Kamis, 13 Oktober 2016

cinta



Apa sajakah yang bisa ditawar menurut anda?
Apa sajakah yang tidak bisa ditawar menurut anda?
Pernahkah kita berpikir: mengapa kita patuh pada suatu aturan tertentu? Mengapa kita mengikuti suatu ajaran tertentu, misal cara memberi bumbu masakan, cara membuat kursi, cara beribadah, meyakini suatu kebenaran. Mengapa?
 
Namaku Eunike
Banyak yang bingung mengeja namaku. Meskipun sebenarnya mudah, tinggal dibaca apa adanya dalam ejaan bahasa Indonesia: Eunike. Tetapi sebenarnya itu pemberian orang tuaku yang mereka ambil dari 2 Timotius 1: 5. Ya, aku adalah ibunya Timotius. Mungkin orang tuaku berharap supaya aku menjadi perempuan yang beriman dan mendidik anak-anakku beriman.
Latar belakang keluarga
Aku adalah bungsu dari 3 bersaudara. Kakakku yang sulung perempuan, 4 tahun lebih tua dari aku, dan kakakku yang ke dua, laki-laki, umurnya 2 tahun lebih tua dari aku. Masa kecilku cukup menyenangkan bermain bersama teman-teman atau tetangga sebayaku. Waktu itu yang ada masih permainan tradisional, bukan permainan modern seperti sekarang. Ayah dan ibuku semuanya guru SD di kota kecil kami.
Kami tinggal di rumah kontrakan sampai aku SMP di satu kota kecil. Ayahku baru mampu membangun rumah sendiri saat aku SMP.  Yang selalu kuingat adalah di malam pertama tinggal di rumah itu, kami belum punya genting/ atap. Jadi kami tidur malam itu dengan memandangi bintang-bintang di langit dari dalam rumah. Karena dana orangtuaku sangat minim, yang penting tinggal di rumah sendiri, tidak ngontrak lagi, ayahku hanya mentargetkan pokoknya bisa untuk berlindung, lantainya masih tanah, temboknya masih terbuka. Sangat berbeda dengan rumah-rumah tetangga kami yang hampir semua sudah bagus-bagus.
Meskipun rumah jelek, orang tuaku menyekolahkanku sampai Perguruan Tinggi. Itu cukup tinggi untuk ukuran orang susah seperti kami. Karena di kota kecil kami tidak ada Perguruan Tinggi jadi aku sekolah di luar kota (di Semarang, ibukota Propinsi Jawa Tengah), aku kost bersama kakakku yang sudah lebih dulu masuk kuliah tahun sebelumnya. Kami pulang kampung setiap hari Sabtu dan berangkat ke Semarang lagi di hari Minggu atau Senin pagi. Rumah kami masih jelek waktu itu. Saat kuliah itu, mulai ada teman cowok yang mendekatiku. Aku pun senang dan berbunga-bunga hatiku. Tetapi setelah berkunjung ke rumahku, si cowok itu kemudian mulai menjauhiku. Aku tidak tahu pasti sebabnya, dugaanku karena rumahku jelek, karena kejadiannya selalu begitu.
Tetapi saat aku kenal Daudy Brahmantyo yang sekarang menjadi suamiku, keadaan sudah berubah. Aku yang menentukan nasibku sendiri, dan ternyata ketika aku berani mengambil keputusan untuk cinta, segala sesuatu menjadi lebih mudah aku jalani. Aku yang memulainya lebih dulu meskipun dalam kelakar. Aku bilang : kalau kamu mau sekarang kita mulai, karena 10 menit lagi aku sudah tidak mau membicarakan itu lagi. Lalu mulailah perjalanan cintaku yang manis, pahit, pedas, asam, asin, semua rasa ada di situ. Sama dengan semua pasangan di semua penjuru dunia ini, tidak ada yang mudah dan tidak cukup waktu diceritakan sehari.
Sekolah dan pekerjaan pilihanku
Dari D3 pertanian, aku melanjutkan sekolahku ke jenjang S1 di sebuah PTS di Yogyakarta. Setelah lulus aku sempat bekerja sebagai pramuniaga di sebuah toko retail besar di Semarang selama 3 buan kemudian aku meneruskan kuliah ke jenjang S1. Lulus S1 aku bekerja sebagai kasir di sebuah apotek di Purwodadi selama setahun. Tahun 2001 aku bergabung di sebuah lembaga bernama Trukajaya selama 13 tahun sampai saat ini. Oleh karena di lembagaku syaratnya harus bisa naik sepeda motor, aku sudah cukup bisa mengemudikan sepeda motor, tidak mahir hanya cukup, tinggal mengurus SIM. Mau tidak mau, aku yang semula penakut, sekarang mulai jadi pemberani.

