firman Tuhan di Kisah Para Rasul...menyadarkan saya bahwa dalam kelemahan, kasihKu dinyatakan. 
Bolehkah kita bertanya kepada Tuhan? Bolehkah kita marah dan protes kepada Tuhan? Tentu boleh. Mengapa tidak?
Tuhan kita bukan Tuhan yang otoriter. Kita selalu diberi pilihan.
Soal penyakit itu tidak dapat sembuh, oke. Ada maksud baik di balik semua itu, yang kitapun sampai detik ini dilarang untuk tahu. Tetapi kita diberi otoritas bagaimana menyikapi penyakit itu.
Umur saya sudah 43 tahun. Untuk sembuh total, mungkin itu impian yang terlalu mewah bagi saya, mustahil dan mahal biayanya. Mungkin saya harus lupakan harapan sembuh tetapi setidaknya dalam kondisi begini, saya masih diijinkan melayani masyarakat desa yang selalu menerima saya sebagai sahabat. Saya memiliki keluarga terhebat di dunia ini, suami dan anak-anak yang mendukung saya. Saya tidak harus menutupi penyakit ini lagi. Bagi yang senasib dengan saya, mari kita bersyukur karena kita orang-orang pilihan yang diijinkan mengalami sakit ini, tidak semua orang merasakannya. Bagi saudara-saudara senasib, mungkin orang akan jijik atau ngeri melihatnya, bahkan orang terdekat seperti pasangan pun kadang benci dan jijik melihatnya, tetapi tidak ada gunanya menutupi hanya karena malu. Malulah ketika kita korupsi atau merugikan orang lain. Tetapi keloid ini diciptakan untuk kita bukan untuk membuat kita malu, tetapi untuk menunjukkan kasih Tuhan yang bisa kita lakukan bagi mereka yang membutuhkan. Jadi dengan ini kuucapkan selamat tinggal marah pada Tuhan.

Eunike
konflik batin selama 30 tahun terakhir

Kamis, 26 Januari 2017

Eunike Sermon Service in Tokyo 2014


Message  for Itabashi, Tonan and Hoya Lutheran Church, Tokyo, Japan    November 2014
By Eunike Widhi Wardhani, Indonesia

Therefore all things whatever you would that men should do to you, do you even so to them: for this is the law and the prophets (Matthew 7: 12).
だから、人にしてもらいたと思うことは何でも、あなたがたも人にしなさい。これこそ律法と預言者である。(マタイによる福音書7章12節)

General Information about Indonesia and Java
インドネシアとジャワについて
Indonesia has 17,000 large and small islands between the Indian Ocean and the Pacific Ocean and is separated into 35 provinces.  Very rich in cultural diversity, ethnicity and language, nearly 90% of Indonesians are Muslim and 10% are non-Muslims. The Protestant Christian people are 6.96%, Catholics are 2.9%, while the rest are Hindu, Buddhist, Confucian and other religions.
 インドネシアは、インド洋と大西洋の間の大小17,000の島からなり35の州に分かれています。大変豊かで多様な文化、民族性、言語があり、90%はイスラムで、10%がイスラム以外で、
プロテスタントが6.96%、カトリックが2.9%で残りがヒンズー、仏教、儒教その他です。

Java Island is the 5th largest island of Indonesia and is the center of THE government, economy and industry as well as having the densest population in Indonesia. In Java there are 6 provinces, one of those is Daerah Khusus Ibukota Jakarta which is also the capital country of Indonesia. Central Java is one of the provinces on the Java Island, which is the  area of Trukajaya Christian Foundation, my (Eunike’s) sending body which sent me as a participant to the Asian Rural Institute in 2014.
 ジャワ島は、インドネシアで5番目に大きな島で、政治、経済、産業の中心地で最も人口密度が高いところです。ジャワには6州ありそのうちの一つがジャカルタ首都特別州で、首都がおかれています。中ジャワもジャワ島6州のうちの一つで、今年私を学生としてアジア学院に送ったツルカジャヤキリスト教財団もここにあります。
Briefly Profile of Trukajaya
ツルカジャヤの簡単な紹介
Trukajaya Christian Foundation was established 1966 by the Synod of Javanese Christian Churches, a member of WCC (World Council of Churches).  The Vision is to empower the people as a reflection of compassion toward others.  We do this by Creating a sustainable service for the community’s empowerment by partnering with the churches to help people achieve food sovereignty as well as help develop social diaconal programs based on people's potentials.
ツルカジャヤキリスト教財団は、1966年に世界教会協議会のメンバーでもあるジャワキリスト教会会議により設立されました。その目的は、人々の他者への憐みを強めることです。人々が食料の主権を達成し、人々の持つ能力に応じた社会進出の支援を、教会と手を組んで地域を活性化することによる継続的な奉仕によって実現します。
This can develop independency which will help to realize  justice for the poor as well.  The poor are inclusive of women, youths, and farmers in rural areas.  They will receive justice through producing and managing their food. 
このことは自立を助け、貧しい人達に対する公正もまた実現します。貧しい人達とは、女性、若者そして田舎の農民達です。彼らは、食料を生産し自ら管理することで、公正を得るのです。

