Jumat, 05 Oktober 2012

Selamat ulang tahun ke 6 tahun Marthasankyu Kineta Magdalena



Anakku sayang,
Tgl 3 Oktober, 2 hari yang lalu genap 6 tahun usiamu. Kau permata hati yang diberikan Tuhan kepada kami 6 tahun yang lalu. Kehadiranmu sangat special bagi kami. Kau tumbuh sehat dan cerdas meskipun keadaan tak selalu nyaman di masa pertumbuhanmu. Kau mengalami masa-masa menyakitkan sebagai seorang anak berbeda dengan anak-anak lainnya saat ibumu kehilangan momen berharga menyaksikan kau tumbuh, karena satu tugas penting selama 3 bulan waktu itu. Tapi kau mampu melewatinya dengan baik.
Tak banyak yang bisa bapak-ibu berikan sebagai kado ultahmu kali ini selain harapan dan doa agar kelak kau menjadi anak yang bijak, baik hati, jujur dan kuat menghadapi tantangan hidup.
Ibu teringat betapa lembutnya hatimu, dan perasaanmu yang sangat halus. Setiap kali ibu merintih kesakitan karena keloid ibu yang sangat sakit, kau ikut menangis. Sebenarnya ibu tak ingin melihatmu bersedih. Tetapi sakit yang ibu derita sungguh tidak bisa ditahan. Dan saat hamil adikmu ini, sakit di keloid ibu semakin sering terasa dan berlipat-lipat kali menyakitkan dibanding sebelum hamil. Mungkin bukan karena hamilnya, tetapi karena vitamin yang ibu minum yang menyebabkan kacaunya hormon di tubuh ibu hingga terasa nyeri. Ibu terharu setiap kali kau ikut menangis dan berkata “aku kasian kalau ibu kesakitan terus, akau nggak mau ibu sakit terus. Di sekolah aku sering kepikiran ibu sakit…” kata-kata seorang anak kecil yang cukup membuatku tersentuh, betapa sayangnya dia padaku.
Enam tahun sudah umurmu Tata, kau jadi tambah besar dan cantik.
Ibu senang setiap kau tersenyum membawa pulang nilai-nilai ulanganmu yang bagus, tidak banyak yang 100 tapi ibu cukup bangga dengan prestasimu, nak.
Ibu juga bangga karena kau tidak menyusahkan ibu. Sedikit rewel kadang-kadang, tapi kau anak yang cukup penurut dan tidak sulit membuatmu paham maksud orang tua.
Tata anakku sayang, di ultahmu ke 6 tahun ini, meskipun tidak ada kado istimewa dari kami (dan kau sebenarnya sempat nyelutuk : yang ngasih kado cuma YangTi dan YangKung), tapi kau juga tidak menuntut/ meminta kado dari kami. Kami terharu nak, kau begitu baik dan tidak penuntut. Kau mengerti bahwa saat ini ibu-bapak sedang butuh biaya banyak untuk persiapan kelahiran adikmu tak lama lagi.
Doa kita bersama di hari ultahmu kiranya menjadi semangat untukmu menjalani hari-hari depan yang ceria di masa kecilmu.
Kami akan terus berusaha mencukupi kebutuhanmu, meskipun tidak mewah, tidak dengan barang-barang mahal tapi dengan kasih sayang yang kami punya. Kebersamaan kita jauh lebih berharga daripada barang-barang mahal dan segala kemewahan. Ibu berdoa kelak kau jadi anak yang bisa berhasil karena usahamu sendiri, bisa menikmati hidup dan bahagia dengan apa yang kau miliki itu.
Di tengah nyeri yang ibu rasakan, ibu tetap akan memberikan cinta yang terbaik untukmu…
Selamat ulang tahun anakku…

Jumat, 03 Agustus 2012


Belajar dari Wong Samin mengelola pangan

 “Mengapa harus mencuri, wong minta saja diberi? Mengapa harus lari saat dikejar, karena semakin kita berlari kita tidak pernah bisa berhenti. Kalau tidak bisa berhenti, maka kita tidak akan pernah merenung menghayati kehidupan ini. Ayo, masuk ke rumah saya, makan bersama saya. Nanti setelah makan, kamu ambil itu pisang, jagung dan kelapa untuk makan dan minum kalian”. Itu sekelumit kata-kata WS. Rendra dalam perannya sebagai Simbah
dalam sebuah film berjudul “Lari dari Blora”

Film bertema Harmony Without The Law itu menggambarkan bahwa harmonisasi hidup wong Samin (mereka juga senang disebut sebagai sedulur sikep) bisa terwujud lebih baik meskipun di desa itu tidak ada hukum yang mengatur rakyatnya secara ketat. Orang merasa tidak perlu surat nikah, KTP, atau surat-surat lainnya, bahkan agama pun mereka maknai sendiri tanpa harus tunduk pada label atau ajaran dari luar komunitasnya. Segala hal dalam hidup diatur oleh kesepakatan bersama dan ditaati oleh semua pihak terutama kehidupan yang harmonis dengan alam dan hubungan dengan sesama.
Wong Samin begitu menjunjung tinggi kesepakatan mereka dan bangga dengan cara hidup mereka itu, meskipun masyarakat di luar komunitasnya, bahkan yang paling dekat pun melecehkannya, menganggap primitif dan tidak punya aturan. Padahal yang mereka jalankan, ya itulah aturan mereka.
Selama harmoni dengan alam itu dijaga, wong Samin tidak pernah kuatir kekurangan pangan karena mereka hanya mengambil makanan secukupnya untuk hidup.
Kehidupan Wong Samin sangat bertolak belakang dengan kehidupan di luar kelompok itu yang terlanjur mengedepankan ambisi-ambisi untuk menguasai orang lain, menguasai kelompok lain, mengusai negara lain, menguasai dunia. Dalam hal pangan, persis seperti itulah yang terjadi di kebanyakan negara di dunia ini. Semua negara berperang strategi untuk menjelajah ke setiap penjuru dunia, melintasi batas-batas untuk berebut sumber pangan, sumber energy dan dan sumber air. Yang kuat itulah yang menang dan menguasai yang lain. Itulah globalisasi yang sudah menyatu dengan kehidupan kita, sudah lebih tua dari umur kita dan sudah masuk dalam aliran darah kita.
Wong Samin hanya satu contoh komunitas yang mampu bertahan dalam gilasan globalisasi pangan dunia. Ada suku Baduy di Jawa Barat, ada suku Boti di NTT dan mungkin masih banyak yang lain di Indonesia ini yang belum tersentuh atau memang secara tegas menolak sentuhan globalisasi. Peradaban yang dianggap tertinggal itu, justru sekarang banyak dikagumi orang dan menjadi tempat belajar bagi banyak orang tentang kehidupan, pangan, air dan energy.