Hal berkesan di usiaku yang sudah 40 tahun, aku diterima menjadi salah satu peserta di Pelatihan Kepemimpinan Perdesaan, nama sekolahku itu adalah Asian Rural Institute (ARI). Banyak yang mempertanyakan alasanku ke ARI. “Mengapa kamu pergi ke ARI, apa yang kamu cari? Bukankah kamu masih punya bayi, anakmu yang besar juga masih butuh perhatian saat belajar. Mengapa kamu tega meninggalkan mereka, Kamu akan kehilangan sebagian dari masa penting pertumbuhan mereka, di masa emasnya (yang kecil). Kamu yakin, dengan keputusanmu? Kesempatan ke ARI bukan sekarang saja. Kamu bisa pergi setelah anak-anakmu besar”. Seorang teman lain juga bertanya, mengapa kamu sangat ingin ke ARI, padahal kamu sudah tidak muda lagi untuk menjalani pembelajaran semacam itu, banyak anak muda yang lebih tepat belajar itu dibanding kamu, karena mereka masih punya banyak kesempatan untuk mengembangkan kapasitasnya dibanding kamu?
Tetapi aku dan suamiku, kami berdua punya alasan tersendiri atas kepergianku ke ARI.
Tiga tahun aku menunggu ini. proses mencari tahu informasi, aplikasi, dengan segala liku-likunya sampai impian ini menjadi kenyataan adalah rangkaian proses panjang yang kunikmati dan benar-benar kuhayati. Itu sangat membentuk persepsiku tentang ARI
Sebelum aku tau tentang ARI, direkturku sudah menawarkan kesempatan aplikasi kepada beberapa teman lain, para mantan manajer (termasuk yang tahun lalu didaftarkan oleh lembagaku tetapi akhirnya tidak diterima), tahun 2009 mereka semua menolak tawaran itu. Banyak alasan mereka menolak, salah satunya berat meninggalkan keluarga dan mereka memilih pendidikan gelar S2 atau S3. Akhirnya direkturku melemparkan tawaran itu kepadaku dan aku langsung oke. Berkali-kali direkturku bilang: ini non gelar. Aku jawab: oke, tidak masalah. Aku tidak butuh gelar, justru ini yang aku cari. Aku kemudian mencari tau sendiri tentang ARI, browsing-browsing internet. Aku sempat menunda karena hamil, dan singkat cerita akhirnya terwujud juga.
Tentang cinta
Cinta sebenarnya tak sekedar jatuh cinta tetapi cinta adalah sebuah keputusan sengaja, penuh kesadaran. Sakit, sedih, bosan, tidak bebas, tetapi itulah cinta. Kadang kelihatan bodoh di depan orang yang kita cintai, tidak masalah. Kita bisa tampil sempurna di depan orang lain, tapi kita nampak bodoh sekali di depan pasangan kita. Memang begitulah kadang-kadang gunanya pasangan, mereka tempat kita tampil bodoh juga, tapi jangan terlalu sering kelihatan bodoh. Itulah hubunganku dengan suamiku. Sebelum menikah, masih pacaran dahulu, dia sangat pencemburu, sangat  membatasi gerakku. Awal menikah, dia masih suka memberiku hadiah di hari ulang tahunku. Tapi setelah menikah, banyak yang berubah. Itu bukan berarti bahwa dia sudah tidak sayang padaku lagi. Dia selalu lupa hari ulang tahunku. Tetapi justru dengan kelupaannya itu, yang selalu dia akui, walaupun dia ulangi terus, justru itu yang unik dalam dirinya yang membuat hubungan kami selalu terasa spesial, tiada duanya.
Kami punya cinta yang tidak datang tiba-tiba. Karena kami memulainya dari nol, belum ada cinta sama sekali. Kamilah yang menciptakannya dengan sengaja dan dengan kesepakatan, melalui berbagai konflik, saling memaksa, saling mengatur, jatuh dan bangun bersama. Pantang menyerah, itu kuncinya. Kalau anda sudah menemukan orang yang benar-benar anda cintai, anda akan merasa tidak pernah cukup mencintainya. Walaupun anda sudah melakukan segala sesuatu special untuknya, anda tidak akan pernah berhenti berusaha memperbaiki diri anda untuk diberikan kepadanya. DAN ITU TIDAK UNTUK DITAWAR.
Jadi cinta itu bukan nasib.
Cinta adalah keputusan sengaja, kepada siapa kita menjatuhkan cinta itu, sepenuhnya keputusan kita.
Demikian pula cinta kita kepada komunitas yang kita dampingi. Kita tidak akan pernah berhenti meningkatkan kapasitas kita untuk diberikan kepada komunitas yang kita dampingi. Mereka punya hak mendapatkan pelayanan terbaik dari kita. Sering kita menemui banyak hambatan, kegagalan, kurangnya dukungan dari orang-orang terdekat. Tetapi kita tetap harus melakukan tugas kita. Kalau kita tetap setia melakukan tugas kita dengan baik, saat kita sebenarnya tidak ingin melakukannya, itulah cinta yang sesungguhnya.
Karena masyarakat yang kita damping harus menerima kualitas diri kita yang nomor 1, bukan nomor 2, nomor 3, 4 dan seterusnya. Tetapi nomor 1. Itulah cinta. Itu yang kudapat dari pelatihan CO di Sendangadi Sleman Yogya tahun 2005, sudah lama sekali ya…
Kita menyadari, kita belum sempurna mencintai komunitas kita. Maka kita terus belajar, tiada henti, untuk lebih peka terhadap cinta mereka, jangan sampai membuatnya patah hati. Ketika suatu kebenaran sudah kita yakini bahwa itulah kebenaran, maka kita tidak akan pernah menawar lagi.