We also are working to develop the ecosystem, integrating rice fields, forests, and other critical areas to make productive soil, this also through the development of environmentally friendly technologies and farming methods.  We hope in the long run this will develop a social justice system in food management, in normal conditions or as a local disaster prevention and the development of social entrepreneurship units.
私達はまた、生態系、水田の集約化、森林、その他の急を要する問題を開発により、また環境にやさしい技術や農法の改良によって、生産性の高い土壌にするため活動しています。私達はこのことが、長期的に見て、食糧管理、平時また僻地の災害の予防や企業創出に寄与する社会正義を推し進めることを願っています。

My role in my sending body and community
私の職務
13 years ago I joined this institution.  From 2001- 2009 I was field worker in several villages. My main responsibility was assisting several villages in grant program follow ups.
13年前、ここに就職しました。2001年から9年まで幾つかの村で働きました。主な職務は、村での援助事業の支援でした。
During 3 years I stayed fully in a village that has a history of conflicts of land being transferred by the government  to others in order for a big dam construction project as a resource of electricity supply to occur. For the first time in my life, I learned about the struggles of farmers and their families who lived on the land they used to own, but now the status of that land is inundation  lands
3年間は、電源開発のための大規模なダム建設のため、政府が住民を他の土地に移そうとした紛争の歴史のある村に住み込みました。以前所有していた土地に住んでいた農民とその家族のもがきを、生れて初めて知ったのでした。今はもはや彼らの土地ではなくそこは氾濫地となったのです。

(in a simple meaning is: they still may work on that rice fields, but if at any time the water outlet door is opened by the project management, then the water inundates the land, the farmers do not have the right to protest, they are not the owner of the land anymore, the land owner is the project management). They are marginalized people.
(端的に言えば、依然としてその水田を利用ではしますが、事業管理者によって一旦水門が開かれれば、土地は浸水しても農民は抗議する権利もないのです、彼らはもう既にその土地の地主ではなくなり、事業者が土地を所有しているのですからです。)彼らは、見捨てられた人々なのです。

I was there on behalf of Trukajaya as a rural development worker in the various programs dealing with water, sewage, farming and credit for small business development. I started by building communication activities with the village government and several community leaders, both in formal meetings and informal discussions then I proceeded to the stage of the formation of groups, activity planning, implementation and monitoring. After getting married and having children, since 2006 until now I could not stay together with my community fully but only commuted.
私は、その村に上下水道、農作業そして小規模事業展開のための貸付金などさまざまな事業のための普及担当としてツルカジャヤの代表としていたのでした。村の行政や複数の地元リーダー達と公式非公式の対話を重ねることから始め、グループ、活動計画、実施とその後の監視等を整える段階へと進めて行きました。結婚し子供を持つようになった2006年以降今日に至るまでは、村に完全に住み込むことは出来ず通うだけになりました。

Then from May – August 2008 Trukajaya gave me a special duty to help initiate a program of organic farming in Titian Budi Luhur Foundation (Y-TBL) Sulawesi, This led be to becoming the Program and Training Manager of Trukajaya from 2009.  I managed the programs, field worker activities and also facilitated  joir programs between Trukajaya and partners. 
そして財団は、2008年の5月から8月の間、スラウェシのティティアン ブディ ルハール財団(Y-TBL)で有機農業事業の着手を援助するという特別な責任を私に与えました。このことが、2009年から財団の、事業及び研修責任者になることに結びつきました。事業計画や現地ワーカーの活動や財団とその提携先とによる青少年事業などに携わりました。