Pangan menjadi komoditas politik kepentingan
Pangan yang dulunya merupakan sebuah kebutuhan untuk hidup, berkembang dan memperoleh gizi yang cukup, lambat laun bergeser pada soal-soal bisnis pemuasan keinginan, kreativitas di dunia kuliner, trend dan iming-iming lain yang tak sekadar soal gizi untuk kebutuhan hidup manusia. Persoalan pangan masih menjadi polemik besar di Indonesia dari tahun ke tahun dari pemerintahan ke pemerintahan berikutnya dan dari kota besar sampai daerah perdesaan padahal Indonesia konon adalah negara agraris.
Negara yang disebut agraris (negara yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani) ternyata belum merupakan jaminan ketersediaan pangan yang cukup bagi rakyatnya. Sebaliknya negara bukan agraris juga bisa menguasai pangan. Jadi apa kaitan sebuah sebutan negara agraris dan bukan agraris bagi citra kecukupan pangan yang layak dan sehat di suatu negara? Secara logika, seharusnya berkaitan erat, tetapi kondisi riil bisa menunjukkan itu tidak berkaitan sama sekali.
Pembahasan mungkin bisa melebar ke soal ketahanan pangan atau kedaulatan pangan. Kalau Singapura yang makanan pokok rakyatnya beras, tidak pernah kekurangan beras padahal tidak punya sawah sedikitpun. Indonesia punya lahan subur dan sangat luas untuk memproduksi pangan sehat dan berkualitas, sumber daya alam berlimpah, sumber daya manusia pun sangat berlimpah. Seharusnya ketahanan pangan sekaligus kedaulatan pangan bisa terwujud di Indonesia. Tetapi kenyataannya bertolak belakang. Kita pemilik pangan tetapi pangan kita didikte. Harga kedelai kita didikte, kita diimporkan beras dari Thailand, diimporkan garam hanya karena kurangnya keberpihakan pemerintah pada pengembangan produksi garam rakyat, padahal wilayah Indonesia dikelilingi sumber garam. Produk buah impor, bawang impor, daging impor dan masih banyak produk impor lainnya juga menjajah pasar pangan Indonesia. Negeri kita penghasil kopi, kakao dan rempah-rempah terbaik di dunia, tetapi itu diekspor dalam bentuk bahan mentah, diolah negara lain dan produk jadinya kita beli dengan harga jauh lebih mahal, karena lagi-lagi kita lemah di pengolahan hasil pertanian. Kebijakan ekspor-impor tidak lagi berpegang pada kebutuhan rakyat tetapi sarat nuansa politik kepentingan. Itulah seretan arus globalisasi yang kita rasakan saat ini, banyak kepentingan yang berlomba-lomba menguasai kebijakan suatu negara.

Menghargai potensi yang dimiliki
Kembali pada penghormatan terhadap sumber-sumber pangan yang dilakukan wong Samin, kita hendaknya memahami dan memahamkan semua orang bahwa pangan sudah seharusnya diletakkan pada posisi hak semua orang untuk mendapatkan, tidak boleh ada monopoli, tidak boleh ada satu orang atau kelompok menguasai pangan sedangkan orang lain tergantung padanya.

Dalam persoalan air, pangan dan energi nasional (juga kekayaan alam lainnya), kita semua perlu kembali memahami UUD 1945 pasal 33 yang menjadi dasar pengelolaan sumber-sumber daya air, bumi dan kekayaan alam Indonesia untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Kiranya esensi dari UUD 1945 itu tidak boleh sekadar dibaca secara formal pada upacara-upacara 17 Agustusan, tetapi dipahami isinya, karena itu merupakan komitmen para pendiri negara ini termasuk seluruh rakyat saat menyelenggarakan republic ini. Generasi penerus sekarang ini perlu meneruskan pemahaman yang sama dengan para pendiri negara Indonesia waktu itu.
Jiwa kebersamaan ini yang mulai pudar karena terlibas oleh jiwa individualis yang egois. Jiwa individualis itu yang sekarang lebih mewarnai sikap dan perilaku mulai dari para pemimpin sampai rakyat di era globalisasi ini. 

Oleh karenanya Bung Karno pernah mengatakan jiwa Negara kita Pancasila. Dan kalau Pancasila diperas lagi maka hanya satu sila yakni gotong-royong. Karakter gotong royong itu yang kini hilang dalam diri bangsa kita yang amat heterogen dan merupakan wilayah negara kepulauan ini. Heterogenitas bisa menjadi kelemahan karena mudah untuk dipecah belah oleh pihak luar (sudah terjadi), tetapi sebenarnya merupakan kekuatan yang tidak dimiliki bangsa lain karena bisa saling melengkapi dengan potensi yang sangat bervariasi (belum dicoba serius). 

