Rabu, 13 Februari 2013

Impian perempuan



Impian-impian Perempuan
Eunike Widhi Wardhani

Tulisan merupakan salah satu sarana pengembangan masyarakat. Tulisan mempunyai daya yang mampu menumbuhkan motivasi untuk melakukan perubahan.

Tulisan dapat menjadi alat perjuangan, penyebarluasan informasi dan kampanye persuasi sebuah gerakan. Melalui tulisan berupa surat-surat, Kartini menyampaikan isi hatinya sebagai seorang perempuan yang mengalami ketertindasan hak untuk menentukan nasibnya sendiri. Kartini juga memperjuangkan nasib perempuan Indonesia untuk memperoleh pendidikan sebagaimana laki-laki.
Kartini melakukan sebuah gerakan berawal dari goresan penanya menjadi surat-surat yang ia kirimkan kepada Rosa JH Abendanon, salah seorang sahabat pena Kartini, istri dari seorang menteri Kebudayaan, Agama, dan Industri Hindia Belanda (Wikipedia dan Pustakaloka Kompas, Sabtu, 19 April 23/ http://64.203.71.11/kompas-cetak/0304/19/pustaka/263526.htm).
Walaupun tak lama kemudian Kartini wafat dalam usia yang masih muda, namun daya tulisan-tulisannya tersebut tetap hidup dan membawa pengaruh besar pada bangsa Indonesia hingga sekarang. Surat-surat yang dikumpulkan menjadi sebuah buku itulah yang kemudian berbicara banyak tentang impian dan harapan perempuan serta bagaimana mewujudkannya.
Isi hati Kartini ternyata mewakili isi hati banyak perempuan di negeri ini dan membuka kesadaran dunia tentang kondisi yang ingin diubah. Sehingga impian itupun terwujud dengan dukungan banyak pihak. Andai Kartini yang begitu cerdas, tidak menuliskan pemikirannya dan menyampaikan kepada orang lain, mungkin impian akan perubahan hanya impian kosong dan tidak pernah terwujud.
Di perdesaan, ternyata banyak “Kartini-Kartini” lain yang memiliki semangat melakukan perubahan, memperbaiki harkat kehidupan masyarakat. Ada Garwati dari Randurejo Pulokulon Grobogan, Musyarofah dari Kalisalak-Limpung-Batang, Uut Sri Astuti dari Randurejo Pulokulon Grobogan dan masih banyak lagi.
Mereka juga menuangkan isi hati dan impiannya ke dalam tulisan yang perlu mendapat perhatian banyak pihak untuk mendukungnya. Beberapa tulisan ibu-ibu dari desa yang disajikan kali ini mewakili harapan, mimpi dan semangat tak hanya kaum perempuan tetapi mimpi masyarakat di desa-desa tersebut untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Tulisan-tulisan ini diperoleh dari surat perempuan pada kegiatan pengorganisasian dan pendampingan kelompok perempuan dipandu oleh kawan Ruby dan Yoyok dari AMAN Jakarta yang diundang Trukajaya untuk berbagi pengalaman dan strategi pengorganisasian kelompok perempuan desa-desa Kendel kecamatan Kemusu Kab. Boyolali, Lembu kec. Bancak kab. Semarang, Randurejo kec. Pulokulon kab. Grobogan, Kalisalak kecamatan Limpung dan desa Sodong kecamatan Wonotunggal kabupaten Batang.

Surat 1.

Salam sehat dari Kampung

As Al Wrwb

Aku adalah seorang perempuan dari sebuah kampung nun jauh di kawasan Grobogan Purwodadi. Aku merasa senang dan bahagia bisa diberi kesempatan belajar oleh teman-teman. Memang setiap kali belajar bersama aku capek dan mengantuk apalagi kalau harus menempuh perjalanan jauh ke luar desaku, tetapi aku tetap bertahan di tempat belajar/pelatihan karena aku tidak mau ketinggalan sesi-sesi yang menurutku banyak sekali manfaatnya, untuk nanti kubawa pulang dan kusampaikan kepada teman-teman di kampung.
Bagaimanapun ibu-ibu di kampung berhak untuk hidup cerdas, terampil dan menjadi perempuan yang mandiri lahir maupun batin. Ya kan?
Kadangkala dalam kehidupan ini, apa yang kita lakukan punya tujuan yang baik, tetapi penilaian dari masyarakat/warga itu bermacam-macam. Ada yang menanggapi dengan baik, tetapi tidak sedikit yang memandang sebelah mata. Tapi aku tidak putus asa. Aku selalu berusaha semampuku untuk mencapai impian yang selama ini banyak yang belum jadi kenyataan. Salah satu impianku, di antaranya supaya Randurejo memiliki sarana transportasi (jalan) yang layak seperti warga negara Indonesia yang lainnya.
Semoga siapapun yang membaca goresan tintaku ini bisa memahami apa yang kurasakan. Dan aku minta maaf apabila kata-kataku tidak berkenan di hati karena aku cuma manusia biasa yang tak luput dari salah dan khilaf.
Sekian. Terima kasih.
Wal Slm Wr.wb


