Rabu, 13 Februari 2013

BDA



Tropical Biodynamic Agriculture
(Pertanian biodinamis di daerah tropis)
oleh : Eunike Widhi Wardhani

Konsep Biodynamics Agriculture (BDA) atau pertanian biodynamis adalah pertanian sebagai sebuah integrasi antara organisme dalam tanah, siklus nutrisi, perawatan tanah, kesehatan tanaman, ternak dan tentunya petani sebagai pengelolanya. 



Pendahuluan



Biodynamics Agriculture. Mendengar atau membaca istilah itu kali pertama mungkin membuat kita mengernyitkan dahi. Padahal tanpa memahami arti istilahnya, banyak petani Indonesia menerapkan teknologi tersebut. Perintisnya di banyak tempat juga biasanya petani. Meskipun demikian seluk beluk di dalamnya perlu dipelajari lebih mendalam. Ibarat sebuah lukisan atau hasil karya seni lainnya haruslah dibuat dengan penuh kesadaran dan keseriusan tingkat tinggi, bukan tanpa sadar ataupun asal-asalan saja. Apa maksudnya ya? Kita akan belajar bersama dari hasil diskusi sehari tentang Tropical Biodynamic Agriculture yang disampaikan oleh seorang petani bernama Tom Meredith dari Australia yang berhasil dihadirkan oleh Trukajaya.
Teknologi Biodynamics Agriculture (BDA) telah dikembangkan cukup lama dimulai oleh seorang peneliti Austria bernama Rudolf Steiner pada tahun 1924. Adapun tokoh-tokoh BDA di Australia Ernesto Genoni, Melbourne (1927), William, Sidney (1939), dan sejak 1950 BDA di Australia dikembangkan oleh Alexei Podolinsky yang menjadi guru praktis dari Tom Meredith.

Profil Tom Meredith

Lajang berusia 52 tahun ini bernama lengkap Thomas Meredith. Dia seorang geologist (ahli ilmu tanah) dan pada tahun 1977-1984 menjadi dozen Geologi di James Cook University Townsville North Queensland, Australia. Sejak menjadi mahasiswa geologi di universitas yang sama, rupanya Tom sudah tertarik dengan dunia pertanian ramah lingkungan dengan mengembangkan kebun sayur organik.
Sebenarnya Tom ingin mempelajari pertanian di universitasnya tetapi belum menemukan guru terbaiknya. Akhirnya di tahun 1984 itu dia membeli lahan “sakit” bekas perkebunan tebu yang sarat input kimia sebelumnya. Lahan seluas 42 hektar di Queensland Utara itu mengalami kerusakan sangat parah, sulit diolah dan tidak produktif karena setiap tanaman yang ditanam di lahan itu tidak menghasilkan panen apapun. Di lahan itu Tom belajar tentang pertanian organik tropis dari pengetahuan pertanian organik berdasar sistem pengelolaan suhu selama 4 tahun. Akhirnya dia berhasil menyembuhkan lahan itu, dan sejak 1988 Tom si petani ini mulai mendirikan perusahaan pertanian organic komersial dengan nama “TROPICAL ORGANIC PRODUCE”. Hingga sekarang (jadi 22 tahun) Tom menjadi petani yang memasok produk organic di pasar-pasar Australia.

Pengamatan Tom terhadap pertanian di Pulau Jawa

Trukajaya berhasil menghadirkan Tom Meredith atas kebaikan Yos Suprapto, seorang rekan studinya di James Cook asal Banyuwangi yang kini tinggal di Kaliurang Yogyakarta. Yos Suprapto adalah seorang pemerhati lingkungan.
Sebelum ke Salatiga, Tom berkeliling pulau Jawa yaitu di daerah suku Badui Banten, Banyuwangi Jawa Timur dan Wonogiri Jawa Tengah. Tom menyatakan keheranannya mengapa di Pulau Jawa yang merupakan tanah subur terbaik di dunia, petani harus menggunakan urea atau pupuk kimia lainnya? Penambahan pupuk kimia sangat disayangkan karena tanah pertanian di Indonesia secara umum sudah subur karena letusan gunung berapi yang banyak mengandung abu dan batu-batu vulkanik. Dalam proses lambat, bahan-bahan tersebut menghasilkan mineral-mineral dan membuatnya menjadi tanah terbaik dan terkaya di muka bumi.
Tom menyebutkan penggunaan pupuk N, P, K sebenarnya hanya untuk tanah yang tidak subur. Bahkan pemberian N,P dan K berlebihan dapat mematikan humus yang mengandung karbon, merusak struktur tanah, meningkatkan erosi dan menjadikan obesitas (kegemukan) pada tanaman. Segala yang berlebihan memang tidak baik, tak terkecuali tanaman yang sebenarnya sudah tumbuh sehat dan produktif tetapi masih ditambah pupuk kimia, bahkan pemberiannya oleh petani sering melebihi dosis anjuran. Hal itu sesuai dengan pengakuan petani padi di Klaten, bahwa dosis seharusnya 75 kg urea tetapi petani memberi 120 kg, dengan alasan supaya tanamannya nampak hijau dan subur. Hal itu berlangsung puluhan tahun, sehingga tanah yang semula subur, kini menjadi rusak. Dapatkah kondisi itu diperbaiki? Jawabnya dapat yaitu melalui pertanian biodinamis.
Tom menyebutkan ketika melalui deretan pegunungan Kendeng, dia menemukan bahwa tanah di pegunungan Kendeng mengandung dioksida silicone. Bahan tersebut yang memiliki daya luar biasa yang dapat dimanfaatkan untuk menyembuhkan tanah karena dalam penelitiannya bahan tersebut telah terbukti dapat memperbaiki kehidupan biologi tanah.
Tom sempat melakukan pengamatan terhadap cara hidup masyarakat Kanekes (Suku Baduy). Dia pun berkesimpulan bahwa masyarakat Kanekes yang dianggap kuno dan sangat tertutup justru lebih menghargai dan menjaga keseimbangan alam dibanding komunitas lain yang dianggap lebih berbudaya.