Cengkeraman penguasaan pangan dunia tidak lepas dari penguasaan air dan energy. Tahukah anda, bahwa para pelaku eksploitasi sumber-sumber pangan, air dan energy dunia sudah meng-kapling-kapling wilayah Indonesia ini di peta mereka untuk ditambang kapan saja sesuai kebutuhan layaknya milik nenek moyangnya sendiri dan untuk kekayaan mereka sendiri? Contoh nyata (tetapi di luar konteks pangan) yang sudah terjadi adalah penambangan emas di Papua oleh PT. Freeport Amerika. Gunung emas dijual murah begitu saja ke orang lain. Pemerintah dapat apa? Paling royalty, itu saja sudah diakali oleh perusahaan penambangan. Lebih parah lagi, rakyat dapat apa? Rakyat semakin tidak dapat apa-apa. Siapa yang menikmati? Tentu saja penambangnya, bukan pemiliknya (diskusi tentang kebijakan pemerintah berkait penambangan di NTT, di acara Bedah Editorial MI, Metro TV 2 Agustus 2012). Enak benar ya penambangnya? Pertanyaan besarnya : kok pemerintah mau ya menandatangani persetujuan yang merugikan seperti itu? Padahal kalau gunung emas itu masih “milik” orang Papua, tidak mustahil nilai rupiah jauh di atas nilai dollar Amerika, orang Papua bisa ngrembyong mas-masan di tubuhnya dan hidup sejahtera berkelimpahan dan Indonesia benar-benar sejahtera seperti lagu Kolam Susu-nya Koes Plus. Tetapi yang terjadi tidak demikian kan? Seperti itu jugalah cengkeraman globalisasi-neoliberalisasi terhadap dunia pangan Indonesia. Kita sendiri yang seharusnya menentukan sikap untuk kedaulatan pangan bersama rakyat Indonesia.

Langkah alternatif
Wong Samin yang tinggal beberapa tempat di kabupaten Pati dan Grobogan, mengajarkan kita bahwa sebenarnya orang tidak perlu berebut pangan, bahkan harus mau berbagi dengan orang lain yang lapar dan membutuhkan pangan. Mereka berprinsip untuk mengambil pangan secukupnya yang dibutuhkan, bukannya mengambil lebih untuk dijual agar menjadi kaya karena ada hak orang lain untuk mengambilnya juga sesuai kebutuhan. Mereka sudah menemukan harmoninya sejak seabad yang lalu, sementara orang lain masih bingung mencarinya. Walaupun datang dan belajar pada wong Samin tetap saja berperilaku hidup serakah, nggrangsang dan bermental ndremis.Wong Samin menjaga kebersamaan dalam mengelola pangan di komunitasnya.

Pengembangan pangan, air dan energy yang seperti apa yang menjadi perjuangan bersama kita? Siapa musuh bersama kita dan apa stretegi yang konkret bisa kita lakukan bersama? Haruskah kita mengikuti cara hidup wong Samin? Tidak harus seekstrem itu. Lalu bagaimana caranya?
Kembali ke soal pangan, secara local langkah konkret bersama untuk membangun kedaulatan pangan dan kedaulatan petani adalah :
1.       Kenali dan sadari dulu bahwa kita kaya akan potensi-potensi local pangan dan energy. Umbi-umbian, beras, buah, sayuran, kopi, kakao, cengkeh, teh, berbagai jenis tanaman obat herbal, produk ternak : daging, telur, susu, produk perikanan, dsb.
2.       Kembangkan potensi local itu secara mandiri, tidak perlu menunggu instruksi dari orang lain : pak RT, pak lurah, bupati atau presiden. Yang bisa dilakukan, langsung dilakukan dengan menangkarkan benih dan bibit tanaman pangan dan ternak local yang ada.
3.       Kembangkan jiwa kebersamaan dengan berorganisasi yang bermanfaat bagi seluruh anggota, bukan organisasi untuk menguasai pangan, air dan energy orang lain.
4.       Kurangi/ batasi atau sebisa mungkin hentikan konsumsi produk pangan impor (beras, buah, sayuran, daging, ikan, susu, telur, dsb) di keluarga kita dan konsumsilah produk-produk local Indonesia. Jangan terkecoh oleh penampilan produk impor yang lebih segar dan harga murah, karena harga murah di awal ini hanya strategi sementara untuk menghajar produk local kita. Kalau produk-produk pangan kita sudah dilumpuhkan (tidak laku), maka harga produk impor akan dinaikkan, saat itu kita sudah tidak bisa mencari produk local karena sudah dipunahkan dari pasaran.
Kedaulatan pangan nasional dibangun dari kedaulatan pangan local, sehingga kunci keberhasilannya terletak pada komitmen seluruh rakyat Indonesia untuk mengembangkan potensi pangan local.