Eunike


Selasa, 13 September 2016

Bulan ke 3 menjadi vegetarian

Dua bulan sudah terlewat atau kini aku masuk di bulan ke 3 menjalani hidup sebagai vegetarian. Aku merasa lebih sehat. Mungkin memang selama ini tubuhku tidak cukup baik me-metabolisme bahan pangan hewani. Tidak sulit bagiku meninggalkan makanan hewani. Kebetulan dalam 2 bulan ini rumah kami ketempatan arisan keluarga, persekutuan doa dan arisan PKK kampung. Aku memang menyanggupi ketiganya supaya sekalian sibuknya, sekalian pinjam tikar tetangga...xixixii... Oleh karena polanya keluarga yang ketempatan diberi kesempatan menjamu tamu, aku dan suamiku memutuskan menu utama dari daging sapi. Oleh karena kami memang tidak menggunakan jasa asisten, segala urusan kami kerjakan berempat bersama kedua anak kami, si sulung usia 9 tahun dan si bungsu 3,5 tahun, bisa dibayangkan bagaimana cerianya kami mengerjakan semua itu komplit dengan teriakan-teriakan heboh jika si kecil bukannya meringankan pekerjaan, tetapi justru menambahinya, tetapi kami bahagia menjalaninya...walah malah cerita bahagia....Kembali ke topik semula, suamiku mengerjakan soal bersih-bersih ruangan, pinjam tikar ke tetangga dan mendesain tempat pertemuan. Adapun aku menjadi manajer semua makanan, ya...akulah  sang penguasa dapur....hahahahaa...
Aku memasak menu daging sapi hasil dari browsing-browsing di internet dan tentu saja suamiku yang kumina mencicipinya. Aneh memang, aku mengolah berkilo-kilo daging sapi tanpa memakan hasilnya sedikitpun dan aku biasa-biasa saja. Selera makan daging menguap sendiri entah ke mana, aku menikmati tempe goreng dan oseng kecambah pedas yang kubuat sendiri juga. Ada keinginan dalam hatiku, suatu hari nanti keluargaku mengikuti jejakku menjadi vegetarian. Tetapi aku sadar mereka butuh proses. Mungkin suamikupun bertanya-tanya dalam hati (soalnya penah juga dia melontarkan godaan : makanlah dagingnya sediit saja, jangan terlalu ekstrem begitu, tentu saja aku tetap pada komitmenku sebagai vegetarian), mungkin dia bertanya-tanya mengapa aku memutuskan menjadi vegetarian dapat dikatakan tanpa proses persiapan sebelumnya. Biarlah dia bertanya-tanya tetapi aku menikmati proses ini dengan bahagia. Aku terus membaca tulisan-tulisan orang tentang hidup sebagai vegetarian. Aku masih pemula dan belum bisa cepat meyakinkan orang lain tetapi setidaknya aku mulai yakin dengan pilihanku ini. Kiranya semua makhluk berbahagia. 