Salatiga, 30 Maret 2011

Garwati
Randurejo-Pulokulon-Grobogan


Surat 2

Aku adalah seorang ibu rumah tangga yang bersuamikan seorang buruh. Di mana seorang buruh sering dianggap orang berekonomi rendah. Tetapi kami punya harapan tinggi terhadap pendidikan anak-anak kami. Sebenarnya anak-anak di desa banyak yang berotak cerdas, tetapi untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sangat terbatas oleh biaya. Kesanku selama ini  perguruan tinggi banyak didirikan di kota-kota besar, seakan-akan hanya untuk orang-orang kota dan orang-orang yang berkelas mewah.
Untuk itu melalui perkumpulan di responsif gender ini saya berharap bisa menyalurkan kepada pihak yang bersangkutan dan bertanggung jawab atas pendidikan anak Indonesia. Alangkah senang dan bersyukurnya kami, jika pemerintah mau membangun perguruan tinggi di desa kami, agar anak-anak desa kami bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi dan mencapai cita-cita yang tinggi tanpa keluar desa, sehingga di desa Kalisalak ini akan lahir orang-orang yang punya titel dan bisa membangun desa Kalisalak ini menjadi desa yang punya wawasan pendidikan yang luas sehingga pernikahan usia dini dapat dihindari.
Dengan adanya perguruan tinggi di desa Kalisalak juga bisa menunjang ekonomi masyarakat Kalisalak. Mereka bisa berdagang menyediakan kebutuhan para pelajar.
“Seandainya hal ini bukan sekedar mimpi, akankah bisa tercapai, kapankah itu? Semoga mimpi ini akan menjadi nyata”.


Musyarofah
Kalisalak-Limpung-Batang


Surat 3

Seandainya saya menjadi seorang pejabat negara yang serendah-rendahnya seorang bupati, yang akan saya lakukan adalah menyejahterakan rakyat terutama rakyat miskin.
Saya akan memberikan perintah kepada pegawai saya untuk mendata seluruh kelurahan, berapa jumlah rakyat yang miskin dan yang tidak punya penghasilan tetap dan jumlah anak yang putus sekolah. Saya akan memberikan bantuan kepada petani berupa ternak, alat-alat pertanian dan industri kecil. Akan saya buatkan bendungan untuk pengairan sawah-sawah petani biar lebih makmur dan sejahtera. Saya akan memberikan penyuluhan-penyuluhan serta pelatihann keterampilan-keterampilan kepada yang putus sekolah. Akan saya bantu perbaikan sarana peribadatan, gedung sekolah-sekolah dan rumah-rumah rakyat miskin. Setiap bulan akan saya berikan BLT, bantuan beras untuk fakir miskin dan anak-anak yatim. Saya akan memerintahkan bagian sarana dan prasarana untuk melakukan perbaikan jalan-jalan yang sudah rusak, jembatan-jembatan serta memberikan bantuan penerangan listrik di setiap jalan raya.
Bagi pengamen jalanan dan anak-anak terlantar akan saya beri pekerjaan serta keterampilan khusus, sesuai kemampuan. PNS akan saya berikan kesejahteraan berupa gaji tambahan dan uang lauk pauk. Demi untuk kesehatan semua masyarakat, saya sediakan setiap bulan pemeriksaan yang akan ditangani oleh dokter dan bidan serta pembantu lainnya. Petugas kesehatan harus memberikan penyuluhan kesehatan dan kebersihan lingkungan. Untuk para balita setiap bulan diadakan posyandu, dan di sana diberikan obat bagi yang sakit secara cuma-cuma.
Di setiap kelurahan akan saya berikan 1 mobil ambulans dan tempat khusus untuk berobat. Orang-orang cacat akan saya beri bantuan keterampilan oleh tenaga pendidik khusus, agar kekal bisa mandiri. Untuk keamanan warga masyarakat di setiap kelurahan akan saya berikan dua satuan keamanan polisi. Biar bisa menggerakkan warga masyarakat untuk menjaga keamanan desanya.
Andai semua itu bukan mimpi, kapankah akan jadi kenyataan? Terus dari mana saya harus mendapatkan uang yang sebanyak itu? KORUPSI???


