Kamis, 21 Desember 2017

Malaikat pelindungku (bagian 2)

Halo pembaca...

Kemarin aku melihat angka kembar 0000 beberapa kali, dan hari ini juga 000 dan 0000 beberapa kali. 
Perubahan ekstrem apa yang akan kualami...
Karena aku mulai sering melihat angka kembar 111, 222, 333, 444, 555, setiap angka triple kembar kini sering muncul dalam satu bulan ini. Yang paling sering 111, 777, 888 dan 000 atau 0000.
Dari merasakan beban berat dalam hidup ini yang tak mampu kutanggung lagi...aku seperti diarahkan untuk melakukan pencarian atas darma dalam hidupku...saat ini aku masih mencari sebenarnya apa mandat dari kehendak Tuhan yang harus kulakukan dalam hidupku untuk menjadi sempurna.
Aku mulai menyadari kehadiran malaikat pelindungku...mungkin malaikat pelindung juga yang menyelamatkan aku dari maut saat kecelakaanku 3 bulan yang lalu. Kecelakaan tunggal misterius aku sampai tidak sadarkan diri, setelah sadar sempat muntah dan ada sedikit gumpalan darah mungkin karena benturan keras di bagian perut (ternyata liverku yang kena), dan diperkirakan dokter bedah bahwa aku akan sembuh dalam waktu 1 bulan, eee ternyata bari 11 hari aku sudah sehat dan ke mana-mana naik motor lagi termasuk menempuh jarak jauh Salatiga-Bantul. Terima kasih Roh Kudus, yang diutus Bapa. Terima kasih malaikat pelindungku, kehadiranmu mulai kurasakan kini
....cerita bersambung karena keburu nunggu Keliling Santa untuk anak-anakku...see you...