From 2011 to the present  I am a Food Security Program Coordinator of Trukajaya. My main responsibilities are managing the Food Security Program in the Trukajaya, in which I work in 7 villages with farmer groups, women's groups and youth groups.  I have to continue to encourage rural people to find their potential to develop their villages to be better while respecting nature.
2011年から今日までは、財団の食料安全事業担当です。財団のこの部門での主な職責は、7か村の農民、婦人そして青年グループと働くことです。私は、農村の人々が自然を大切にしながら村を開発する彼らの能力を見出し、励まし続けなければなりません。

How will I utilize the lessons of ARI in my community?
どうアジア学院で学んだことを村で生かせてゆくか?
           
The Daily activities at ARI (attached) is an important lesson for me about servant leadership, time management and building teamwork in managing crops and livestock.  Many other subjects ranging from Japanese language for self introduction, the theory and practice of sustainable agriculture, up to watching and discussing films about the history of leader figures in the world: Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, Mother Teresa and Martin Luther King Junior. 
ARIの日常の活動は、仕える指導者、時間管理そして作物や動物の管理のためのチームワークを作ることなど、私にとって大切な学習でした。自己紹介のための日本語、永続性のある農業の理論と実践、世界の指導者の歴史;マハトマ ガンジー、ネルソン マンデラ、マザーテレサそしてマーチン ルサー キング ジュニア―等の映像を見て、議論するなど他にも多くの科目があります。

In addition to receiving knowledge from lecturers / teachers, we are also given the opportunity to share knowledge that we have brought from our own countries. So for my part, coming as a Food Security program officer, I shared about how to make tempe (a traditional food from Indonesia, made from soybeans and yeast).
時に日中に始まった議論が夜まで続くことがあります。講師や先生方から知識を得るのに加え、自分達自身の国に由来する知識を分かち合う機会もまた与えられました。私は、食料安全事業担当者として、大豆とイーストで作るインドネシアの伝統食、テンペの作り方を紹介しました。

In discussions during the application process before I came to ARI, I had a big question: why do the people in the rural areas, especially farmers in my country remain poor even though the government has worked for development with the farmers and  rural areas? I'm looking for the answer from the overall activity in ARI.
ARIに来る前の申請課程での議論の中で、なぜ農村の人々、分けても私の国の農民は政府が彼等や農村のために開発事業を進めても、貧しいままなのか大きな疑問を感じていました。ARIの様々な活動の中に、その答えを探し続けてきました。

During the training of these past 5 months, I gained a lot of learning through the experiences of colleagues from various countries in Asia and Africa, as well as teachers from Japan and other countries who are deliberately brought by ARI to share experience in rural community development topic.
これまでの5か月間でアジアやアフリカの色々な国の仲間の経験を通して、また農村開発上の課題の経験を聞くためARIによって厳選された日本や他の国からの先生方からも多くのことを学びました。

When I return home, I hope to share the experience of the training in the following manner:
国に帰ったら、次の方法で研修の経験を伝えたいと望んでいます。
  1. I will organize all the material learning (hand out, note and documentations into a group of modul consisting of: leadership, community development, rural development strategy, philosophy-farming techniques and movement, alternative education, environment-life and culture, gender and food security.  
指導者像、地域開発、農村開発戦略、哲学-農業技術と運動、正課外教育、環境―生活と文化、性差別そして食の安全の各項目ごとにグループを作る。
  1. I will make a schedule for the sharing and discussion of the moduls with my communities村の人々と、分かち合いと議論の進め方の計画を立てる。
  2. Of course,  the situation and context of Japanese agriculture is different from what can be practiced precisely in Indonesia, for that I will empower my community to find a suitable alternative application for the conditions and the nature of Indonesian society.
勿論日本農業の状況と内容は、インドネシアでその通りに実践出来ることとは違うので、その為インドネシア社会の状況と自然に合わせ、他の適切な方法を見出すよう地域住民の能力を向上させる。