Seminar sehari

Dalam seminar ini Tom dibantu Pak Yos Suprapto sebagai penerjemah, membagikan pengalamannya mulai dengan menggarap lahan seluas 42 hektarnya itu. Tahun pertama Tom menanam semacam jahe di lahan tersebut dan pada waktu panen, hanya mendapatkan 5 kg per hektar. Suatu bukti akan rendahnya kesuburan tanah itu. Ya, sangat rendah. Namun sekarang lahan tersebut sudah berubah total menjadi lahan subur, sehat dan produktif dengan pemberian kompos yang berkualitas. Untuk terampil dan berhasil membuat kompos berkualitas, dirinya memerlukan waktu bertahun-tahun.
Di samping itu dia juga meneliti beberapa tanaman untuk bahan pestisida alami. Pestisida andalan hasil penelitiannya yang diajarkan kepada peserta adalah fermentasi daun cemara (Casuarina, sp). Caranya daun cemara dimasukkan ke dalam drum hingga drum penuh namun tanpa ditekan-tekan. Setelah itu ditambahkan air hingga daun cemara terendam kemudian direbus hingga mendidih beberapa lama, didinginkan, ditutup dan dibiarkan agar terjadi fermentasi tanpa penambahan bakteri apapun selama 3 hari hingga air berwarna seperti air teh dan berbau harum. Setelah terfermentasi, larutan dicampur dengan air biasa dan diaplikasikan dengan cara disemprotkan ke bagian atas dan bawah daun atau buah yang terkena penyakit. Fermentasi daun cemara dapat digunakan untuk mengendalikan penyakit akibat jamur dan bakteri.
Tom mengerjakan lahan seluas itu sendiri. Hanya saat-saat tertentu seperti pengolahan tanah atau panen, dia memerlukan tenaga kerja tambahan. Sangat kontras dengan kondisi pertanian di Indonesia di mana luas lahan garapan seorang petani dampingan Trukajaya hanya 0,35 hektar, itu pun bukan miliknya sendiri.
Tom memang sengaja memilih lahan yang rusak untuk mengetahui perbandingan kondisi awal dengan kondisi akhir dalam penerapan BDA. Dia menerapkan ilmu BDA dengan penuh ketelatenan di bawah pengarahan Alexei Podolinsky tahun 1990-1994. Pengembangan secara luas metode BDA adalah  menggunakan pupuk organic, menanam tanaman penutup tanah dan melakukan rotasi tanaman.
Pupuk organic untuk mendukung kehidupan mikrobia tanah dan menyuburkan tanah secara keseluruhan. Penggunaan tanaman penutup tanah berupa LCC (Legume Cover Crop) terutama  karena LCC pada umumnya memiliki bintil akar akibat infeksi bakteri Rhizobium dalam tanah, sehingga bintil akar tersebut dapat mengikat Nitrogen bebas dari udara, maka tak perlu urea, kemudian fungsi lain menguatkan teras, menahan pencucian tanah oleh air hujan serta mendukung keseimbangan biologi tanah. Adapun rotasi tanaman dilakukan untuk memutus siklus hama dan penyakit. 
 Pertanian Organik memang sudah dikenal di Indonesia. Namun menurut Tom, banyak petani Indonesia yang membuat kompos secara asal-asalan atau tidak diproses lebih dulu sehingga kompos berbau. Bagi yang cukup familiar lewat pegunungan di Jawa Tengah, contohnya areal pertanian di Kopeng lereng Merbabu atau tempat lain yang di pinggir areal itu terdapat bertumpuk karung pupuk organic yang berbau busuk. Padahal kompos seperti itu akan berpengaruh buruk pada kesehatan tanah dan pertumbuhan tanaman.
Semua bahan organic dapat dibuat dikomposkan, tetapi kunci membuat kompos yang baik adalah :
  1. Kondisi hangat
  2. Kalau terlalu basah akan busuk, kalau terlalu kering akan terlalu lama jadinya
  3. Pembuatan kompos harus di atas tanah, bukan di atas alas semen atau bahan lain.
  4. Ada sirkulasi udara, bukan anaerob.
  5. Kompos tidak dibuat di bawah pohon
  6. Kompos tidak berbau busuk tetapi berbau harum
  7. Kompos yang baik, jika dipegang berbentuk, tetapi saat dilepas langsung pecah.
Tom menyarankan tidak membuat kompos dari kotoran manusia, karena biasanya mengandung bermacam-macam patogen sehingga sulit dikontrol.