Malaikat pelindungku

Lama tak menulis, hari ini ingin kembali menulis.
Banyak peristiwa besar kualami dalam 5 bulan terakhir ini.
Tonggak sejarahnya berawal ketika aku menerima tugas dari lembaga tempatku bekerja, Trukajaya untuk tinggal di desa Gilangharjo Pandak Bantul Yogyakarta dalam kegiatan kedaulatan pangan yang didanai oleh sebuah donor ICCO Netherland.
Entah spirit dari mana, sebagai pekerja lapang aku sangat antusias menerima tugas ini, setelah sekian lama dalam kenyamanan tugas dekat yang setiap hari berkumpul bersama keluarga.
Awalnya aku tinggal di rumah sebuah keluarga kecil yang anaknya sudah bekerja jauh di Aceh sedangkan ayahnya sedang menjalani persoalan hukum di pengadilan, jadi sehari-hari hanya ada sang ibu. Muncul ide dalam pikiranku untuk mengelola lahan sawah dan kebun percontohan yang aku kerjakan sendiri. Ini bukan standar kerja di lembagaku tetapi atas inisiatifku sendiri untuk kulakukan sendiri tetapi tujuanku untuk mendukung pelayananku pada petani di desa ini. Untuk memenuhi kebutuhan itu, aku pindah di dusun sebelah, di sebuah rumah kosong berhalaman luas dan juga aku menyewa sebidang sawah untuk aku "nyawah" nantinya. Entah mengapa semua begitu membuatku bersemangat. Tentu berbeda dengan live in waktu aku masih muda dahulu, kali ini aku tidak banyak membentuk kelompok baru tetapi hanya mengikuti kelompok-kelompok lama bentukan lama oleh masyarakat desa sebelum aku datang.
Pengalaman menarik kemudian muncul.
Suatu hari aku mengalami kecelakaan tunggal dalam perjalanan naik motor dari Salatiga ke Bantul. TKP di Salam Magelang sebelum sampai di tugu ireng Salam-Tempel Yogyakarta. Itu kejadian misterius yang tidak kupahami sampai hari ini. Aku berangkat dari Salatiga jam 14.00 kalaupun lebih paling beberapa menit sedikit. Sampai di Muntilan hujan dan terpaksa aku berhenti untuk mengenakan jas hujan, lalu lanjut jalan lagi. Beberapa titik traffic light masih kuingat sampai saat ini, anehnya setelah itu entah kesadaranku hilang atau bagaimana, aku tidak ingat pom bensin baledono bahkan 2 gapura suara merdeka yang biasanya aku titeni, tidak ada dalam ingatanku, hanya satu kejadian kuingat saat sepeda motorku oleng ke kanan setelah itu aku tak sadar lagi dan tahu-tahu aku sadar sudah berada di depan Sofie Cell, dalam keadaan luka ringan di bagian wajah dan kedia tanganku. Kulihat 2 orang polisi melihatku sejenak, lalu salah seorang berkata : "oke, sudah sadar, saya tinggal ya". Seorang ibu yang ada di dekatku menjawab : ya pak, monggo. Ibu itu menjelaskan kalau aku baru saja mengalami kecelakaan tunggal di depan tokonya dan aku tidak sadar selama 5 menit. Ibu itu yang menolongku, kulihat ada minuman bermerk teh pucuk harum di sebuah kursi dekatku, katanya itu minumanku, tetapi aneh aku tidak ingat meminumnya. Sudahlah, yang penting aku sudah ditolong. Kepalaku terasa sangat pusing saat aku bangun dari lantai tanah di depan toko itu untuk berpindah duduk di kursi. Jas hujan yang tadi aku pakai, sudah berada di atas kursi dekatku, berarti ada yang melepasnya dari tubuhku. Aku bertanya pada ibu yang ternyata pemilik Sofie Cell itu, apakah tadi waktu jatuh, helmku lepas, dan ibu itu menjawab tidak, helmku masih kupakai, jas hujan juga dalam kondisi aku kenakan. Aku benar-benar heran mengapa aku sampai tidak sadar dengan semua kejadian ini, dan hanya 5 menit, karena ibu itu bercerita beberapa kali diulang bahwa aku tidak sadar cuma 5 menit. Setelah duduk di kursi, kepalaku tambah pusing dan aku muntah, kulihat ada sebercak kecil darah menggumpal di muntahanku, tapi tidak terlalu kupikirkan. Dan yang membuatku miris adalah ketika ibu itu menjelaskan begini " tadi siang juga ada mbak, persis di tempat njenengan jatuh itu, tapi lebih parah dan tidak sadarnya lama sampai dibawa ke rumah sakit, entah sekarang bagaimana nasibnya, njenengan beruntung cuma luka sedikit dan pingsan cuma 5 menit, memang sering terjadi kecelakaan, dan saya titeni selalu di lokasi itu mbak".
Aku mendengarkan penjelasan ibu (yang belakangan kutahu namanya bu Amin, karena aku sekalian memperkenalkan diri dan bertanya nama si ibu dan suaminya yang ada didekatnya bernama pak Amin), kemudian aku berusaha memberi kabar suamiku, kutelepon berkali-kali tidak terjawab, akhirnya kusampaikan di grup keluarga tentang kecelakaan ini. Kakak ipar di Jakarta segera merespon dengan terus menghubungi suamiku dan akhirnya berhasil. Itu salah satu gunanya grup keluarga. Kakak iparku menyarankan agar  aku minta :di-CT Scan kepala saat nanti ketemu dokter karena sempat tidak sadar. Aku juga menghubungi ketua kelompok di desa yang baru saja WA aku mengingatkan bahwa malam ini ada pertemuan yang harus aku hadiri, aku justru menjawabnya dengan kabar kecelakaan ini. Aku juga mengabari grup kantor. Kabarku tersebar dan dari desa Gilangharjo datang lebih dulu kemudian segera membawaku ke RSUD Murangan Sleman. Sampai di sana barulah suamiku datang, kemudian dari kantor yang terakhir. Dari pengamatan dokter karena aku bisa berkomunikasi dengan baik, aku diperbolehkan pulang ke Salatiga. Tetapi jika besok pusing aku disuruh langsung ke rumah sakit Salatiga.
Alhasil, esok harinya aku pusing, lihat langit-langit kamar berputar-putar, jadilah aku diantar suami ke RSUD Salatiga dan diputuskan dokter untuk opname karena harus menjalani CT Scan dan Rontgent kepala serta CT scan perut karena benturan mungkin dengan stang motor kemarin, karena mulai terasa sakit. Jadilah aku 4 hari di RSUD Salatiga...cerita selanjutnya menyusul ya...