Eunike Widhi Wardhani

Selasa, 02 Agustus 2016

Ketika aku memutuskan untuk menjadi seorang vegetarian

Sudah hampir 1 bulan aku tidak makan daging dan ikan tetapi aku makan 2 butir telur di bulan ini. Ya, ini tahap latihanku untuk menjadi seorang vegetarian untuk aku mengetahui apakah ada hal baru yang kurasakan dengan komitmenku ini. Aku mulai merasakan perubahan yaitu tidak mudah mengantuk seperti biasanya. Badan terasa segar meskipun bangun pagi dan beraktivitas sampai sore, aku tetap merasa kuat. Memang untuk bulan pertama ini aku sengaja mengurangi pekerjaan berat seperti melakukan perjalanan jauh naik sepeda motor seperti yang sering kulakukan sebelumnya. Perjalanan ke luar kota menggunakan mobil adalah hal biasa, tidak melelahkan. Saat makan aku bisa menjalankan pola makan baruku dan cukup kenyang, semua berjalan tanpa gangguan. Melihat sepanci thengkleng kambing atau sepiring ayam goreng aku sudah tidak naksir lagi. Hanya kadang-kadang waktu menyiapkan makanan di rumah seperti ikan atau bakso sapi untuk suami dan anak-anak, sempat ingin mencicipi tetapi kemudian aku segera ingat "ooh iya, aku sekarang vegetarian, untung belum sempat kucicipi...xixixiii..."
Kegiatan melelahkan bulan ini hanya membersihkan rumput di halaman rumahku seluas 150 m2 yang sudah seperti hutan karena tidak kubersihkan sejak Januari lalu (sudah setengah tahun....xixixiii....). Aku tidak ingin terlalu lelah jadi itu kuselesaikan selama 3 hari. Terus terang aku termasuk orang yang malas berolah raga, sehingga aku lebih memilih kegiatan-kegiatan fisik yang memancing keluarnya keringat dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah.
Bulan ke dua dan seterusnya aku lanjutnya pola makan ini termasuk tidak lagi mengkonsumsi telur, susu dan semua produk hewani. Ya, aku ingin jadi vegan (vegetarian murni) dan akan ku-evaluasi setiap bulan.
Kalau dilihat kembali ke waktu-waktu lalu, sebenarnya tonggak sejarah aku menjadi vegetarian adalah diskusi dengan 2 teman kantor. Waktu itu aku mengeluhkan kok aku sering merasa tanganku kesemutan saat mengendarai sepeda motor. Salah satu teman menggodaku dengan mengatakan : Wah, harus hati-hati mbak, itu tanda-tanda lho". Lalu kami lanjut ngobrol tentang berbagai penyakit yang mulai menjangkiti orang-orang di usia kami (golden age alias kepala 4...xixixii...). Singkat kata singkat cerita kami membandingkan pola makan sehat yang baru-baru ini kami pelajari. Satu di antara teman ingin mencoba food combining, satu  yang lain diet tidak makan nasi. Lalu aku bilang kepada mereka : "sekarang kita bertiga ayo kita coba diet kita masing-masing, kalian seperti itu, aku vegetarian, bulan depan kita evaluasi yuk". Akhirnya kami bertiga setuju. Komitmenku aku mulai pada 12 Juli 2016. Ini belum 1 bulan tetapi aku sudah merasakan beberapa perubahan.
Aku mencari beberapa informasi tentang vegetarian, tentang bagaimana memulainya, apa saja alasan orang menjadi vegetarian, termasuk aku juga membaca informasi tentang food combining.
Sebenarnya aku juga terinspirasi ajaran Budha tentang pola makan ini. Mungkin aku terlalu terkesan dengan ajaran Budha di film SHAOLIN yang peran utamanya adalah aktor terkenal Andy Lau, yang beberapa kali kutonton tanpa pernah bosan memperhatikan setiap detik/menit berisi ajaran-ajaran hidup luhur yang ditampilkan di film itu.
Pengalamanku hidup bersama salah seorang teman baikku, seorang perempuan Nepal yang merupakan vegetarian di tahun 2014, aku menyaksikan sendiri bagaimana seorang vegetarian ternyata memiliki kekuatan fisik yang sama bahkan temanku itu lebih kuat fisiknya dibanding aku. Aku dulu sering meledeknya ketika bersama memanen padi, dialah yang paling cepat membereskan pekerjaan panen, otomatis luasan panennya jauh meninggalkan teman-temannya. Kami hanya terkagum-kagum dan aku sempat nyelutuk : "sister, you only eating grasses but you are very strong". Itu menyadarkan aku bahwa tidak ada alasan kekurangan gizi atau dampak buruk apapun di sisi kesehatan ketika kita menjadi vegetarian. Itu semua semakin memantapkan langkahku menjadi seorang vegetarian murni.
Aku berharap ini bisa berlangsung seterusnya seumur hidupku.