Belajar dari kearifan lokal

Dalam seminar ini, dihadirkan pula Dr. Yohanes Hendro Agus dari Fakultas Pertanian UKSW untuk memberi second opinion atau menanggapi penyampaian Tom Meredith tentang BDA. Pak Yohanes justru punya pengalaman pernah masuk ke dalam lingkungan suku Badui dan tinggal di sana selama 2 bulan. Suku Badui di Banten terkenal sebagai masyarakat yang anti teknologi modern, hidup apa adanya, mereka dapat hidup dengan mengambil buah dan sayuran di kebun untuk makan secukupnya, cukup 1 baju kalau belum rusak tidak perlu ganti, mereka tidak punya keinginan beli televisi, beli mobil atau barang-barang lain, tidak membangun rumah tembok, dan berbagai aturan lain yang mencerminkan kesederhanaan. Mereka justru punya otoritas penuh mengatur wilayahnya tanpa campur tangan pihak luar termasuk otoritas untuk menjaga keseimbangan alam, tidak mengeksploitasinya. Contoh di Jawa Tengah yang hampir mirip adalah masyarakat Samin di Blora Jawa Tengah dengan hidup sederhana, justru lebih pandai menjaga kelestarian lingkungan
Tentang BDA, Pak Yohanes juga menyatakan pada intinya BDA menjaga keseimbangan siklus berbagai unsure dalam pertanian organic.



Salatiga, Pebruari 2010



 Eunike Widhi Wardhani

(diambil dari catatan hasil seminar BDA yang diselenggarakan oleh Trukajaya pada tanggal 10 Pebruari 2010 di aula Sinode GKJ Salatiga-Jawa Tengah-Indonesia)


 

Jumat, 26 Oktober 2012

Nikkorai Adriel Dahono

Kelahiran anakku yang ke dua
Penantian sejak bulan Pebruari lalu, berujung di hari Selasa Kliwon tanggal 23 Oktober tahun ini juga, saat anakku yang ke dua lahir. Aku bersyukur, semuanya lancar dan sehat.
Proses kelahiran hampir sama dengn kakaknya, yaitu ketuban pecah duluan. Pagi  jam 6.30 hari itu aku merasakan air ketubanku pecah dan segera kuhubungi dokterku. Selanjutnya aku diberi obat perangsang kontraksi karena baru bukaan 2. Waktu berlalu, jam demi jam, menit demi menit dan detik-detik itu datang juga saat sakit yang sudah tak tertahan lagi sekitar setengah jam, pada jam 11.35 suara tangis bayiku memecah suasana tegang menjadi berjuta kelegaan.
Aku bersyukur karena semua ini sungguh tak terduga, aku diperkenankan Tuhan untuk menerima kehadirannya lebih cepat 13 hari dari perkiraan lahir 5 Nopember. Bayiku lahir tanpa aku mengejan. Rasa sakit yang mendahuluinya meskipun sudah bukaan lengkap (bukaan 10) harus kutahan atas instruksi bidan yang menolong saat itu gara-gara nunggu dokternya tidak kunjung datang. Begitu dokter datang, bayiku keluar sendiri tanpa aku mengejan. Justru sejak pertama aku harus menahan rasa mengejan itu karena kepala bayiku mendorong begitu kuat dan terasa panas seperti terbakar.
Nama yang sudah disiapkan suamiku ada 2 pilihan : Devara Adriel Davy atau Nikkorai Adriel Davy (yang ke dua ini kalau lahirnya siang hari). Oleh karena lahirnya memang siang hari, maka nama kedua dipilih. Tetapi aku masih kurang sreg, karena aku berharap ada nama jawanya, berhubung kami semua keluarga jawa. Akhirnya aku usulkan nama Dahana di belakang sebagai pengganti kata Davy. Nama Dahana (baca=Dahono) yang berarti api, kupilih karena kesan yang selalu kuingat pada proses kelahirannya. Dorongannya yang kuat, membuatku terasa seperti terbakar api. Kemudian suamiku mengusulkan, jangan Dahana karena orang akan membaca sesuai hurufnya yaitu Dahana. Kalau ingin dibaca orang “dahono”, berarti namanya itu sekalian, dengan huruf o. Akhirnya kami memutuskan nama Nikkorai Adriel Dahono anakku yang ke-dua ini.
Selamat datang anakku. Kehadiranmu melengkapi kehidupan keluarga kita. Doa ibu : kau tumbuh jadi anak yang berbudi, beriman dan kuat melewati setiap kesulitan yang kautemui dalam hidupmu kelak.
Terima kasih Tuhan.