Kamis, 22 Juni 2017

Community Building

Related with strong leadership

I learned from Historical of Nasu Canal, how the good purpose only can happen with a good strategy, good management and good attitude with honest, sacrifice and hard work start from the leader up to the members. Nobody take a hidden benefit from there but they got a benefit for all members together.
Community building will long / durable when everyone in community tak a responsibility and contribution equally.

Eunike-2104

FOODLIFE

This activity is very much great in ARI. How deep this activity to be an important learning, is very clear, very dynamic, very inspire us, teach us to know how is life is start, germinate, grow, face some difficulties, maintain until harvesting. All those things are describe how is life begin until ending. How farmer should face many steps in one cycle of cultivation of one kind of crop. And so another kinds of their crop. How difficult and high value all that they have to do. When we respect the product (crop, veg, livestock) with efficiency using good way in preparation and learn this important thing to our children and family to respect too, we also respect to life.
Meal service is a unique activity in ARI. Kitchen management is very good learning here. How to manage time and share the burdens, how much, how to prepare for "Debaki-Ban San-Rehana" and other special needs. Sometimes not so simple but wonderful. That's the art of management. Very useful learning for our community back home.

Eunike-2014

Servant Leadership ARI 2014

SERVANT LEADERSHIP

I am very much interested with servant leadership in ARI which is shown by top leader (Otsu Sensei), no excuse for any activity: cleaning, diswashing,. It's very good curriculum that arranged all the whole learning become unity which have to be shown by  a good leader: to serve, to accomodate, to encourage, t manage, sometimes also she have to direct and mking a decision thoughnessly.
Also good communication with everyone, no exception for building good reletioan and networking.
"SMART SERVANT".

Eunike-ARI 2014

Sabtu, 22 April 2017

Penyakit Keloidku



Selamat Tinggal Marah

Di sisi lain kehidupan iman, saya pernah terpuruk ke titik paling buruk. 
Kita sebagai manusia hanya bisa menjalani.
Nama saya Eunike Widhi Wardhani. Saya terlahir sempurna. Saya dididik dalam ajaran Kristen yang kuat. Ibu saya, Miryam Sani adalah seorang guru agama yang hebat. Setiap mengajar di kelas, semua murid mendengarkan dan menikmati cerita-cerita Alkitab yang dibawakan ibu saya. Semua murid selalu merindukan cerita-cerita yang dibawakan leh ibu saya. Masih jelas terngiang di telinga saya, di setiap kelas pada jam pelajaran agama Kristen, begitu Ibu masuk kelas tersebut langsung semua murid kompak berseru: Bu Sani, critani buuuuu.....
Saya bangga sekali punya ibu yang hebat seperti beliau.
Demikian juga ibu mendidik kami, saya dan kedua saudara saya untuk taat pada Tuhan sejak kecil. Kehidupan dan pertumbuhan iman saya dipengaruhi kuat oleh ibu saya. Ibu tumbuh di keluarga miskin suatu desa di DIY, beliau pernah bercerita padaku bahwa tidak pernah terbayang untuk mengikut Kristus, apalagi menjadi seorang guru agama Kristen. Itu keajaiban besar dalam hidupnya.