Eunike Widhi Wardhani
2 Agustus 2016


Rabu, 22 Juni 2016

THE HISTORY OF NISHINASUNO CHURCH MOVEMENT CONCERNING COMMUNITY DEVELOPMENT WITH ARI (ASIAN RURAL INSTITUTE) JAPAN



THE HISTORY OF NISHINASUNO CHURCH MOVEMENT CONCERNING COMMUNITY DEVELOPMENT WITH ARI (ASIAN RURAL INSTITUTE) JAPAN
Eunike-Indonesia
ARI 2014

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj6_RwOgbymY-QZXjWBfBelctddcjp9tL_YOOZovCJQcsRz9SEsO2DuUQqIOIM408fBHzPUq-7bZXA86k34yDw3rkiUNOHbGx_7MvyYzfDlI7tGmXipb55bu4aMvOICwmPOdKReKzfQUls/s1600/IMG_0483.JPG

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEht_5_8eGkt1irlk0FYMvV9GLfCTS-vXV3n4klumyWCp9AKLyLQ417mKeTGfhbB8MIISPhFl-QocqspSfkRMVaMGTHGNoA__LY7VKmUbXZ8xIRZ6O7fcYKZBAaWQZhOV2aEMRfYidChqIY/s1600/DSCN4283.JPG


The objectives of this short research are :
  1. To learn about the history of Nishinasuno Church establishment (describe the condition before establishment, what character of the foundation Christian makes the Church very different in Japan)
  2. To learn about how Nishinasuno started to bring up community development issues as part of church responsibilities and concerns.
  3. To learn about how Nishinasuno Church implemented community development activities in its congregations. What kinds of problems were prioritized and what kind of solutions were given.
  4. To learn about the closeness between Nishinasuno Church and ARI (Asian Rural Institute) that has led to sustainability terms of spiritual growth and care for the rural poor/ serving the marginalized people.
Methodology
This project have done in the form of :
  1. Making terms of reference
  2. Literature collecting,
  3. Interviewing,
  4. Analyzing,
  5. Organizing discussion material,
  6. Focus group discussion,
  7. Evaluation
  8. Writing and report

Community Development by church
Each institution has its own history of how it was started and formed. If recorded properly, the history will be passed on to future generations. 
Nishinasuno Church celebrated its 121 years birthday on September 16th 2014. This small study is not to produce a complete record of the history throughout the life of this church, but I tried to limit the background history of the Church Nishinasuno and immediately jumped on the results achieved in the realm of Community Development. The only reason why I jumped was not possible to collecting all the story because the study I completed in a matter of days or weeks. And that's just a starting point that can be developed into many topics. But I will give several recommendations that could be followed by other history enthusiasts of Nishinasuno Church and ARI.
One of my expectations came to ARI is to learn to know how the poor and farmers (including community and I accompanied my sending church) who have great potential, they should have the opportunity to develop themselves and their village. Participants who came to ARI are prepared and honed their ability as a leader to return to their village / country doing community development and community organizing is not personal but institutional. And this little church is a typical example of how a church institutions start, maintain and implement community development with strong leadership character they have.