Rofiati
Kalisalak-Limpung-Batang





Surat 4

Kita harus menyadari dan mengerti betul bahwa setiap kemajuan dan setiap kebahagiaan pasti dicapai dengan pengorbanan dan perjuangan, maka kalau ada suatu usaha yang berhasil pasti di balik ada yang berjuang dan berkorban. Itulah motto hidup yang aku pegang, sebagai ibu rumah tangga dan sebagai perempuan.
Namaku Kamnah, aku seorang ibu rumah tangga. Sebagaimana ibu-ibu lainnya (umumnya) mengerjakan pekerjaan domestik, rumah tangga, melayani keluarga dan membimbing serta mendidik anak agar menjadi anak yang sholih, bakti kepada orang tua dan masyarakat.
Selain pekerjaan rumah tangga, aku juga mempunyai kesibukan yang lain lho, yaitu membuka usaha kecil membuat keripik talas (Suroloyo) dan jahe alang-alang instan. Itu untuk mengisi waktu luangku, mengingat putraku sudah besar (Kelas I Sekolah Madrasah) dan belum punya rencana untuk menambah momongan.
Aku terdorong membuka usaha kecil karena seiring berjalannya waktu kebutuhan finansial keluargaku bertambah karena kebutuhan pokok hiduup sehari-hari harganya melonjak, sedang penghasilan suamiku tidak mengimbangi lonjakan harga bahan pokok, sehingga keluargaku butuh dana tambahan. Selain itu mengingat suamiku hanya seorang buruh bangunan yang kadang kerja, kadang tidak sedangkan kebutuhan keluarga harus dipenuhi. Aku ingin dan harus punya tabungan untuk masa depan kami, mengingat keluargaku masih numpang sama orang tua. Aku harus pintar-pintar mengelola keuangan yang serba pas-pasan dan kadang juga kurang.
Melihat kondisi keluargaku yang seperti itu, hatiku miris, aku ngeri, bagaimana nanti masa depan putraku, mampukah aku meluluskan keinginannya untuk menjadi seorang arsitek? Itulah PR besar bagi diriku. Aku sadar dan aku punya itikad (tekad bulat) untuk mengembangkan usahaku dengan harapan aku dapat meluluskan keinginan putraku. Aku ingin menjadi seorang wirausahawan yang sukses dan mapan, punya rumah yang indah dikelilingi kebun buah dan tanaman rempah-rempah, mempunyai armada untuk mengangkut barang hasil produksi kepada pelanggan, mempunyai rekan/ relasi yang amanah, merubah nasib suami dari buruh menjadi rekan bisnis, mempunyai rumah produksi yang besar (memenuhi standar) dan memberdayakan perempuan-perempuan pedesaan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, sehingga mereka tidak perlu lagi pergi ke luar negeri menjadi TKW untuk mendapatkan uang. Harapanku juga bisa membahagiakan kedua orang tuaku, mempunyai sawah dan kebun yang luas, punya deposito untuk menunaikan ibadah haji, sebagian dari hasil usahaku aku bagikan kepada fakir miskin yang ada di lingkungan sekitarku yang membutuhkan untuk membersihkan hartaku.
Alangkah indahnya jika hidup ini bisa memberi manfaat, meski kecil kepada orang lain.


Kamnah
Kalisalak-Limpung-Batang


Surat 5

Salam hangat dari kampung

Keinginan dan impian seorang ibu rumah tangga yang belum dikaruniai seorang buah hati, dan masih juga dibilang pengantin baru, karena usia pernikahanku baru 1 tahun. Aku selalu bermimpi dan terus bermimpi kalau suatu saat aku dan suamiku akan menjadi orang yang sangat-sangat sukses karena aku sangat yakin kalau tahun ini akan lebih baik daripada tahun lalu.
Kami (aku dan suamiku) ingin usaha kami lebih maju dan berkembang bukan hanya di dusunku sendiri. Suamiku punya bengkel elektronik. Dia sangat ahli dalam memperbaiki barang-barang elektronik seperti: TV, kulkas, mesin cuci, kipas angin, setrika, rice cooker, dll. Namun adanya faktor penghambat yaitu letak dan kondisi desa kami yang terpencil atau kurang strategis sehingga berakibat kurangnya pelanggan.
Aku juga selalu bermimpi, kalau  aku bukanlah hanya bisa menjadi seorang ibu rumah tangga yang tiap hari kerjanya cuma masak, nyuci, menyetrika dan bersih-bersih rumah saja. Aku ingin bermimpi mulai 2011 ini aku bisa menjadi perempuan pengusaha yang sukses di dusunku. Aku ingin punya toko elektronik yang letaknya strategis, misalnya di Limpung.
Sehingga di antara aku dan suamiku bisa saling bekerja dan menjadi orang yang sangat sukses. Sehingga harapanku bisa beli mobil dan akan kusopiri sendiri sehingga aku bisa mengikuti kegiatan di tingkat desa tanpa harus berjalan kaki dan tidak lupa pula aku ajak 6 orang dari kelompok di dusunku biar ikut kegiatan responsif gender tanpa harus jalan kaki. Oh, iya...ya...udah dulu ah, moga impianku ini bisa benar-benar cepat tercapai. Amin...


Eti Setio Wati
Kalisalak-Limpung-Batang


Surat ke 6

Assalamualaikum WrWb
Nama saya Mariah dari dukuh Gumingsir desa Kalisalak.
Impian saya ingin menjadi orang yang sukses dalam segala bidang seperti ingin menjadi pengusaha konveksi, menjadi pedagang. Tapi apa boleh buat orang kecil seperti saya cuma bisa bermimpi saja. Terkadang saya berpikir bagaimana caranya agar mimpi-mimpi saya dapat terwujud. Sebenarnya mimpi saya ini banyak dulu saya waktu masih remaja ingin menjadi orang yang pinter karena saya ingin menjadi guru. Tetapi mau gimana saya cuma lulus SD. Sebenarnya kalau dulu ada biaya saya mau melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Yah, sekarang sudah terlanjur tidak bisa menjadi guru. Tapi dalam hati kecil saya, saya harus mewujudkan salah satu impian saya.
Saya dulu juga sudah pernah mencoba dagang kecil-kecilan, tetapi kekurangan modal. Jadi usaha itu tersendat-sendat. Seandainya saya bisa usaha lagi dan ada dana yang cukup, saya akan berusaha mewujudkan impian saya.
Saya juga ingin melihat anak-anak saya menjadi orang yang berpendidikan lebih tinggi dari saya. Saya juga punya impian memperbaiki rumah saya. Semoga salah satu dari impian saya bisa terwujud. Maaf kalau impian saya terlalu tinggi.
Cukup sekian dan terima kasih.
Wassalamualaikum Wr.Wb.