Pada umur saya yang ke 13 tahun, entah mengapa muncul penyakit aneh di tubuh saya tanpa jelas penyebabnya. Saya kelas 2 SMP waktu itu. Keloid tumbuh dengan sendirinya di punggung saya, terasa clekit-clekit dan gatal silih berganti, tanpa penyebab. Waktu itu belum ada dokter ahli penyakit kulit di tempat kami. Kami tidak tahu harus diapakan, saya Cuma bisa menjalani keadaan itu dan bertanya-tanya tanpa mendapat jawaban dari manapun, dan tetap dalam didikan ibu untuk terus berdoa meminta pertolongan Tuhan seraya tetap penuh syukur. Penyakit itu terus tumbuh, lambat tetapi terus. Sampai saya kelas 2 SMA mulai ada dokter kulit di RSUD yang ada di kota kabupaten kami. Ibu mengantar saya menemui dokter itu. Tetapi dokter itu tidak melakukan apa-apa, bahkan hanya memanggil para mahasiswa kedokteran (sekitar 5-6 orang) yang sedang praktek di RS itu, tanpa permisi tanpa peduli mereka semua menonton penyakit saya sambil dokter itu menjelaskan kepada para mahasiswa itu tentang nama penyakit itu dan menunjuk-nunjuk di lokasi sakit, tanpa memberi solusi apapun. Ketika kejadian itu, saya dan ibu yang masih sangat awam dan lugu, dalam keterbatasan keberanian kami, tidak bertanya mengapa kok dipertontonkan tanpa dikasih solusi, kami hanya menunggu siapa tau akan dilakukan suatu tindakan atau diresepkan suatu obat, tetapi sampai akhir tidak ada apapun yang dilakukan dokter itu. Yang kuingat dokter itu seorang perempuan tua dan gendut.
Kehidupan saya berjalan terus hingga menjelang kuliah di lain kota, saya ditemani ibu ke dokter kulit lagi, dokternya sudah ganti. Yang ini lebih baik. Dia mengerti penyakit ini tetapi belum punya peralatan lengkap. Dia merujuk saya ke temannya sesama dokter di ibukota provinsi yang punya peralatan cukup lengkap untuk dilakukan operasi kecil. Saya senang, karena ada harapan sembuh. Meskipun kulit saya tidak akan mulus lagi, tidak masalah, yang penting tidak terasa sakit lagi, itu sudah cukup bagi saya.
Saya jalani semua langkah yang diminta dokter, setelah operasi pengambilan keloid itu, masih harus dilanjut proses panjang berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Jadi untuk mematika sel kanker itu, sebulan sekali saya harus disuntik. Saya harus menempuh perjalanan jauh karena di lainmkota dan saya harus bermalam di rumah adiknya ibu di kota itu setiap kali jadwak suntik.
Proses penyuntikan itu sendiri luar biasa menyakitkan. Luka sepanjang 3 cm lebar 1 cm, harus dicoblosi cukup dalam untuk memasukkan obat dan harus di sekeliling serta tengah keloid, jadi bisa 6-7 coblosan mendalam untuk setiap keloid, padahal waktu itu sudah ada 5 keloid. Semua tahap itu harus dilakukan kontinyu, karena jika berhenti atau terlambat, maka keloid akan tumbuh lebih besar dan saya harus mengulang proses dari awal. Sangat menyakitkan, tetapi saya jalani dengan penuh kesabaran dan doa penuh syukur karena saya percaya SAYA AKAN SEMBUH. Saya juga mengadakan doa syukur dan mohon dukungan doa teman-teman dekat saya.
Rasa sakit tak tertahankan dan biaya yang tidak sedikit, dan jauhnya harapan sembuh, membuat saya menyerah dan penyakit itu tumbuh lagi. Tiga tahun setelah itu, saya punya semangat sembuh lagi. Saya datang ke dokter itu lagi tetapi si dokter merujuk saya ke teman dokter lain, karena dia akan melanjutkan studi ke Singapura.
Mulailah saya pengobatan ulang dari awal dengan proses menyakitkan dan waktu yang panjang sebagaimana sebelumnya. Tetapi penyakit itu tidak peduli dengan segala upaya saya. Dia terus tumbuh. Dokter meningkatkan intensitas penyuntikan yang awalnya 1 belan sekali menjadi 2 minggu sekali. Dua-tiga kali tetap tidak ada perubahan, dokter meningkatkan dosis obatnya. Akibatnya ke organ reproduksi saya. Wktu itu saya masih singe. Siklus menstruasi saya terganggu, saya mens terus tidak bisa berhenti selama 1 bulan. Doter mengurangi dosisnya lagi, tetapi dia juga tidak menjamin apakah bisa sembuh/tidak. Saya mulai berpikir dan mengevaluasi semua langkah saya untuk mengalahkan penyakit sialan ini. Yang sudah jelas, langsung nyata adalah di organ reproduksi, dan itu risikonya berat di masa depan, mungkin tidak hanya kesulitan mendapat keturunan tetapi yang lebih mengerikan adalah kalau lebih dari itu, misalnya saya menghasilkan keturunan yang cacat atau lebih parah terjadi kanker atau penyakit lain di organ reproduksi saya. Belum organ dalam yang lain. Saya mulai takut tubuh saya akan rusak kalau ini saya teruskan, saya putuskan untuk menghentikan penyuntikan ini.