Jumat, 05 Oktober 2012

Selamat ulang tahun ke 6 tahun Marthasankyu Kineta Magdalena



Anakku sayang,
Tgl 3 Oktober, 2 hari yang lalu genap 6 tahun usiamu. Kau permata hati yang diberikan Tuhan kepada kami 6 tahun yang lalu. Kehadiranmu sangat special bagi kami. Kau tumbuh sehat dan cerdas meskipun keadaan tak selalu nyaman di masa pertumbuhanmu. Kau mengalami masa-masa menyakitkan sebagai seorang anak berbeda dengan anak-anak lainnya saat ibumu kehilangan momen berharga menyaksikan kau tumbuh, karena satu tugas penting selama 3 bulan waktu itu. Tapi kau mampu melewatinya dengan baik.
Tak banyak yang bisa bapak-ibu berikan sebagai kado ultahmu kali ini selain harapan dan doa agar kelak kau menjadi anak yang bijak, baik hati, jujur dan kuat menghadapi tantangan hidup.
Ibu teringat betapa lembutnya hatimu, dan perasaanmu yang sangat halus. Setiap kali ibu merintih kesakitan karena keloid ibu yang sangat sakit, kau ikut menangis. Sebenarnya ibu tak ingin melihatmu bersedih. Tetapi sakit yang ibu derita sungguh tidak bisa ditahan. Dan saat hamil adikmu ini, sakit di keloid ibu semakin sering terasa dan berlipat-lipat kali menyakitkan dibanding sebelum hamil. Mungkin bukan karena hamilnya, tetapi karena vitamin yang ibu minum yang menyebabkan kacaunya hormon di tubuh ibu hingga terasa nyeri. Ibu terharu setiap kali kau ikut menangis dan berkata “aku kasian kalau ibu kesakitan terus, akau nggak mau ibu sakit terus. Di sekolah aku sering kepikiran ibu sakit…” kata-kata seorang anak kecil yang cukup membuatku tersentuh, betapa sayangnya dia padaku.
Enam tahun sudah umurmu Tata, kau jadi tambah besar dan cantik.
Ibu senang setiap kau tersenyum membawa pulang nilai-nilai ulanganmu yang bagus, tidak banyak yang 100 tapi ibu cukup bangga dengan prestasimu, nak.
Ibu juga bangga karena kau tidak menyusahkan ibu. Sedikit rewel kadang-kadang, tapi kau anak yang cukup penurut dan tidak sulit membuatmu paham maksud orang tua.
Tata anakku sayang, di ultahmu ke 6 tahun ini, meskipun tidak ada kado istimewa dari kami (dan kau sebenarnya sempat nyelutuk : yang ngasih kado cuma YangTi dan YangKung), tapi kau juga tidak menuntut/ meminta kado dari kami. Kami terharu nak, kau begitu baik dan tidak penuntut. Kau mengerti bahwa saat ini ibu-bapak sedang butuh biaya banyak untuk persiapan kelahiran adikmu tak lama lagi.
Doa kita bersama di hari ultahmu kiranya menjadi semangat untukmu menjalani hari-hari depan yang ceria di masa kecilmu.
Kami akan terus berusaha mencukupi kebutuhanmu, meskipun tidak mewah, tidak dengan barang-barang mahal tapi dengan kasih sayang yang kami punya. Kebersamaan kita jauh lebih berharga daripada barang-barang mahal dan segala kemewahan. Ibu berdoa kelak kau jadi anak yang bisa berhasil karena usahamu sendiri, bisa menikmati hidup dan bahagia dengan apa yang kau miliki itu.
Di tengah nyeri yang ibu rasakan, ibu tetap akan memberikan cinta yang terbaik untukmu…
Selamat ulang tahun anakku…

Jumat, 03 Agustus 2012


Belajar dari Wong Samin mengelola pangan

 “Mengapa harus mencuri, wong minta saja diberi? Mengapa harus lari saat dikejar, karena semakin kita berlari kita tidak pernah bisa berhenti. Kalau tidak bisa berhenti, maka kita tidak akan pernah merenung menghayati kehidupan ini. Ayo, masuk ke rumah saya, makan bersama saya. Nanti setelah makan, kamu ambil itu pisang, jagung dan kelapa untuk makan dan minum kalian”. Itu sekelumit kata-kata WS. Rendra dalam perannya sebagai Simbah
dalam sebuah film berjudul “Lari dari Blora”

Film bertema Harmony Without The Law itu menggambarkan bahwa harmonisasi hidup wong Samin (mereka juga senang disebut sebagai sedulur sikep) bisa terwujud lebih baik meskipun di desa itu tidak ada hukum yang mengatur rakyatnya secara ketat. Orang merasa tidak perlu surat nikah, KTP, atau surat-surat lainnya, bahkan agama pun mereka maknai sendiri tanpa harus tunduk pada label atau ajaran dari luar komunitasnya. Segala hal dalam hidup diatur oleh kesepakatan bersama dan ditaati oleh semua pihak terutama kehidupan yang harmonis dengan alam dan hubungan dengan sesama.
Wong Samin begitu menjunjung tinggi kesepakatan mereka dan bangga dengan cara hidup mereka itu, meskipun masyarakat di luar komunitasnya, bahkan yang paling dekat pun melecehkannya, menganggap primitif dan tidak punya aturan. Padahal yang mereka jalankan, ya itulah aturan mereka.
Selama harmoni dengan alam itu dijaga, wong Samin tidak pernah kuatir kekurangan pangan karena mereka hanya mengambil makanan secukupnya untuk hidup.
Kehidupan Wong Samin sangat bertolak belakang dengan kehidupan di luar kelompok itu yang terlanjur mengedepankan ambisi-ambisi untuk menguasai orang lain, menguasai kelompok lain, mengusai negara lain, menguasai dunia. Dalam hal pangan, persis seperti itulah yang terjadi di kebanyakan negara di dunia ini. Semua negara berperang strategi untuk menjelajah ke setiap penjuru dunia, melintasi batas-batas untuk berebut sumber pangan, sumber energy dan dan sumber air. Yang kuat itulah yang menang dan menguasai yang lain. Itulah globalisasi yang sudah menyatu dengan kehidupan kita, sudah lebih tua dari umur kita dan sudah masuk dalam aliran darah kita.
Wong Samin hanya satu contoh komunitas yang mampu bertahan dalam gilasan globalisasi pangan dunia. Ada suku Baduy di Jawa Barat, ada suku Boti di NTT dan mungkin masih banyak yang lain di Indonesia ini yang belum tersentuh atau memang secara tegas menolak sentuhan globalisasi. Peradaban yang dianggap tertinggal itu, justru sekarang banyak dikagumi orang dan menjadi tempat belajar bagi banyak orang tentang kehidupan, pangan, air dan energy.