Mariah
Kalisalak-Limpung-Batang

Surat 7
Impian seorang perempuan kampung

Saya Uut Sri Astuti, umur 32 tahun, ibu dari 3 orang anak, 2 putri, 1 putra. Saya bertempat tinggal di dusun Lengkong RT 01 RW 06 desa Randurejo (2 km dari balai desa Randurejo) kec. Pulokulon kab. Grobogan.
Saya tinggal di desa jauh dari perkotaan. Jarak dari desa ke kecamatan 14 km. Jarak dari desa ke kota kabupaten 35 km. Jalan menuju dusun dan desa serta menuju ke luar desa sangat memprihatinkan karena rusak berat apalagi di musim penghujan pasti tidak dapat dilalui kendaraan roda 4. Itu sedikit gambaran kondisi jalan Randurejo.
Karena desa kami jauh dari perkotaan, mutu pendidikan menjadi rendah. Pernah saya menemukan seorang anak sudah lulus SD tidak bisa mengenal huruf abjad “a” sampai “z” dengan baik.
Untuk itu saya punya impian untuk meningkatkan mutu pendidikan yang lebih. Dengan cara mendirikan sekolah TK. DHARMA WANITA-3 Randurejo.
Tetapi tidak semudah yang saya bayangkan. Karena keterbatasan fasilitas (gedung sekolah TK), meja, kursi, APE (Alat Permainan Edukatif) dan mainan luar (ayunan) yang kondisinya memprihatinkan, tidak seperti yang dimiliki sekolah TK di luar desa kami. Dan pemerintah desapun kepeduliannya masih kurang dikarenakan penghasilan desa/ kas desa minim. Kalaupun diperhatikan hanya sebatas upah yang tak sebanding yaitu ¼ hektar sawah (bengkok) tanah kas desa, ketika dijual per tahun hanya mendapat Rp. 400.000,-. Upah yang sangat tidak sebanding dengan pekerjaan saya, tetapi saya TIDAK PATAH SEMANGAT untuk memotivasi anak-anak untuk terus belajar.
Saya berharap ada yang peduli nasib saya dan anak-anak didik saya dan mencarikan solusinya supaya anak-anak ini belajar dengan nyaman, menyenangkan dan memiliki minat yang tinggi untuk sekolah.
Semoga yang membaca kisah ini tergerak hatinya untuk membantu mencarikan jalan keluar dari apa yang dialami oleh Sekolah TK. DHARMA WANITA 3 RANDUREJO
SEKIAN, TERIMA KASIH.


Uut Sri Astuti
Pengajar TK di Randurejo



Surat 8
Saya ingin menjadi orang yang punya usaha sendiri, punya kesibukan yang bisa menghasilkan uang untuk menopang perekonomian keluarga. Saya ingin bisa memenuhi kebutuhan pribadi saya sendiri, membiayai sekolah anak ke jenjang setingi-tingginya.
Saya merasa belum dapat membahagiakan kedua orang tua, saya ingin bisa mewujudkannya. Sukses.


NN di desa Kendel Kemusu Boyolali


Demikian  surat yang berhasil dikumpulkan oleh pendamping berdasarkan isi/ide dan kejelasan maksud penulis.

Menciptakan hutan tropis



Menciptakan hutan tropis baru, mungkinkah?
Oleh : Eunike Widhi Wardhani

sekelumit tentang Agroforestri
Pengelolaan hutan secara partisipatif

Keanekaragaman hayati untuk kelestarian lingkungan hutan

Hutan tropis memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan itu sangat penting sebagai sumber daya alam hayati untuk pelestarian spesies tumbuhan dan hewan tertentu agar tetap tumbuh dan berkembang biak sampai di masa depan. Pelestarian keanekaragaman itu harus menjadi prioritas utama bukan hanya untuk tujuan keanekaragaman itu saja tetapi juga untuk memelihara kondisi lingkungan secara umum seperti terkendalinya aliran permukaan, pencegahan erosi, perlindungan tanah, perbaikan mikroklimat dan sumber plasma nutfah, serta memperkecil resiko terjadinya kepunahan.
Kebutuhan akan kayu industri maupun tuntutan akan keseimbangan ekosistem hutan tropis sama-sama memerlukan keberadaan hutan tropis itu baik mengenai luas maupun kualitasnya sehingga kedua kepentingan itu dapat berjalan bersama. Produksi kayu yang lestari dan efisien tetap menjadi tujuan utama pengelolaan hutan, namun demikian jika pembukaan hutan, pemanfaatan atau penebangan hutan dilakukan dengan cara yang tidak bijaksana justru akan mengancam keseimbangan ekosistem hutan. Oleh karena itu sumber daya  hutan harus dimanfaatkan dan dikelola secara bijaksana disertai dengan tercapainya kualitas kehidupan hutan yang baik tanpa penurunan mutu lingkungan.