Kehidupan berjalan terus dengan segala suka duka. Saya diberkati punya keluarga, punya anak-anak yang  lahir sempurna. Penyakit itu lambat tapi pasti, tumbuh terus dan bertambah jumlahnya di punggung dan dada saya. Rasa sakit semakin bertambah intensitasnya.
Lama setelah itu saya hanya minum rebusan daun sirsak, meskipun ada efek samping namun saya bisa mengaturnya agar semua bisa berjalan.
Saya terlahir sempurna dari seorang ibu yang penuh iman. Penyakit in sudah saya rasakan 30 tahundengan segala jatuh bangun dengan segala harapan, doa, tangis dan kecewa silih berganti. Saya pernah marah pada Tuhan, luar biasa marah, karena suatu malam, tepat di malam tahun baru 2012, penyakit itu terasa sangat sakit luar biasa, perih, panas dan kemranyas tanpa saya tahu mengapa. Setiap orang yang pernah kepiris pisau (teriris pisau) pasti tahu, ya persis seperti itulah sakit yang kurasakan tetapi belasan, puluhan bahkan pernah ratusan kali irisan yang kurasakan di kulitku dan itu terjadi setiap hari di sepanjang 30 tahun hidupku. Sebelumnya sakit tetapi tidak sehebat malam tahun baru itu. Saya sampai menangis karena tidak tahan lagi dengan rasa sakitnya. Rupanya beberapa hari kemudian baru saya tahu mulai ada nanah keluar dari dalam keloid di punggung kiri. Ini rupanya yang membuat rasa sakit luar biasa. Ya...siapa juga yang tahu sebelumnya, coba? Apakah pertanyaan  dan permohonan saya dijawab Tuhan? Tidak pernah. Waktu-waktu setelah itu saya mulai harus membiasakan diri pada waktu-waktu tertentu keluar nanah dari keloid itu yang didahului dengan rasa sakit, perih dan kemranyas. Itu saya rasakan termasuk ketika saya di Jepang, teman sekamar saya tahu itu, heran dan kasihan kepada saya, tetapi tidak ada seorangpun yang bisa menolong.
Kebiasaan keluar nanah berhenti sendiri pada tahun 2015. Saya juga tidak tahu mengapa begitu dan mengapa dulunya tidak lalu ada lalu kemudian berhenti dan sampai saat ini tidak pernah keluar nanah lagi.
Masa-masa marah pada Tuhan terlewat dan saya capek sendiri dengan kemarahan saya.
Doa saya sepanjang 30 tahun yang tidak pernah terjawab, memberi pelajaran kepada saya bahwa hidp sebagai manusia, kita diberi kesempatan untuk terus bertanya dan belajar tiada akhir. Penyakit ini menguatkan pribadi saya menjadi pantang menyerah, soal tidak ada hasilnya tidak masalah tetapi saya dilatih oleh penyakit ini untuk bertahan dan berjuang. Itu terbawa dalam karakter saya selanjutnya dalam meraih suatu impian.
Masih sering sakit dan masih ada sedikit kemarahan, kadang saya butuh menangis dan berseru : Tuhan, Engkau menciptakan saya sempurna saat dilahirkan ibu hingga usia saya 13 tahun, tetapi mengapa kemudian Engkau membatalkan keputusan itu lalu mengubah takdir saya dengan merusak kesempurnaan ciptaanMu sendiri? Apa tujuanMu Tuhan?
Saya menimpakan semua penyebab hanya pada Tuhan sebagai panitia penyelenggara seluruh kehidupan ini karena saya sebagai manusia sudah berusaha mencari tahu penyebabnya, mengatasinya, mengeksekusinya, pernah membuat syukuran atas kesembuhan dahulu tetapi Tuhan tetap memutuskan untuk menggagalkan kesembuhannya.
Jika penyebabnya keturunan, nyatanya ayah-ibu dan orang tua mereka semua tidak mengalami seperti saya.
Kalau cuma jadi cacat dan jelek, oke, saya terima dan sudah saya jalani itu 30 tahun. Tetapi permohonan kepada Tuhan, untuk dihilangkan rasa sakitnya, juga tak pernah dijawab apalagi dipenuhi. Saya sering mengaitkan ini dengan firman Tuhan :Ketoklah, maka kamu akan dibukakan pintu. Tetapi???
Kita diberkati bukan karena kebaikan kita tetapi kita dipilih.