Eunike Widhi Wardhani

Senin, 30 Juli 2012

Kehamilan ke 2-ku


Catatan pribadiku
Pengalaman berkesan pada kehamilan ke dua
Ingin berbagi cerita tentang kehamilanku yang ke dua ini.
Dua tahun yang lalu (2010), aku merencanakan hamil tapi belum berhasil. Mungkin pengaruh beban pikiran, karena waktu itu aku masih jadi manajer program. Tahun ini malah berkat Tuhan, aku hamil lagi. Ya udah, bersyukurlah aku, mumpung belum 40 tahun, meskipun hampir. He..he..
Pengalaman hamil sekarang sedikit berbeda dengan yang dulu. Hamil pertama dulu aku cukup kuat, kerja lapang ke desa-desa, sampai Kedungombo, naik motor tiap hari sampai nginap di Karanggede semua berjalan enteng-enteng saja. Tapi hamil kali ini, sejak usia 12 minggu, badan ini rasanya lemas terus dan sempat disuruh dokter Adi untuk bedrest 1 minggu dan diberi obat penguat rahim. Kata dokter itu, ada rupture di rahimku (semacam keretakan yang cukup riskan, sehingga harus tiduran terus seminggu). Segala urusan rumah tangga dilakukan suamiku mulai dari cuci piring, masak, cuci baju, sampai menyiapkan keperluan anak pertama kami untuk sekolah. Setelah mas bedrest itu usai, aku priksa lagi, hasilnya puji Tuhan rahimku mulai kuat.
Di usia kehamilan 16 minggu muncul juga acara mual dan muntah. Kalau ini sama dengan hamil pertama dulu. Bedanya sekarang aku malas makan, jadi mual muntahnya lebih parah dibanding hamil yang dulu. Sampai usia 20 minggu, terakhir aku pernah mengalami heart burn sampai muntah waktu antar suamiku priksa ke dokter karena asmanya kambuh. Jadi sebenarnya suamiku yang sakit, tapi janin di kandunganku juga ikut merasakan, begitu kale…ya…
Sekarang di usia kehamilan 27 minggu, perutku terlihat semakin buncit. Ukuran perutku sekarang lebih besar, membesarnya ke atas dan bentuknya membulat. Sedangkan hamil pertama dulu lebih kecil dan membesarnya ke bawah (agak menggantung). Aku tidak mau mengait-ngaitkan itu dengan prediksi jenis kelamin bayiku. Lagipula waktu periksa bulan Juli lalu, kebetulan aku lupa menanyakan kepada dokter tentang jenis kelamin bocah ini. Ah, biarlah…santai saja…cowok atau cewek, matur nuwun saja.
Kalau perkiraan lahir nanti, kata dokter 5 Nopember 2012. Tapi feelingku kayaknya kok maju ya. Karena sekarang saja kurasa perutku sudah besar. Kalau masih nunggu sampai 3 bulan lagi, apa nggak lebih besar banget nanti. Padahal konsumsi makanku pada hamil ini lebih sedikit dibanding yang dulu. Kadang malas makan, jarang makan 3 kali sehari. Kalau hamil pertama dulu, makan pasti 3 kali sehari, masih ditambah susu dan vitamin. Tapi biarlah, sekarang yang penting aku siap-siap. Kadang ada rasa bersalah juga, karena aku lebih santai sekarang, konsumsi makan dan vitamin aku tidak setertib dulu. “Moga kamu sehat ya nak…”
Tapi aku senang kehamilanku sekarang membuat suamiku lebih rajin mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Mungkin karena sudah latihan waktu aku bedrest dulu, maka sampai sekarang dia juga terbiasa cuci piring, cuci baju dan bersih-bersih rumah. Aku jadi agak santai dan bisa istirahat.
Gerakan janinku baru kurasakan pertama pada usia 20 minggu. Padahal aku sudah menunggu-nunggu sejak usia 16 minggu, seperti pengalaman bumil lainnya pada kehamilan bukan pertama, katanya terasa lebih awal. Tapi ternyata itu tidak berlaku bagiku. Dari awalnya cuma gerakan halus, pada usia 26-27 minggu (sekarang ini) semakin terasa sebagai menjadi tendangan keras. Tendangan Si Madun…he..he…

Di tengah keasyikan menikmati kehamilanku ini, ada juga pengalaman sedih yaitu pada awal Juli lalu saat suamiku masuk rumah sakit dan opname karena serangan sesak napas. Bocah dalam kandunganku ini terpaksa ikut nunggui bapaknya opname di RS selama 5 hari, tapi gantian dengan ibu mertua. Puji Tuhan, bocah ini kuat dan baik-baik saja. Tiap hari kurasakan gerakannya meskipun masih halus.
Baru terasa sebagai tendangan keras si bocah pada pertengahan Juli (usia 25 minggu), biasanya terasa pada jam 7-10 sore hingga malam, jam 5-6 pagi dan kadang siang pas kerja. “Penasaran, sebenarnya kau lagi ngapain nak, di dalam situ?”. Ibu berdoa, kau baik-baik saja dan kelak lahir selamat dan sehat, tak kurang suatu apapun.

Sabtu, 03 Maret 2012

Polemik Kedaulatan Pangan


Polemik Kedaulatan Pangan
 
Keprihatinan akan krisis pangan, energy dan air sudah dimulai puluhan tahun, bahkan krisis pangan kita sudah dimulai sejak berabad-abad yang lalu di zaman penjajahan Belanda. Dengan culture stelsel/ tanam paksa rakyat pribumi dipaksa menanam tanaman tertentu, dan tanam paksa itu telah membunuh 200.000 -300.000 nyawa rakyat pribumi Indonesia. Untuk ketahanan pangan siapa? Ketahanan pangan Belanda. Heran juga, jumlah penduduk saat itu belum sepadat sekarang, kok mati sebanyak itu ya. Bukan karena ditembak tetapi mati kelaparan. Pemilik pangan, justru mati kelaparan demi ketahanan pangan orang lain. Tetapi itulah fakta sejarah yang sungguh ironis.