Produksi hutan tropis

Kayu dikenal sebagai bahan dan alat dalam berbagai segi kehidupan manusia. Kayu menjadi suatu bahan yang sulit digantikan oleh bahan lain karena sifatnya yang luwes dan alami. Hal itu menyebabkan kayu lebih disukai sebagai bahan perabot, bahan bangunan atau keperluan lain, meskipun kini ada bahan-bahan  lain pengganti kayu.
Kayu industri dihasilkan dari hutan, baik hutan alam maupun hutan buatan. Negara-negara berkembang di daerah katulistiwa umumnya memiliki hutan tropis yang cukup luas, yang menyediakan kayu dalam jumlah besar dan berpotensi dalam perdagangan kayu dunia. Di Indonesia selama lebih dari satu abad yang lalu telah memiliki hutan alam jati di pulau Jawa yang membuktikan tingginya potensi hutan Indonesia khususnya pulau Jawa dalam menyumbangkan hasil hutan terutama kayu dengan kualitas yang baik.
Meskipun telah diciptakan produk-produk sintetis pengganti kayu, konsumsi kayu dunia terus meningkat. Negara-negara maju mengkonsumsi lebih banyak kayu di pasaran dunia. Sedangkan negara-negara berkembang yang memiliki persediaan kayu lebih banyak konsumsi kayunya jauh lebih rendah. Di beberapa negara yang sekarang sudah maju, dahulu kayu merupakan bahan industri yang dominan untuk alat pertanian, kendaraan, mesin pintal, mesin cetak, industri kapal, peleburan besi, dan lain-lain. Kebutuhan akan produk industri itu terus meningkat sehingga dibutuhkan lebih banyak  persediaan kayu, padahal luas hutan semakin berkurang (Wardhani, 1995).

Ketidakseimbangan ekosistem dan kerusakan hutan tropis

Hutan tropis  di bumi ini berada pada 3 wilayah utama yaitu Amerika Selatan, Afrika dan Asia Tenggara. Karena hujan turun hampir tiap hari dan hawa panas sepanjang tahun, maka hutan tropis  menjadi wilayah yang lembab. Kelembaban itu menyebabkan penguraian sisa-sisa tumbuhan berlangsung dengan cepat sehingga kesuburan tanah relatif tinggi. Maka tak heran kalau hutan tropis  ditumbuhi banyak spesies tumbuhan baik yang dapat menghasilkan makanan tersendiri (memiliki zat hijau daun) maupun yang tidak memiliki zat hijau daun atau tidak dapat menghasilkan makanan sendiri. Karena tumbuhan merupakan produsen dalam rantai makanan serta tumbuhan itu terdapat dalam jumlah besar, maka akhirnya komponen-komponen dalam rantai makanan yang lain banyak hidup di hutan tropis. Semua itu menyebabkan hutan tropis memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi.
Sifat ketergantungan satu sama lain dari tumbuhan dan satwa di hutan tropis dan interaksi dengan lingkungannya dapat ditunjukkan dengan contoh : Banteng membutuhkan rumput sebagai makananannya; rumput dapat tumbuh dengan baik karena dari pelapukan sisa-sisa tumbuhan dan hewan yang mati. Contoh lainnya : berbagai tumbuhan membutuhkan serangga untuk penyerbukan bunga dalam proses reproduksinya.
Luas hutan tropis semakin berkurang namun manusia tetap mengharapkan hutan tropis yang masih ada sekarang menjadi penyedia benih yang paling aman untuk melestarikan keanekaragaman hayati bagi pertumbuhan kembali di masa depan.
Di dalam ekosistem hutan tropis terjadi perpindahan energi dari tumbuhan ke makhluk hidup lainnya melalui rantai makanan. Beberapa rantai makanan membentuk jaring-jaring makanan. Pada setiap perpindahan energi, energi yang hilang adalah panas. Dari tumbuhan berupa penguapan, sedangkan dari hewan panas tersebut digunakan sebagai tenaga untuk bergerak. Demikianlah setiap makhluk hidup di dalam ekosistem hutan tropis dibatasi kehidupannya oleh makhluk hidup lain sehingga jika ekosistem itu seimbang tidak akan terjadi peledakan populasi suatu jenis makhluk.
Ketidakseimbangan dalam ekosistem itu dapat mempengaruhi kehidupan di dalam hutan itu. Apalagi bila sudah mengarah pada kerusakan, karena ketidakseimbangan itu sendiri sebenarnya sudah menjadi bagian dari kerusakan. Banyak penyebab kerusakan hutan tropis, satu diantaranya yang paling besar adalah pembukaan dan penebangan hutan yang tak terkendali. Kebutuhan manusia akan tempat tinggal dan alat-alat penunjang kehidupan secara lambat namun pasti telah mendesak keberadaan hutan tropis. Kayu-kayu tropis dari hutan alam yang berkualitas tinggi semakin berkurang dan lama-lama akan habis untuk memenuhi kebutuhan manusia. Selain itu kebakaran hutan juga merupakan penyebab kerusakan hutan terutama terjadi musim kemarau panjang. Perburuan liar terhadap satwa-satwa hutan tertentu untuk kepentingan keindahan atau kepuasan manusia juga termasuk ancaman bagi hutan itu. Dalam hal ini ancaman yang paling serius adalah penebangan hutan karena akibatnya paling jelas dirasakan secara global. Beberapa akibat yang timbul secara  langsung misalnya kerusakan pohon-pohon kecil karena tertimpa robohnya pohon-pohon yang ditebang, kerusakan akibat penggunaan mesin-mesin berat yang memadatkan tanah, kemudian pembuatan jalan-jalan untuk transportasi hasil hutan yang mengurangi area produksi hutan.
Kerusakan ekosistem hutan akan mempunyai dampak yang lebih luas lagi, tergantung besarnya kerusakan. Dampak tersebut misalnya meningkatnya panas global dan perubahan iklim. Kerusakan ekosistem Hutan Tropis juga dapat menurunkan keanekaragaman hayati (biodiversitas). Padahal keanekaragaman hayati hayati merupakan sumber plasma nutfah yang sangat penting dalam peningkatan kesejahteraan melalui usaha budidaya pertanian.
Disamping hal-hal tersebut di atas ancaman kepunahan juga dapat dialami oleh satwa-satwa tertentu. Ancaman ini terjadi karena kerusakan atau menyempitnya habitat. Akibat kebisingan dan pengaruh lain menyebabkan satwa bermigrasi ke lain daerah atau mati. Migrasi bagi hewan-hewan tertentu juga merupakan ancaman tersendiri, terutama kalau tidak  memperoleh habitat yang cocok.