Bolehkah kita bertanya kepada Tuhan? Bolehkah kita marah dan protes kepada Tuhan? Tentu boleh. Mengapa tidak?
Tuhan kita bukan Tuhan yang otoriter. Kita selalu diberi pilihan.
Soal penyakit itu tidak dapat sembuh, oke. Ada maksud baik di balik semua itu, yang kitapun sampai detik ini dilarang untuk tahu. Tetapi kita diberi otoritas bagaimana menyikapi penyakit itu.
Hujatan saya yang lain kepada Tuhan adalah: kita bisa menuntut diskriminasi, HAM, gender, hak petani kepada penguasa di dunia ini, tetapi kita tidak bisa menuntut hak kita kepada Tuhan untuk diperlakukan sama dengan si A, si B atau yang lain. Selama ini saya punya pemahaman yang salah bahwa setiap orang pasti menanggung salib sendiri-sendiri, saya mengira setiap orang dibagi rata satu-satu: orang kaya diberi penyakit, orang cantik/ rupawan tidak dianugrahi kekayaan materi. Tetapi itu semua salah. Tuhan tidak mengatur kehidupan ini sebagaimana pikiran manusia. Tuhan bisa memutuskan memberi penyakit, wajah tidak rupawan, miskin, susah cari rejeki, setiap usahanya gagal di sepanjang hidup pada diri satu orang sekaligus, paket komplit kesengsaraan, sementara orang lain dikaruniai wajah rupawan, kaya raya, jabatan tinggi, segala kemudahan dalam hidup menumpuk dalam diri satu orang. Semua itu otoritas Tuhan. Semua itu cuma sandhangan hidup. Iman tidak bicara soal hidup susah/ nyaman, kaya/ miskin, rupawan/ tak rupawan, tetapi iman adalah tentang melakukan kehendak Tuhan, entah kaya entah miskin, entah susah entah senang, tanggung jawabnya sama.
Maka saya tidak lagi terjebak pada rasa sakit yang menyiksa ini. Sungguh-sungguh sakit luar biasa (sebagaimana yang saya jelaskan, seperti diiris-iiris pisau puluhan kali). Rasa sakit itu tidak boleh menguasai saya, sayalah yang berkuasa atasnya. Rasa sakit tidak boleh melemahkan semangat saya untuk terus memberitakan kasih Tuhan kepada sesama, seperti yang dilakukan ibu saya semasa hidup. Ibu yang meletakkan dasar kuat iman saya kepada Tuhan (cerita menarik tentang figur ibu, akan saya tulis tersendiri).
Saya memutuskan untuk bersyukur, saya beruntung diberi pengalaman menyakitkan ini yang tidak setiap orang boleh merasakannya, berarti saya terpilih, berarti Tuhan menilai saya akan kuat menganggung ini sepanjang hidup saya.