I hope the spirit of sharing and new ideas then will come from the community, so that they can identify problems.  They still remain as heroes of food security for our country and by increasing the productivity of the land and their labor life will become better and we can get an answer to the question of why poor farmers remain poor.
分かち合いの精神と新しいアイデアは、村共同体そして農民のうちから生まれ、彼らが課題を見つけ出せることを願っています。そうすれば、土地の生産性も向上し、彼らの労働環境も改善し、国の食料の安全性のヒーローとして残ることが出来、なぜ貧しい農民が貧しいままなのかという疑問に対する答えを見つけることが出来ます。

Do Our Best
ベストを尽くそう
Servant Leadership is the foundation of Christian leadership that has been taught by Jesus Christ. In addition, many servant leadership figures in the Old Testament such as Moses, King David, King Solomon, Ezra, Nehemiah and many more who later became our role model in leading community or organizations including church that belongs to God.
仕える指導者像は、イエスキリストによって教えられてきたキリスト者の指導者像の基本です。加えて、旧約にみられるモーセ、ダビデ王、ソロモン王、エズラ、ネヘミアそしてさらに多くが後に神に属する教会を含む共同体や組織を率いる、仕える指導者のモデルとなるのです。

As a common human, the leader is not a perfect person because no one is perfect but Him. But they did an important movement and remembered for all time as a leader of serve character.
普通の人間として、キリストを除いて完全な人はいないのですから、リーダーは完全ではないのです。しかし彼らは重要な運動を起こしいつの世にも、奉仕の精神で人々に憶えられたのです。

Since the beginning of the establishment of the church, Jesus Christ prepares the next leader from generation to generation. For inclusion of God and the holy spirit, the church continued to grow and was never deterred by age. It was already stated in Colossians 1: 25.
教会の始まった最初からイエスキリストは世代から世代へと次のリーダーを用意しています。父なる神と聖霊を含み教会は成長を続け、年月によって妨げられた事はないのです。そのことは、既にコリントへの信徒への手紙第1章25節に述べられているのです。
 
The presence of ARI is also a part of the history of Christianity in Japan. Rev. Toyohiko Kagawa leadership story of his life and his spirit became a role model and famous arrived in Indonesia forwarded by church leaders in Japan. In Nishinasuno, founding ARI in 1973 led by the Nishinasuno Church pioneered by Mr. Tajima since 1891 then forwarded by Rev.Haruo  Fukumoto with Dr. Takami.
ARIの存在もまた日本におけるキリスト教の歴史の一部です。日本の教会の指導者たちによってインドネシアにもたらされた、賀川豊彦先生の精神と生涯の指導者物語は、その模範となりよく知られています。1891年以降田島氏によって開拓された西那須野教会の協力も得て、ARIは西那須野に1973年設立され、高見博士と共に福本治夫牧師に引き継がれました。
Passing the different period  and time, but they all hold the same vision to brighter the world. Until now ARI had 1,272 graduates in 55 countries. This school is unique, just the only one in the world and nothing compare to this school. I am grateful to be a part of this training. I came to Japan on behalf of institutions and rural communities in Indonesia as friends from Asia, Africa and Latin America. I want to learn at ARI on how farmers could rise from poverty.
代が移っても、この世界を明るくするため彼らは同じヴィジョンを保ち続けました。今日までに、55か国に1,272人ARIの卒業生がいます。この学校はとてもユニークで、世界にたった一校だけで、この学校に比べるものはないのです。私はここで研修を受けたことを嬉しく思っています。他のアジア、アフリカそして南米からの友人として、勤務先の基金のまたインドネシアの農村の代表として日本に来ました。どうしたら農民を貧困から救うことが出来るのか、ARIで学びたいと思っています。

The best possible way is to give and do our best for the community we are working with. They are entitled to get our best quality of service, not second quality, third quality or later. But only number 1/best quality. That’s why I am here now as a participant in ARI, to learn more about servant leadership for my community back home.
最も可能性のある方法は、共同体のため与え、最善を尽くし共に働くことです。彼らは、第二や第三やそれ以下ではなく、最高の奉仕をした人としてみなされるのです。これが唯一最高の奉仕です。その為私はARIの学生の一人として、自分の国の村のために仕える指導者像をもっと学ぶために今ここにいるのです。

Best Regards,
有難うございました。

Eunike Widhi Wardhani
Indonesia