Pembangunan hutan buatan

Pembangunan hutan buatan merupakan salah satu jawaban dari masalah di atas. Pengelolaan hutan buatan diharapkan akan memberi kesempatan pada hutan alam untuk tumbuh kembali. Selain itu untuk memanfaatkan alih teknologi dalam industri kayu, maka sebaiknya kayu industri tidak dijual dalam bentuk kayu gelondongan. Karena proses  produksinya yang cepat mendorong banyaknya volume penebangan, serta tidak memiliki nilai tambah padahal setelah kayu itu menjadi barang jadi, harganya jauh lebih tinggi.
Hal yang perlu diperhatikan adalah menggalakkan atau memasyarakatkan konsep konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Konsep ini di Indonesia diatur dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990. Dalam peraturan tersebut dijelaskan tentang pendayagunaan sumber daya alam hayati baik tumbuhan maupun hewan dan sumber daya alam non hayati yang membentuk ekosistem dengan tetap memelihara kualitas keanekaragaman dan nilainya.



Salatiga, Mei 2009


Eunike Widhi Wardhani

BDA



Tropical Biodynamic Agriculture
(Pertanian biodinamis di daerah tropis)
oleh : Eunike Widhi Wardhani

Konsep Biodynamics Agriculture (BDA) atau pertanian biodynamis adalah pertanian sebagai sebuah integrasi antara organisme dalam tanah, siklus nutrisi, perawatan tanah, kesehatan tanaman, ternak dan tentunya petani sebagai pengelolanya. 



Pendahuluan



Biodynamics Agriculture. Mendengar atau membaca istilah itu kali pertama mungkin membuat kita mengernyitkan dahi. Padahal tanpa memahami arti istilahnya, banyak petani Indonesia menerapkan teknologi tersebut. Perintisnya di banyak tempat juga biasanya petani. Meskipun demikian seluk beluk di dalamnya perlu dipelajari lebih mendalam. Ibarat sebuah lukisan atau hasil karya seni lainnya haruslah dibuat dengan penuh kesadaran dan keseriusan tingkat tinggi, bukan tanpa sadar ataupun asal-asalan saja. Apa maksudnya ya? Kita akan belajar bersama dari hasil diskusi sehari tentang Tropical Biodynamic Agriculture yang disampaikan oleh seorang petani bernama Tom Meredith dari Australia yang berhasil dihadirkan oleh Trukajaya.
Teknologi Biodynamics Agriculture (BDA) telah dikembangkan cukup lama dimulai oleh seorang peneliti Austria bernama Rudolf Steiner pada tahun 1924. Adapun tokoh-tokoh BDA di Australia Ernesto Genoni, Melbourne (1927), William, Sidney (1939), dan sejak 1950 BDA di Australia dikembangkan oleh Alexei Podolinsky yang menjadi guru praktis dari Tom Meredith.