Pangan menjadi komoditas politik kepentingan
Pangan yang dulunya merupakan sebuah kebutuhan untuk hidup, berkembang dan memperoleh gizi yang cukup, lambat laun bergeser pada soal-soal bisnis pemuasan keinginan, kreativitas di dunia kuliner, trend dan iming-iming lain yang tak sekadar soal gizi untuk kebutuhan hidup manusia. Persoalan pangan masih menjadi polemik besar di Indonesia dari tahun ke tahun dari pemerintahan ke pemerintahan berikutnya dan dari kota besar sampai daerah perdesaan padahal Indonesia konon adalah negara agraris.
Negara yang disebut agraris (negara yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani) ternyata belum merupakan jaminan ketersediaan pangan yang cukup bagi rakyatnya. Sebaliknya negara bukan agraris juga bisa menguasai pangan. Jadi apa kaitan sebuah sebutan negara agraris dan bukan agraris bagi citra kecukupan pangan yang layak dan sehat di suatu negara? Secara logika, seharusnya berkaitan erat, tetapi kondisi riil bisa menunjukkan itu tidak berkaitan sama sekali.
Pembahasan mungkin bisa melebar ke soal ketahanan pangan atau kedaulatan pangan. Kalau Singapura yang makanan pokok rakyatnya beras, tidak pernah kekurangan beras padahal tidak punya sawah sedikitpun. Indonesia punya lahan subur dan sangat luas untuk memproduksi pangan sehat dan berkualitas, sumber daya alam berlimpah, sumber daya manusia pun sangat berlimpah. Seharusnya ketahanan pangan sekaligus kedaulatan pangan bisa terwujud di Indonesia. Tetapi kenyataannya bertolak belakang. Kita pemilik pangan tetapi pangan kita didikte. Harga kedelai kita didikte, kita diimporkan beras dari Thailand, diimporkan garam hanya karena kurangnya keberpihakan pemerintah pada pengembangan produksi garam rakyat, padahal wilayah Indonesia dikelilingi sumber garam. Produk buah impor, bawang impor, daging impor dan masih banyak produk impor lainnya juga menjajah pasar pangan Indonesia. Negeri kita penghasil kopi, kakao dan rempah-rempah terbaik di dunia, tetapi itu diekspor dalam bentuk bahan mentah, diolah negara lain dan produk jadinya kita beli dengan harga jauh lebih mahal, karena lagi-lagi kita lemah di pengolahan hasil pertanian. Kebijakan ekspor-impor tidak lagi berpegang pada kebutuhan rakyat tetapi sarat nuansa politik kepentingan. Itulah seretan arus globalisasi yang kita rasakan saat ini, banyak kepentingan yang berlomba-lomba menguasai kebijakan suatu negara.

Menghargai potensi yang dimiliki
Kembali pada penghormatan terhadap sumber-sumber pangan yang dilakukan wong Samin, kita hendaknya memahami dan memahamkan semua orang bahwa pangan sudah seharusnya diletakkan pada posisi hak semua orang untuk mendapatkan, tidak boleh ada monopoli, tidak boleh ada satu orang atau kelompok menguasai pangan sedangkan orang lain tergantung padanya.

Dalam persoalan air, pangan dan energi nasional (juga kekayaan alam lainnya), kita semua perlu kembali memahami UUD 1945 pasal 33 yang menjadi dasar pengelolaan sumber-sumber daya air, bumi dan kekayaan alam Indonesia untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Kiranya esensi dari UUD 1945 itu tidak boleh sekadar dibaca secara formal pada upacara-upacara 17 Agustusan, tetapi dipahami isinya, karena itu merupakan komitmen para pendiri negara ini termasuk seluruh rakyat saat menyelenggarakan republic ini. Generasi penerus sekarang ini perlu meneruskan pemahaman yang sama dengan para pendiri negara Indonesia waktu itu.
Jiwa kebersamaan ini yang mulai pudar karena terlibas oleh jiwa individualis yang egois. Jiwa individualis itu yang sekarang lebih mewarnai sikap dan perilaku mulai dari para pemimpin sampai rakyat di era globalisasi ini. 