Nusantara subur, zamrud kathulistiwa yang gemah ripah loh jinawi, bahkan ada yang meyakini Indonesia adalah negeri Atlantis yang hilang, negeri dengan kemakmuran, teknologi dan peradaban tinggi serta terkenal dengan kesuburan dan kejayaannya, lepas dari benar/tidaknya legenda itu, negeri kita ini jadi rebutan untuk dijarah rayah oleh negara-negara maju pada era imperium. Mulai dari pangan berkualitas, rempah-rempah sampai emas terbaik dilahirkan dari perut Ibu Pertiwi kita ini. Kita memiliki semuanya yang kualitas nomor 1 di dunia. Dan sampai saat ini penjarahan itu masih berlangsung namun dalam bentuk yang berbeda.
 
Berikut ini penguasa rantai pangan Indonesia : benih/ bibit pangan dan agrokimia dikuasai oleh Syngenta, Monsanto, Dupont dan Bayer. Pangan serat, pedagangan dan pengolahan bahan mentah dikuasai oleh Cargill, Louis Dreyfus dan ADM. Pengolahan pangan dan minuman dicengkeram oleh Nestle, Kraft Food, Unilever dan Pepsi Co. Pasar eceran pangan dikuasai Carrefour, Wal Mart, Metro dan Tesco (Sumber : Kompas, 2 Pebruari 2012).
 
Kebijakan pemerintah tentang ekspor/ impor pangan, belum pernah berpihak kepada petani. Malah sampah/ limbah diimpor, iya. 

Globalisasi pertanian memang sudah berlangsung ratusan tahun, lebih tua dari umur kita dan sudah masuk ke dalam aliran darah kita. Kita harus jujur terlebih dulu, siapapun kita sulit menghindar dari serangan produk pangan impor. Tetapi apakah kita akan membiarkan semua itu? Apa yang bisa kita lakukan sebagai gerakan?

Secara ekstrem, kita bisa stop konsumsi pangan berbahan gandum yaitu semua mi (jadi tidak hanya mi instan lho ya), roti, biscuit, sereal kemasan, buah, sayuran, beras, telur dan daging impor.
Yang menyedihkan, tempe dan tahu yang merupakan makanan rakyat Indonesia tulen, sekarang kedelainya dari impor dan transgenic. Piye jal? Kalau ekstrem, ya berhenti makan tempe dan tahu kecuali kita tahu kedelainya local dan organik. Stop konsumsi junk food. Tapi relistiskah itu sebagai gerakan? 
Sementara masih banyak fakta yang menunjukkan kita sulit lepas dari konsumsi pangan yang tanpa kita sadari itu tidak berpihak pada petani Indonesia tetapi justru berpihak pada penjajahan pangan.
Kita masak sayur masih menggunakan MSG, selain itu kita masih makan ayam sayur, telur leghorn, tempe-tahu transgenic, kerupuk yang sarat MSG dan bleng, jajanan kita juga masih roti, biscuit, kue dan mi berbahan gandum (impor), jajanan dari jagung meskipun jagung ditanam di Indonesia namun itu juga jagung hibrida yang sepaket dengan pupuk dan pestisida kimia. Susu formula juga impor. Kita masih makan semangka dan melon yang disemprot Furadan, Decis, Score dan dipupuk urea dan Phonskha. Untuk wedang manis, kita masih pakai gula impor yang pakai pemutih. Kita masih makan bakso yang mengandung borax, mi ayam (gandum impor berikut penyedapnya). Kalau mau njlimet, harus stop semua itu. Kalau mau ya konsumsi daging ayam kampung dan telur ayam kampung dari ternak piaraan sendiri, buat bakso sendiri tanpa borax. Anak-anak ke sekolah kita bekali makanan dari telo, ganyong atau kimpul.
Atau agak moderat semacam gerakan car free day, tetapi konteksnya pangan. Saat tertentu di kantor-kantor atau forum seminar disajikan makanan karbohidrat non gandum seperti i uwi, gembili, garut, kimpul, suweg, ubi jalar, kentang local, singkong dan ganyong. Tidak boleh lagi menyajikan masakan ber-MSG, ayam sayur, telur leghorn, termasuk tempe mendoan (karena ada gandumnya, kedelainya impor dan transgenik). Atau bagaimana ya.
Strategi advokasi dan suksesnya gerakan pertanian organik diharapkan bisa terwujud kalau kita mulai dari diri kita sendiri. Siapkah kita menjadikan diri kita sebagai icon organik melalui sikap dan gaya hidup kita untuk kedaulatan pangan dan harkat petani?

Rabu, 02 Februari 2011

Analisis Usaha Tani Organik


PERBANDINGAN ANALISIS USAHA TANI
PADI
BUDIDAYA SECARA LEISA DAN BUDIDAYA BIASA
Masa budidaya : Agustus – Desember 2008
Varietas : Ciherang
Luas lahan : 1 hektar
Sistem tanam : tabela
No
Kebutuhan
Biaya (Rp)
LEISA
BIASA
1
Benih (60 kg)
120.000,-
120.000,-
2
Pupuk dasar (4 ton kompos)
  • Urea
  • ZA
  • TSP/SP36
  • KCl
1.000.000,-
0,-
186.000,-
62.000,-
300.000,-
3
Pupuk susulan
· 1 ton kompos
· Urea
· ZA
· TSP/SP36
· KCl
· Pupuk organik cair (dibuat sendiri)
300.000,-
62.000,-
62.000,-
62.000,-
62.000,-
50.000,- ,-
0,-
186.000,-
0,-
300.000,-
300.000,-
0,-
4
Pestisida
Pestisida organik (dibuat sendiri)
Pestisida kimia
Fungisida
Herbisida
50.000,-
110.000,-
0,-
600.000,-
200.000,-
5
Tenaga kerja
  • Pembibitan dan pengolahan lahan
  • Penanaman
  • Penyiangan
  • Pemupukan (3 kali)
  • Pengendalian hama/ penyakit
  • Panen dan paska panen (perontokan gabah)
  • Penggilingan gabah
350.000,-
75.000,-
50.000,-
300.000,-
50.000,-
200.000,-
200.000,-
350.000,-
75.000,-
50.000,-
300.000,-
50.000,-
200.000,-
200.000,-
6
Sewa traktor
700.000,-
700.000,-