Why I chose Nishinasuno Church?
As we know Christian people in Japan are only about 1% of population. This number is very small compared to Indonesia which are 7% of population. There are very rare big church in Japan. And compared to my church in Indonesia (GKJ Sidomukti Salatiga with the congregation of about 700 people), this Nishinasuno Church congregation is very small with few in numbers.
Many churches are doing various forms of community development. But I chose Nishinasuno because there is historical connection directly with ARI, the institution where I am now participating the rural leadership training. The concept of rural leadership that have passed through the history of this century is not likely to happen in an instant.
From there I became interest in learning more about the church's role in community development as evidenced by the existence of the which has been educating 1272 graduates of participants to do Community Development of strengthening rural people from 5 continents on planet earth. It shows that this small church has been doing a lot of great works in term of community development.
I am very happy that I got permission from ARI campus and Nishinasuno Church to learn about it during my summer individual project. I am grateful to have the opportunity to do this project, to meet and hear the stories directly from the offender's history.

Interview results and collecting information
Flash back of Nishinasuno church history is very interesting to learn. I want to divide it into several periods that show what happened in the history of Nishinasuno Church and ARI in that each periods.

Pre establishment of Nishinasuno Church (1873 - 1893)
I met 3 resources person are: Mr. Hajime Kikuchi, Mr. Hyuya Tamura and Mr. Kazuho Makino during July 26-28th 2014.
1.      Mr. Hajime Kikuchi is the second generation in the history of Nishinasuno Church and establishment ARI actors directly.
2.       Mr. Syuya Tamura in his youth had been doing many activities with Rev. Haruo Fukumoto (Nishinasuno Church founder and the first pastor of the church) who also played a major role in the establishment of ARI. Mr. Hyuya Tamura also have a thorough knowledge of the history of the Nasu Canal which is little bit related to this article.
3.      Mr. Kazuho Makino is the next generation who still follow the history Nishinasuno and ARI until this day.




This is the story......
After the construction of the Nasu Canal by Innami and Yaita this area became fertile. Many newcomers from outside prefecture who eventually settled here, one of them is Mr. Tajima from Gunma Prefecture who came to Nasunogahara / Nishinasuno with his extended family at 1873. Gunma is famous of silk worms cultivation. Tajima brought his knowledge from Gunma to Nishinasuno about how to manage the silkworm to one marketed to Yokohama. In Yokohama Tajima met a Christian Missionary and he became a Christian. It is not known whether the previous Tajima is Sintoism or other religion. Then the history of Christianity in Nishinasuno/Nasunogahara is began enter this place.
Nishinasuno community which is consisting of farmers and imigrant has characteristics that are open minded and receptive to new ideas. Tajima organize silkworm farmers in Nishinasuno. That is why nowadays we encounter many of the mulberry tree in surround ARI field. Tajima also formed a farmer cooperative that time. Tajima show a good leader, so that many farmers followed his footsteps become Christian. Many times meetings was held in the framework of the organization of silkworm farming activities and worship by him. Church as communion has been formed but have not had a special place of worship. They call it Christian Meeting, not a church. Tajima leadership is really rooted in the community together in a fairly long period of time. Be told that Tajima also foster communication and excellent relations with Buddhist and Shinto communities around Nishinasuno.

Nishinasuno Church Establishment
The history jumps in the presence of Rev. Haruo Fukumoto from Tokyo to Nishinasuno. The foundations of a strong Christian community has been built long ago by Tajima in his day. Haruo Fukumoto is the next Christian leaders in the community sequel.
Fukumoto is a graduate of South East Asian Course (SEAC) 1960-1972) of Christian Rural Leader's Training by Evangelical Theological Rural Seminary in Tsurukawa Tokyo. Rev. Fukumoto later founded the church Nishinasuno on September 16th 1893 under the denomination of Methodist Church. Several other churches are also growing simultaneously as the development of Christianity in Japan that began at 3 centers : Yokohama, Kobe and Hokaiddo. The three centers had a same Japanese way of Christianity, that is implemented in a pluralistic condition.
In the Second World War the Japanese government applied the rule should not be any denomination, so all the Protestant churches in Japan became one unity so that easily to be controlled. Nishinasuno joined in UCCJ (United Christian Church of Japan) or Kyodan. That is why Kyodan homestay program for participants is a part of learning and effort for future relations with ARI history can be understood by participants.