Firman Tuhan di Kisah Para Rasul...menyadarkan saya bahwa dalam kelemahan, kasihKu dinyatakan. Paulus pun punya permohonan kepada Tuhan untuk mengangkat penyakitnya, Paulus adalah orang terdekatnya Tuhan, pasti sangat dikasihiNya, itu saja diputuskan Tuhan untuk tidak sembuh. Ya sudah, saya pun menerima. Walau tak semudah bicara ketika datang rasa sakit yang luar biasa itu, segala rintih tangis, ucap doa dan elusan sama sekali tidak  mampu menghentikannya, saya tetap percaya bahwa saya dikasihiNya.

Umur saya sekarang 43 tahun. Untuk sembuh total, mungkin itu impian yang terlalu mewah bagi saya, mustahil dan mahal biayanya. Mungkin saya harus lupakan harapan sembuh tetapi setidaknya dalam kondisi begini, saya masih diijinkan melayani masyarakat desa yang selalu menerima saya sebagai sahabat. Saya memiliki keluarga terhebat di dunia ini, suami dan anak-anak yang mendukung saya. Saya tidak harus menutupi penyakit ini lagi seperti selama ini hanya karena menjaga perasaan orang yang melihat, mungkin takut, jijik, dlsb. Biarlah sekarang orang melihat bahwa saya cacat permanen. Bagi yang senasib dengan saya, mari kita bersyukur karena kita orang-orang pilihan yang diijinkan mengalami sakit ini, tidak semua orang merasakannya. Dengan membiarkan sakit dan rusaknya kulit saya, mungkin Tuhan sedang bereksperimen akan seberapa kuat saya menganggung penyakit ini, berapa puluh tahun saya bisa bertahan hingga ajal menjemput. Sampai saat ini saya masih kuat dan saya akan semakin kuat melawan penyakit ini. Jika suatu hari nanti saya mati karena penyakit ini, saya sudah tahu bahwa Tuhan memang sudah memutuskan kematian saya secara pelan-pelan yang direncanakan sejak saya berusia 13 tahun (saya baca sebuah buku kesehatan kulit bahwa penyakit ini memang bisa membunuh pelan-pelan), tetapi nyatanya saya bisa berkarya dan hidup produktif di sela-sela rasa sakit itu. Dan saya masih ingin terus berkarya bagi sesama.
Bagi saudara-saudara senasib, mungkin orang akan jijik atau ngeri melihatnya, bahkan orang terdekat seperti pasangan pun kadang benci dan jijik melihatnya, tetapi tidak ada gunanya menutupi hanya karena malu. Malulah ketika kita korupsi atau merugikan orang lain. Tetapi keloid ini diciptakan untuk kita bukan untuk membuat kita malu, tetapi untuk menunjukkan kasih Tuhan yang bisa kita lakukan bagi mereka yang membutuhkan. Jadi dengan ini kuucapkan selamat tinggal marah pada Tuhan.

Eunike
konflik batin selama 30 tahun terakhir