Total (Rp)
3.803.000,-
4.179.000,-
Sumbersari, 16 Mei 2008
Eunike Brahmantyo, 
Bersama Tim Pertanian Lestari Y-TBL

Pertanian Lestari

PERTANIAN LESTARI

Oleh : Eunike Widhi W

Siklus nutrisi dalam pertanian :

Matahari

Peternakan




Panen Pupuk kandang


Tanaman Tanah

Tanah dan kesuburan tanah

Fungsi tanah dalam pertanian :

1. Media (tempat) tumbuh tanaman

2. Penyedia hara/ makanan yang sangat diperlukan tanaman untuk berproduksi baik itu menghasilkan batang, buah, biji ataupun daun, akar, dan bagian lainnya. Tanpa hara dalam tanah itu mustahil tanaman dapat hidup apalagi berproduksi.

3. Tempat berlangsungnya dekomposisi (pelapukan) bahan-bahan organik.

4. Habitat mikroorganisme penyubur tanah yang sangat berjasa bagi tumbuhan

Kesuburan tanah meliputi sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Jadi kalau tanah mengandung unsur hara yang diperlukan tanaman saja, tetapi miskin bahan organic dan sulit diolah, maka tanah itu belum cukup dikatakan sebagai tanah yang subur. Karena sifat biologi dan fisik tanah belum tercukupi.

Pemupukan

Ketersediaan unsur hara dapat dipenuhi dengan penambahan pupuk. Tanaman kacang-kacangan memerlukan pupuk dengan kandungan N, P dan K. Rumput, terutama membutuhkan N banyak untuk tumbuh dan berproduksi menghasilkan daun. Hasilnya : tanaman kacang-kacangan menghasilkan panen dengan kandungan N yang tinggi karena memiliki bintil akar yang bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium dalam tanah sehingga dapat mengikat Nitrogen bebas dari udara. Maka limbah panen kacang-kacangan sering digunakan sebagai pupuk hijau.

Tanaman pada usia tertentu perlu pupuk dengan kandungan unsur hara tertentu. Namun ketersediaan mikroba tanah yang mendukung sifat biologi dan fisik tanah, tidak cukup dipenuhi hanya dengan penambahan sembarang pupuk. Kondisi fisik tanah misalnya tanah gembur sangat penting untuk perakaran agar mudah menembus tanah. Kondisi biologi tanah yang baik berarti dalam tanah terdapat cacing tanah dan mikroba tanah lainnya yang menguraikan limbah organic menjadi kompos, sehingga memperbaiki kesuburan tanah.

Dengan pemupukan urea, ZA, KCl, TSP secara benar tanaman akan berproduksi tinggi dari musim ke musim. Kondisi pertanian untuk ketersediaan pangan di negara kita sedang terpuruk. Pemerintah mengimpor beras dan gandum dari luar negeri untuk mencukupi kebutuhan pangan nasional. Mengapa? Karena pertambahan jumlah penduduk yang drastis tidak sebanding dengan ketersediaan pangan. Usaha pertanian pun diupayakan terus untuk mengejar volume produksi dari tahun ke tahun. Namun kalau kita hanya mengambil hasil dari tanah semaksimal mungkin, kemudian tidak mengembalikan lagi kesuburan tanah itu, lama kelamaan tanah menjadi kering, keras dan miskin bahan organik. Selain itu pada titik tertentu produksi tanaman tidak meningkat terus seperti yang kita harapkan, tetapi justru lama-kelamaan menurun.

Banyak petani yang mengaplikasikan pupuk lebih banyak daripada tahun sebelumnya untuk mendongkrak panen. Demikian terus, hingga pada titik tertentu bukannya produksi tinggi yang kita peroleh, tetapi justru produksi rendah ditambah kerusakan lahan karena diforsir untuk menghasilkan panen melimpah, tetapi kita lupa untuk memberi “makanan” kepada tanah agar tetap sehat dan dapat berproduksi seperti yang kita harapkan. Selain itu residu pupuk dan pestisida kimia dari waktu ke waktu terkumpul di tanah membahayakan lingkungan : tanah, udara dan perairan. Aliran residu bahan kimia ke hilir sungai dan ke laut dapat mengganggu ekosistem laut.

Petani dan pertanian masih menjadi tumpuan harapan

Pemakaian pupuk atau pestisida kimia sebenarnya tidak diharamkan, tidak dilarang. Asalkan dilakukan secara benar dengan jumlah secukupnya (tidak berlebihan), pupuk dan pestisida kimia dapat dijadikan mitra petani. Pupuk dan pestisida kimia boleh digunakan namun sifatnya sebagai pelengkap saja. Pada tanah yang masih subur dengan kandungan hara yang lengkap, bisa jadi tanpa penambahan pupuk kimia, tanaman sudah berproduksi dengan baik. Dalam pengendalian hama terpadu dijelaskan bahwa penggunaan pestisida merupakan alternatif terakhir setelah cara-cara yang lain tidak membuahkan hasil dan catatan pentingnya adalah bila populasi hama/ penyakit sudah melebihi batas perhitungan untung rugi usaha tani, di situlah pestisida boleh digunakan.