Oleh karenanya Bung Karno pernah mengatakan jiwa Negara kita Pancasila. Dan kalau Pancasila diperas lagi maka hanya satu sila yakni gotong-royong. Karakter gotong royong itu yang kini hilang dalam diri bangsa kita yang amat heterogen dan merupakan wilayah negara kepulauan ini. Heterogenitas bisa menjadi kelemahan karena mudah untuk dipecah belah oleh pihak luar (sudah terjadi), tetapi sebenarnya merupakan kekuatan yang tidak dimiliki bangsa lain karena bisa saling melengkapi dengan potensi yang sangat bervariasi (belum dicoba serius). 

Cengkeraman penguasaan pangan dunia tidak lepas dari penguasaan air dan energy. Tahukah anda, bahwa para pelaku eksploitasi sumber-sumber pangan, air dan energy dunia sudah meng-kapling-kapling wilayah Indonesia ini di peta mereka untuk ditambang kapan saja sesuai kebutuhan layaknya milik nenek moyangnya sendiri dan untuk kekayaan mereka sendiri? Contoh nyata (tetapi di luar konteks pangan) yang sudah terjadi adalah penambangan emas di Papua oleh PT. Freeport Amerika. Gunung emas dijual murah begitu saja ke orang lain. Pemerintah dapat apa? Paling royalty, itu saja sudah diakali oleh perusahaan penambangan. Lebih parah lagi, rakyat dapat apa? Rakyat semakin tidak dapat apa-apa. Siapa yang menikmati? Tentu saja penambangnya, bukan pemiliknya (diskusi tentang kebijakan pemerintah berkait penambangan di NTT, di acara Bedah Editorial MI, Metro TV 2 Agustus 2012). Enak benar ya penambangnya? Pertanyaan besarnya : kok pemerintah mau ya menandatangani persetujuan yang merugikan seperti itu? Padahal kalau gunung emas itu masih “milik” orang Papua, tidak mustahil nilai rupiah jauh di atas nilai dollar Amerika, orang Papua bisa ngrembyong mas-masan di tubuhnya dan hidup sejahtera berkelimpahan dan Indonesia benar-benar sejahtera seperti lagu Kolam Susu-nya Koes Plus. Tetapi yang terjadi tidak demikian kan? Seperti itu jugalah cengkeraman globalisasi-neoliberalisasi terhadap dunia pangan Indonesia. Kita sendiri yang seharusnya menentukan sikap untuk kedaulatan pangan bersama rakyat Indonesia.

Langkah alternatif
Wong Samin yang tinggal beberapa tempat di kabupaten Pati dan Grobogan, mengajarkan kita bahwa sebenarnya orang tidak perlu berebut pangan, bahkan harus mau berbagi dengan orang lain yang lapar dan membutuhkan pangan. Mereka berprinsip untuk mengambil pangan secukupnya yang dibutuhkan, bukannya mengambil lebih untuk dijual agar menjadi kaya karena ada hak orang lain untuk mengambilnya juga sesuai kebutuhan. Mereka sudah menemukan harmoninya sejak seabad yang lalu, sementara orang lain masih bingung mencarinya. Walaupun datang dan belajar pada wong Samin tetap saja berperilaku hidup serakah, nggrangsang dan bermental ndremis.Wong Samin menjaga kebersamaan dalam mengelola pangan di komunitasnya.

Pengembangan pangan, air dan energy yang seperti apa yang menjadi perjuangan bersama kita? Siapa musuh bersama kita dan apa stretegi yang konkret bisa kita lakukan bersama? Haruskah kita mengikuti cara hidup wong Samin? Tidak harus seekstrem itu. Lalu bagaimana caranya?
Kembali ke soal pangan, secara local langkah konkret bersama untuk membangun kedaulatan pangan dan kedaulatan petani adalah :
1.       Kenali dan sadari dulu bahwa kita kaya akan potensi-potensi local pangan dan energy. Umbi-umbian, beras, buah, sayuran, kopi, kakao, cengkeh, teh, berbagai jenis tanaman obat herbal, produk ternak : daging, telur, susu, produk perikanan, dsb.
2.       Kembangkan potensi local itu secara mandiri, tidak perlu menunggu instruksi dari orang lain : pak RT, pak lurah, bupati atau presiden. Yang bisa dilakukan, langsung dilakukan dengan menangkarkan benih dan bibit tanaman pangan dan ternak local yang ada.
3.       Kembangkan jiwa kebersamaan dengan berorganisasi yang bermanfaat bagi seluruh anggota, bukan organisasi untuk menguasai pangan, air dan energy orang lain.
4.       Kurangi/ batasi atau sebisa mungkin hentikan konsumsi produk pangan impor (beras, buah, sayuran, daging, ikan, susu, telur, dsb) di keluarga kita dan konsumsilah produk-produk local Indonesia. Jangan terkecoh oleh penampilan produk impor yang lebih segar dan harga murah, karena harga murah di awal ini hanya strategi sementara untuk menghajar produk local kita. Kalau produk-produk pangan kita sudah dilumpuhkan (tidak laku), maka harga produk impor akan dinaikkan, saat itu kita sudah tidak bisa mencari produk local karena sudah dipunahkan dari pasaran.
Kedaulatan pangan nasional dibangun dari kedaulatan pangan local, sehingga kunci keberhasilannya terletak pada komitmen seluruh rakyat Indonesia untuk mengembangkan potensi pangan local.