Profil Tom Meredith

Lajang berusia 52 tahun ini bernama lengkap Thomas Meredith. Dia seorang geologist (ahli ilmu tanah) dan pada tahun 1977-1984 menjadi dozen Geologi di James Cook University Townsville North Queensland, Australia. Sejak menjadi mahasiswa geologi di universitas yang sama, rupanya Tom sudah tertarik dengan dunia pertanian ramah lingkungan dengan mengembangkan kebun sayur organik.
Sebenarnya Tom ingin mempelajari pertanian di universitasnya tetapi belum menemukan guru terbaiknya. Akhirnya di tahun 1984 itu dia membeli lahan “sakit” bekas perkebunan tebu yang sarat input kimia sebelumnya. Lahan seluas 42 hektar di Queensland Utara itu mengalami kerusakan sangat parah, sulit diolah dan tidak produktif karena setiap tanaman yang ditanam di lahan itu tidak menghasilkan panen apapun. Di lahan itu Tom belajar tentang pertanian organik tropis dari pengetahuan pertanian organik berdasar sistem pengelolaan suhu selama 4 tahun. Akhirnya dia berhasil menyembuhkan lahan itu, dan sejak 1988 Tom si petani ini mulai mendirikan perusahaan pertanian organic komersial dengan nama “TROPICAL ORGANIC PRODUCE”. Hingga sekarang (jadi 22 tahun) Tom menjadi petani yang memasok produk organic di pasar-pasar Australia.

Pengamatan Tom terhadap pertanian di Pulau Jawa

Trukajaya berhasil menghadirkan Tom Meredith atas kebaikan Yos Suprapto, seorang rekan studinya di James Cook asal Banyuwangi yang kini tinggal di Kaliurang Yogyakarta. Yos Suprapto adalah seorang pemerhati lingkungan.
Sebelum ke Salatiga, Tom berkeliling pulau Jawa yaitu di daerah suku Badui Banten, Banyuwangi Jawa Timur dan Wonogiri Jawa Tengah. Tom menyatakan keheranannya mengapa di Pulau Jawa yang merupakan tanah subur terbaik di dunia, petani harus menggunakan urea atau pupuk kimia lainnya? Penambahan pupuk kimia sangat disayangkan karena tanah pertanian di Indonesia secara umum sudah subur karena letusan gunung berapi yang banyak mengandung abu dan batu-batu vulkanik. Dalam proses lambat, bahan-bahan tersebut menghasilkan mineral-mineral dan membuatnya menjadi tanah terbaik dan terkaya di muka bumi.
Tom menyebutkan penggunaan pupuk N, P, K sebenarnya hanya untuk tanah yang tidak subur. Bahkan pemberian N,P dan K berlebihan dapat mematikan humus yang mengandung karbon, merusak struktur tanah, meningkatkan erosi dan menjadikan obesitas (kegemukan) pada tanaman. Segala yang berlebihan memang tidak baik, tak terkecuali tanaman yang sebenarnya sudah tumbuh sehat dan produktif tetapi masih ditambah pupuk kimia, bahkan pemberiannya oleh petani sering melebihi dosis anjuran. Hal itu sesuai dengan pengakuan petani padi di Klaten, bahwa dosis seharusnya 75 kg urea tetapi petani memberi 120 kg, dengan alasan supaya tanamannya nampak hijau dan subur. Hal itu berlangsung puluhan tahun, sehingga tanah yang semula subur, kini menjadi rusak. Dapatkah kondisi itu diperbaiki? Jawabnya dapat yaitu melalui pertanian biodinamis.
Tom menyebutkan ketika melalui deretan pegunungan Kendeng, dia menemukan bahwa tanah di pegunungan Kendeng mengandung dioksida silicone. Bahan tersebut yang memiliki daya luar biasa yang dapat dimanfaatkan untuk menyembuhkan tanah karena dalam penelitiannya bahan tersebut telah terbukti dapat memperbaiki kehidupan biologi tanah.
Tom sempat melakukan pengamatan terhadap cara hidup masyarakat Kanekes (Suku Baduy). Dia pun berkesimpulan bahwa masyarakat Kanekes yang dianggap kuno dan sangat tertutup justru lebih menghargai dan menjaga keseimbangan alam dibanding komunitas lain yang dianggap lebih berbudaya.