Dalam hal ini kita diharapkan lebih bijak, ketika kita dapat menggunakan pestisida yang ramah lingkungan tanpa mempengaruhi hasil, mengapa harus menggunakan pestisida kimia yang berspektrum luas dan mematikan musuh alaminya juga? Sayangnya petani justru tergantung pada pupuk dan pestisida kimia itu dengan alasan praktis. Akan tetapi kalau kondisi tanah dan lingkungan sudah demikian parah, lalu akan berharap kepada siapa lagi kita, untuk memenuhi pangan di masa depan?

Selama manusia masih mengkonsumsi hasil pertanian, nampaknya pertanian masih akan menjadi tumpuan harapan pangan seluruh umat manusia di muka bumi. Maka sungguh mulia jasa petani kepada semua manusia di bumi ini. Karena lewat karya tangannyalah tergantung harapan seluruh manusia untuk makan, hidup, bergerak aktif, tumbuh, berkembang, berpikir dan bertindak. Bayangkan jika semua petani di Jawa Barat saja misalnya; serempak mogok menanam tanaman pangan. Bayangkan jika suatu saat mereka hanya menanam tanaman pangan untuk dikonsumsi sendiri dengan keluarganya.

Pertanian Organik/ berkelanjutan

Issue tentang kerusakan tanah telah lama disadari oleh banyak pihak termasuk petani sendiri. Kita mulai merindukan kondisi alam dan makanan yang bebas kontaminasi bahan kimia, lebih sehat, yang ada di masa lalu sebelum dikenal banyak pupuk dan pestisida kimia. Muncullah produk-produk pupuk berlabel ramah lingkungan yang beredar di petani. Kembali petani tergantung pada produk-produk tersebut.

Salah satu pilihan bijak adalah pertanian yang berproduksi tinggi namun tidak merusak tanah dan alam lingkungan. Mungkinkah itu dilakukan? Jawabnya adalah mungkin dan kita mampu melakukannya.

Pemupukan yang bagaimana yang sebaiknya kita lakukan/ kita berikan kepada tanah kita? Pestisida yang bagaimana yang akan kita gunakan untuk mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman kita? Banyak materi pelatihan yang diterapkan oleh para pegiat pertanian lestari di masyarakat. Mulai dari pembuatan kompos, pestisida nabati dan hayati, sampai pada budidaya tanaman. Pada prinsipnya menggunakan sumber daya local dan meminimalkan penggunaan input dari luar.

Prinsip-prinsip Pertanian Organik

  1. Menggunakan sumber daya lokal bermutu yang dapat diupayakan oleh petani sendiri
  2. Meniadakan penggunaan racun kimia (tidak mencemari tanah, udara dan perairan)
  3. Memperhatikan kesuburan tanah (kesuburan fisik, kimia dan biologi tanah)
  4. Mengutamakan penggunaan teknologi tepat guna yang bersumber pada potensi lokal
  5. Pengaturan pola tanam untuk memutus siklus hama dan penyakit

Pola Tanam

Secara umum pola budidaya tanam dibagi 2 : monokultur dan polikultur. Monokultur adalah menanam hanya 1 jenis tanaman, sebaliknya polikultur adalah menanam lebih dari 1 jenis tanaman, bisa 2, atau 3 jenis, atau lebih. Polikultur masih dibagi menjadi beberapa macam : system surjan, system lorong, system tumpang gilir, dsb.

Monokultur lebih mudah dikerjakan karena hanya 1 jenis tanaman. Namun dari segi volume hasil, polikultur lebih menguntungkan, karena panen tidak hanya 1 jenis komoditas sehingga dapat mengantisipasi kegagalan panen (artinya kalau satu komoditas mengalami gagal panen, masih ada panen komoditas lain). Dari segi hama dan penyakit, pola tanam polikultur dapat digunakan sebagai salah satu strategi memutus siklus hama dan penyakit apabila perpaduan tanaman tepat. Misal tanaman padi sering ditumpangsarikan dengan kacang panjang atau tanaman beraroma tajam seperti serai. Karena hama padi diusir oleh aroma serai yang tajam. Selain itu pola budidaya tanaman dalam satu tahun dapat direncanakan misal padi-padi-palawija. Atau padi-palawija-padi. Semua itu juga bertujuan memutus siklus hama dan penyakit padi.

Pemilihan benih dan bibit tanaman

Idealnya jenis tanaman untuk dikembangkan secara organic diperoleh dari benih-benih local. Misal padi local setempat, sayuran atau kacang-kacangan yang benihnya berasal dari benih local. Mengapa? Karena benih-benih tersebut telah terbukti dapat tumbuh dan berproduksi pada waktu lampau, mungkin 20 atau 30 tahun yang lalu. Karena kita tidak dapat memaksakan suatu jenis tanaman yang sebenarnya tidak cocok ditanam di suatu tempat. Mungkin tanaman itu dapat tumbuh dan hidup. Namun produksinya rendah, bahkan tidak dapat berproduksi.

Itulah maka kita sering mendengar/ mengetahui bahwa daerah A terkenal sejak dulu sebagai penghasil jeruk, daerah B penghasil apel, C Anggunr, padi, kelapa, kakao, dlsb. Karena memang hanya di daerah-daerah itulah jenis-jenis tanaman tersebut dapat berkembang dan berproduksi secara optimal. Itu yang dinamakan keunggulan komparatif suatu daerah. Keunggulan komparatif tersebut sangat berkaitan dengan syarat tumbuh tanaman dari aspek iklim mikro, kesuburan tanah dan kondisi lingkungan. Selain itu berkaitan pula dengan budaya masyarakat setempat, sebagai contoh di Jawa Tengah dalam seluruh rangkaian budidaya padi, dilakukan ritual-ritual tertentu pada berbagai fase pertumbuhan padi, yang semuanya itu ada maknanya. Kadang-kadang seperti takhyul, tetapi kalau dianalisa sebenarnya cukup rasional.