Eunike Widhi Wardhani

Senin, 30 Juli 2012

Kehamilan ke 2-ku


Catatan pribadiku
Pengalaman berkesan pada kehamilan ke dua
Ingin berbagi cerita tentang kehamilanku yang ke dua ini.
Dua tahun yang lalu (2010), aku merencanakan hamil tapi belum berhasil. Mungkin pengaruh beban pikiran, karena waktu itu aku masih jadi manajer program. Tahun ini malah berkat Tuhan, aku hamil lagi. Ya udah, bersyukurlah aku, mumpung belum 40 tahun, meskipun hampir. He..he..
Pengalaman hamil sekarang sedikit berbeda dengan yang dulu. Hamil pertama dulu aku cukup kuat, kerja lapang ke desa-desa, sampai Kedungombo, naik motor tiap hari sampai nginap di Karanggede semua berjalan enteng-enteng saja. Tapi hamil kali ini, sejak usia 12 minggu, badan ini rasanya lemas terus dan sempat disuruh dokter Adi untuk bedrest 1 minggu dan diberi obat penguat rahim. Kata dokter itu, ada rupture di rahimku (semacam keretakan yang cukup riskan, sehingga harus tiduran terus seminggu). Segala urusan rumah tangga dilakukan suamiku mulai dari cuci piring, masak, cuci baju, sampai menyiapkan keperluan anak pertama kami untuk sekolah. Setelah mas bedrest itu usai, aku priksa lagi, hasilnya puji Tuhan rahimku mulai kuat.
Di usia kehamilan 16 minggu muncul juga acara mual dan muntah. Kalau ini sama dengan hamil pertama dulu. Bedanya sekarang aku malas makan, jadi mual muntahnya lebih parah dibanding hamil yang dulu. Sampai usia 20 minggu, terakhir aku pernah mengalami heart burn sampai muntah waktu antar suamiku priksa ke dokter karena asmanya kambuh. Jadi sebenarnya suamiku yang sakit, tapi janin di kandunganku juga ikut merasakan, begitu kale…ya…
Sekarang di usia kehamilan 27 minggu, perutku terlihat semakin buncit. Ukuran perutku sekarang lebih besar, membesarnya ke atas dan bentuknya membulat. Sedangkan hamil pertama dulu lebih kecil dan membesarnya ke bawah (agak menggantung). Aku tidak mau mengait-ngaitkan itu dengan prediksi jenis kelamin bayiku. Lagipula waktu periksa bulan Juli lalu, kebetulan aku lupa menanyakan kepada dokter tentang jenis kelamin bocah ini. Ah, biarlah…santai saja…cowok atau cewek, matur nuwun saja.
Kalau perkiraan lahir nanti, kata dokter 5 Nopember 2012. Tapi feelingku kayaknya kok maju ya. Karena sekarang saja kurasa perutku sudah besar. Kalau masih nunggu sampai 3 bulan lagi, apa nggak lebih besar banget nanti. Padahal konsumsi makanku pada hamil ini lebih sedikit dibanding yang dulu. Kadang malas makan, jarang makan 3 kali sehari. Kalau hamil pertama dulu, makan pasti 3 kali sehari, masih ditambah susu dan vitamin. Tapi biarlah, sekarang yang penting aku siap-siap. Kadang ada rasa bersalah juga, karena aku lebih santai sekarang, konsumsi makan dan vitamin aku tidak setertib dulu. “Moga kamu sehat ya nak…”
Tapi aku senang kehamilanku sekarang membuat suamiku lebih rajin mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Mungkin karena sudah latihan waktu aku bedrest dulu, maka sampai sekarang dia juga terbiasa cuci piring, cuci baju dan bersih-bersih rumah. Aku jadi agak santai dan bisa istirahat.
Gerakan janinku baru kurasakan pertama pada usia 20 minggu. Padahal aku sudah menunggu-nunggu sejak usia 16 minggu, seperti pengalaman bumil lainnya pada kehamilan bukan pertama, katanya terasa lebih awal. Tapi ternyata itu tidak berlaku bagiku. Dari awalnya cuma gerakan halus, pada usia 26-27 minggu (sekarang ini) semakin terasa sebagai menjadi tendangan keras. Tendangan Si Madun…he..he…

Di tengah keasyikan menikmati kehamilanku ini, ada juga pengalaman sedih yaitu pada awal Juli lalu saat suamiku masuk rumah sakit dan opname karena serangan sesak napas. Bocah dalam kandunganku ini terpaksa ikut nunggui bapaknya opname di RS selama 5 hari, tapi gantian dengan ibu mertua. Puji Tuhan, bocah ini kuat dan baik-baik saja. Tiap hari kurasakan gerakannya meskipun masih halus.
Baru terasa sebagai tendangan keras si bocah pada pertengahan Juli (usia 25 minggu), biasanya terasa pada jam 7-10 sore hingga malam, jam 5-6 pagi dan kadang siang pas kerja. “Penasaran, sebenarnya kau lagi ngapain nak, di dalam situ?”. Ibu berdoa, kau baik-baik saja dan kelak lahir selamat dan sehat, tak kurang suatu apapun.