Seminar sehari

Dalam seminar ini Tom dibantu Pak Yos Suprapto sebagai penerjemah, membagikan pengalamannya mulai dengan menggarap lahan seluas 42 hektarnya itu. Tahun pertama Tom menanam semacam jahe di lahan tersebut dan pada waktu panen, hanya mendapatkan 5 kg per hektar. Suatu bukti akan rendahnya kesuburan tanah itu. Ya, sangat rendah. Namun sekarang lahan tersebut sudah berubah total menjadi lahan subur, sehat dan produktif dengan pemberian kompos yang berkualitas. Untuk terampil dan berhasil membuat kompos berkualitas, dirinya memerlukan waktu bertahun-tahun.
Di samping itu dia juga meneliti beberapa tanaman untuk bahan pestisida alami. Pestisida andalan hasil penelitiannya yang diajarkan kepada peserta adalah fermentasi daun cemara (Casuarina, sp). Caranya daun cemara dimasukkan ke dalam drum hingga drum penuh namun tanpa ditekan-tekan. Setelah itu ditambahkan air hingga daun cemara terendam kemudian direbus hingga mendidih beberapa lama, didinginkan, ditutup dan dibiarkan agar terjadi fermentasi tanpa penambahan bakteri apapun selama 3 hari hingga air berwarna seperti air teh dan berbau harum. Setelah terfermentasi, larutan dicampur dengan air biasa dan diaplikasikan dengan cara disemprotkan ke bagian atas dan bawah daun atau buah yang terkena penyakit. Fermentasi daun cemara dapat digunakan untuk mengendalikan penyakit akibat jamur dan bakteri.
Tom mengerjakan lahan seluas itu sendiri. Hanya saat-saat tertentu seperti pengolahan tanah atau panen, dia memerlukan tenaga kerja tambahan. Sangat kontras dengan kondisi pertanian di Indonesia di mana luas lahan garapan seorang petani dampingan Trukajaya hanya 0,35 hektar, itu pun bukan miliknya sendiri.
Tom memang sengaja memilih lahan yang rusak untuk mengetahui perbandingan kondisi awal dengan kondisi akhir dalam penerapan BDA. Dia menerapkan ilmu BDA dengan penuh ketelatenan di bawah pengarahan Alexei Podolinsky tahun 1990-1994. Pengembangan secara luas metode BDA adalah  menggunakan pupuk organic, menanam tanaman penutup tanah dan melakukan rotasi tanaman.
Pupuk organic untuk mendukung kehidupan mikrobia tanah dan menyuburkan tanah secara keseluruhan. Penggunaan tanaman penutup tanah berupa LCC (Legume Cover Crop) terutama  karena LCC pada umumnya memiliki bintil akar akibat infeksi bakteri Rhizobium dalam tanah, sehingga bintil akar tersebut dapat mengikat Nitrogen bebas dari udara, maka tak perlu urea, kemudian fungsi lain menguatkan teras, menahan pencucian tanah oleh air hujan serta mendukung keseimbangan biologi tanah. Adapun rotasi tanaman dilakukan untuk memutus siklus hama dan penyakit. 
 Pertanian Organik memang sudah dikenal di Indonesia. Namun menurut Tom, banyak petani Indonesia yang membuat kompos secara asal-asalan atau tidak diproses lebih dulu sehingga kompos berbau. Bagi yang cukup familiar lewat pegunungan di Jawa Tengah, contohnya areal pertanian di Kopeng lereng Merbabu atau tempat lain yang di pinggir areal itu terdapat bertumpuk karung pupuk organic yang berbau busuk. Padahal kompos seperti itu akan berpengaruh buruk pada kesehatan tanah dan pertumbuhan tanaman.
Semua bahan organic dapat dibuat dikomposkan, tetapi kunci membuat kompos yang baik adalah :
  1. Kondisi hangat
  2. Kalau terlalu basah akan busuk, kalau terlalu kering akan terlalu lama jadinya
  3. Pembuatan kompos harus di atas tanah, bukan di atas alas semen atau bahan lain.
  4. Ada sirkulasi udara, bukan anaerob.
  5. Kompos tidak dibuat di bawah pohon
  6. Kompos tidak berbau busuk tetapi berbau harum
  7. Kompos yang baik, jika dipegang berbentuk, tetapi saat dilepas langsung pecah.
Tom menyarankan tidak membuat kompos dari kotoran manusia, karena biasanya mengandung bermacam-macam patogen sehingga sulit dikontrol.

Belajar dari kearifan lokal

Dalam seminar ini, dihadirkan pula Dr. Yohanes Hendro Agus dari Fakultas Pertanian UKSW untuk memberi second opinion atau menanggapi penyampaian Tom Meredith tentang BDA. Pak Yohanes justru punya pengalaman pernah masuk ke dalam lingkungan suku Badui dan tinggal di sana selama 2 bulan. Suku Badui di Banten terkenal sebagai masyarakat yang anti teknologi modern, hidup apa adanya, mereka dapat hidup dengan mengambil buah dan sayuran di kebun untuk makan secukupnya, cukup 1 baju kalau belum rusak tidak perlu ganti, mereka tidak punya keinginan beli televisi, beli mobil atau barang-barang lain, tidak membangun rumah tembok, dan berbagai aturan lain yang mencerminkan kesederhanaan. Mereka justru punya otoritas penuh mengatur wilayahnya tanpa campur tangan pihak luar termasuk otoritas untuk menjaga keseimbangan alam, tidak mengeksploitasinya. Contoh di Jawa Tengah yang hampir mirip adalah masyarakat Samin di Blora Jawa Tengah dengan hidup sederhana, justru lebih pandai menjaga kelestarian lingkungan
Tentang BDA, Pak Yohanes juga menyatakan pada intinya BDA menjaga keseimbangan siklus berbagai unsure dalam pertanian organic.



Salatiga, Pebruari 2010



 Eunike Widhi Wardhani

(diambil dari catatan hasil seminar BDA yang diselenggarakan oleh Trukajaya pada tanggal 10 Pebruari 2010 di aula Sinode GKJ Salatiga-Jawa Tengah-Indonesia)