Sebenarnya, akan baik jika semua daerah di Indonesia memiliki keunggulan komparatif, produk pertanian tidak hanya ikut arus. Si A menanam jagung. B, C, D dll ikut juga menanam jagung karena tergiur penghasilan tinggi di tempat A.

Pertanian lestari sebaiknya menggunakan benih dan bibit tanaman local. Namun dalam konteks Sumbersari hal itu cukup sulit karena untuk padi, sudah tidak ada lagi benih local. Petani dapat menggunakan benih yang ada, meskipun bukan benih local tetapi harus dipilih benih yang baik, bermutu (baik mutu genetic, fisiologik dan fisiknya) dan kemudian dibudidayakan secara organic. Petani perlu membiasakan lagi melakukan seleksi benih untuk persediaan musim tanam berikutnya.

Pembuatan pupuk dan pestisida organic

Bahan organic mengandung mikroorganisme yang baik untuk kesuburan fisik, kimia dan biologi tanah. Pupuk kimia tidak dapat mengembalikan bahan organic tanah, sehingga kesuburan tanahpun menurun. Maka bahan organic atau kompos mutlak diberikan pada tanah. Banyak resep atau materi pembuatan kompos. Pada intinya menggunakan kotoran ternak, limbah panen, seresah daun atau bahan-bahan organic lainnya baik dengan pemeraman biasa dalam waktu lama maupun difermentasikan dengan bantuan bakteri fermentasi seperti EM4, mikroorganisme buatan sendiri, rumen sapi dengan beberapa bahan tambahan. Sebaiknya petani mampu membuat bakteri fermentasi sendiri agar tidak tergantung harus membeli bakteri. Bahkan lebih baik lagi jika produk tersebut dari petani dapat dijual ke pengguna lainnya.

Demikian pula insektisida, fungisida dan herbisida organic dapat kita buat sendiri dari bahan-bahan alami. Karena sifatnya yang alami, maka pestisida organic ini aman bagi lingkungan dan mudah terurai di alam. Sedangkan daya racunnya pada hama dan penyakit, tidak kalah dengan pestisida kimia. Prinsip bahan alami untuk pestisida adalah : beraroma tajam (menyengat), berasa tajam (pahit, pedas) dan beracun (mematikan atau memandulkan hama).

Kedaulatan petani

Banyak pihak kadang lupa untuk menghargai peran besar petani dalam kehidupan ini. Petani diposisikan sebagai pihak yang lemah, terdesak dan tidak diberi kesempatan untuk mengambil keputusan. Apa yang mereka tanam, bagaimana budidayanya, bagaimana memperoleh benih, dlsb terlalu banyak intervensi pihak luar. Petani hanya disodori berbagai merk dan jenis bahan serta alat untuk budidaya pertaniannya, tetapi semua itu sebenarnya tidak memberdayakan dan memandirikan petani.

Benih padi yang dahulu petani dapat memproduksi sendiri dengan kearifan lokalnya, lama kelamaan tergeser oleh benih pabrik yang dikuasai hanya oleh produsen benih dan direkomendasi oleh pemerintah untuk dipasarkan, dan semua itu introduksi dari luar. Bahkan lebih parah lagi petani sering tertipu benih palsu yang berlabel. Selain itu perusahaan pestisida, herbisida dan fungisida kian marak berlomba menawarkan hasil yang tinggi di musim panen.

Produksi memang tinggi. Tetapi di musim tanam berikutnya untuk mempertahankan produksi pada tingkat itu, aplikasi pupuk dan pestisida harus ditambah dan ditambah lagi dari musim ke musim. Lama kelamaan petani tergantung pada pupuk dan pestisida kimia, kesuburan tanah menurun, risiko bahaya racun kimia mengancam manusia dan makhluk hidup lainnya dan benih local menghilang punah. Budaya pertanian berubah dan kedaulatan petani musnah.

Sudah saatnya petani diberdayakan untuk menerapkan usaha tani yang mandiri. Mulai dari benih, pupuk dan sarana produksi lain yang mengangkat kemampuan dan keterampilan petani untuk mengupayakan, merawat dan menjaga ketersediaannya secara mandiri, tidak tergantung pada input-input dari luar yang mematikan kearifan lokal dan kedaulatan petani. Memang kini hal itu memerlukan proses yang panjang, tidak mudah dan tidak cukup dilaksanakan dalam hitungan minggu atau bulan. Perlu bertahun-tahun untuk memunculkan kembali kedaulatan petani untuk kedaulatan pangan. Perlu dukungan dari banyak pihak untuk mewujudkannya. Namun ada satu keyakinan yang dapat kita jadikan semangat bahwa pertanian adalah untuk kehidupan. Kehidupan kita sekarang dan tentu kehidupan anak cucu kita kelak. Tentu kita tidak hanya menjalankan usaha tani untuk kehidupan sekarang saja tanpa memikirkan bagaimana anak cucu kita memperoleh makanan dan gizi untuk pertumbuhan, kesehatan, kekuatan dan kecerdasan mereka. Kita sehat salah satu factor penentu terbesarnya karena memakan makanan yang cukup dan sehat pula. Untuk memperoleh makan sehat, kita harus mengupayakan setiap tahap dalam proses produksi pertanian yang sehat dan cukup. Siapa lagi yang memulai kalau bukan kita? Dan kapan lagi kita memulai kalau tidak sekarang?

Salatiga, 10 Oktober 2008

Eunike Widhi Wardhani