Sabtu, 03 Maret 2012

Polemik Kedaulatan Pangan


Polemik Kedaulatan Pangan
 
Keprihatinan akan krisis pangan, energy dan air sudah dimulai puluhan tahun, bahkan krisis pangan kita sudah dimulai sejak berabad-abad yang lalu di zaman penjajahan Belanda. Dengan culture stelsel/ tanam paksa rakyat pribumi dipaksa menanam tanaman tertentu, dan tanam paksa itu telah membunuh 200.000 -300.000 nyawa rakyat pribumi Indonesia. Untuk ketahanan pangan siapa? Ketahanan pangan Belanda. Heran juga, jumlah penduduk saat itu belum sepadat sekarang, kok mati sebanyak itu ya. Bukan karena ditembak tetapi mati kelaparan. Pemilik pangan, justru mati kelaparan demi ketahanan pangan orang lain. Tetapi itulah fakta sejarah yang sungguh ironis.

Nusantara subur, zamrud kathulistiwa yang gemah ripah loh jinawi, bahkan ada yang meyakini Indonesia adalah negeri Atlantis yang hilang, negeri dengan kemakmuran, teknologi dan peradaban tinggi serta terkenal dengan kesuburan dan kejayaannya, lepas dari benar/tidaknya legenda itu, negeri kita ini jadi rebutan untuk dijarah rayah oleh negara-negara maju pada era imperium. Mulai dari pangan berkualitas, rempah-rempah sampai emas terbaik dilahirkan dari perut Ibu Pertiwi kita ini. Kita memiliki semuanya yang kualitas nomor 1 di dunia. Dan sampai saat ini penjarahan itu masih berlangsung namun dalam bentuk yang berbeda.
 
Berikut ini penguasa rantai pangan Indonesia : benih/ bibit pangan dan agrokimia dikuasai oleh Syngenta, Monsanto, Dupont dan Bayer. Pangan serat, pedagangan dan pengolahan bahan mentah dikuasai oleh Cargill, Louis Dreyfus dan ADM. Pengolahan pangan dan minuman dicengkeram oleh Nestle, Kraft Food, Unilever dan Pepsi Co. Pasar eceran pangan dikuasai Carrefour, Wal Mart, Metro dan Tesco (Sumber : Kompas, 2 Pebruari 2012).
 
Kebijakan pemerintah tentang ekspor/ impor pangan, belum pernah berpihak kepada petani. Malah sampah/ limbah diimpor, iya. 

Globalisasi pertanian memang sudah berlangsung ratusan tahun, lebih tua dari umur kita dan sudah masuk ke dalam aliran darah kita. Kita harus jujur terlebih dulu, siapapun kita sulit menghindar dari serangan produk pangan impor. Tetapi apakah kita akan membiarkan semua itu? Apa yang bisa kita lakukan sebagai gerakan?

Secara ekstrem, kita bisa stop konsumsi pangan berbahan gandum yaitu semua mi (jadi tidak hanya mi instan lho ya), roti, biscuit, sereal kemasan, buah, sayuran, beras, telur dan daging impor.
Yang menyedihkan, tempe dan tahu yang merupakan makanan rakyat Indonesia tulen, sekarang kedelainya dari impor dan transgenic. Piye jal? Kalau ekstrem, ya berhenti makan tempe dan tahu kecuali kita tahu kedelainya local dan organik. Stop konsumsi junk food. Tapi relistiskah itu sebagai gerakan? 
Sementara masih banyak fakta yang menunjukkan kita sulit lepas dari konsumsi pangan yang tanpa kita sadari itu tidak berpihak pada petani Indonesia tetapi justru berpihak pada penjajahan pangan.
Kita masak sayur masih menggunakan MSG, selain itu kita masih makan ayam sayur, telur leghorn, tempe-tahu transgenic, kerupuk yang sarat MSG dan bleng, jajanan kita juga masih roti, biscuit, kue dan mi berbahan gandum (impor), jajanan dari jagung meskipun jagung ditanam di Indonesia namun itu juga jagung hibrida yang sepaket dengan pupuk dan pestisida kimia. Susu formula juga impor. Kita masih makan semangka dan melon yang disemprot Furadan, Decis, Score dan dipupuk urea dan Phonskha. Untuk wedang manis, kita masih pakai gula impor yang pakai pemutih. Kita masih makan bakso yang mengandung borax, mi ayam (gandum impor berikut penyedapnya). Kalau mau njlimet, harus stop semua itu. Kalau mau ya konsumsi daging ayam kampung dan telur ayam kampung dari ternak piaraan sendiri, buat bakso sendiri tanpa borax. Anak-anak ke sekolah kita bekali makanan dari telo, ganyong atau kimpul.
Atau agak moderat semacam gerakan car free day, tetapi konteksnya pangan. Saat tertentu di kantor-kantor atau forum seminar disajikan makanan karbohidrat non gandum seperti i uwi, gembili, garut, kimpul, suweg, ubi jalar, kentang local, singkong dan ganyong. Tidak boleh lagi menyajikan masakan ber-MSG, ayam sayur, telur leghorn, termasuk tempe mendoan (karena ada gandumnya, kedelainya impor dan transgenik). Atau bagaimana ya.
Strategi advokasi dan suksesnya gerakan pertanian organik diharapkan bisa terwujud kalau kita mulai dari diri kita sendiri. Siapkah kita menjadikan diri kita sebagai icon organik melalui sikap dan gaya hidup kita untuk kedaulatan pangan dan harkat petani?