History of the ARI, Tochigi (1960-1973)
History jumps back to the founding of ARI. As the material history by Otsu Sensei, before named ARI is now, it was once named SEAC in Tsurukawa (1961-1972). Rev Fukumoto one of the students in SEAC who attended various rural leadership training programs in several Asian countries. Fukumoto met Dr. Toshihiro Takami in Tokyo.
In the summer season, SEAC partisipants visited for survey to Nishinasuno Church congregation in farming community and their farming practices.
Having made ​​several observations about the condition of Nishinasuno, SEAC program moved from Tsurukawa to Nasunogahara / Nishinasuno in 1973 and renamed to be Asian Rural Institute whose program is the Asian Rural Leader Training. According to the Kikuchi Sensei telling, the reason why chose this place is because it is not too far from Tokyo (easy to access) but it is still village condition, fertile land (because of Nasu Canal building) and open-minded society.
Rev. Fukumoto fully supports the establishment of ARI in Nishinasuno. Due to a variety of support and has maintained an intimate relationship between SEAC and Nishinasuno Church for more than 10 years.
Therefore, the location of the new site ARI training program was decided in Nishinasuno in 1973 by Dr. Takami Sensei. Rev.Fukumoto is a key person who continue strong leadership character as one of the skills that must be owned by a community leader. Rev. Fukumoto became the first pastor in Nishinasuno Kyookai (1956-1991)
As Tajima did, Rev. Fukumoto also maintained a good relationship with the Budhist Monk and Shintoism people. In addition, he also developed a good relationship with some of the entrepreneurs in Nishinasuno, Major of Nishinasuno and banks, one of those is Asikaga Bank (because of always maintained a good relationship for decades, so this day Asikaga Bank became one of the supporters of the program at ARI).

Year 2004-until now
A little jump in 2004 the government Tochigi combine 3 locations: Nishinasuno, Kuroiso Nikko and Shiobara into a city. Like a ship, across the sea Nishinasuno Church Community Development was continuing together with ARI, established a long history of this small church to be strong to face challenges of the world.
From the participants stories about the activities of Community Development in their respective countries on ARI Sunday, Nishinasuno Church congregation can follow the movement of Community Development all over the world. Then the congregation is also involved in several activities in ARI. In the process of continuous interaction and mutual support, that's the Theology of Empowerment truly uniquely applied in this church.


Valuable lessons that can be taken

 Rev. Fukumoto and Tajima have the same way of thinking and a strong Christian leadership character is also applied in organizing farmers and farmer cooperatives. Leadership skill and knowledge was developed and became the core training program at ARI.
The leader is always be a pioneer of changing. Tajima pioneered Christianity in Nishinasuno. He was a brave and willing to work hard and thus provide a good example, then he is respected and members followed his step even passed on to the next generation. Fukumoto also a respected leader figure, because not only is willing to continue the positive steps of Fukumoto predecessor but Fukumoto also made bold steps in establishing Nishinasuno Church. Then Fukumoto together with Dr. Takami Sensei are the main thinker of ARI establishment. Dr. Takami developed servant leadership on learning in the next ARI. The coordination is very good and effectively by leaders. Leadership style may be different but they have the same goal in Community Development.
Maintaining a good relationship with many parties is one of the strategies that must be mastered by a leader if she/he wants to do sustainability of Community Development.
Leadership in Community Development was already started since before the establishment of the  Nishinasuno Church that makes this church is very special in Japan.

The Conclusion:
Nishinasuno Church does not merely establish ARI, but the presence of ARI in Nishinasuno could not separated from the role of Nishinasuno Church. In its development until now, training in ARI activity was also strongly related to the activity of Nishinasuno Church. Both of these institutions are not belong to each other formally, but the philosophy underlying the establishment of these two institutions are the same, that is Community Development.


Benefits of Community Development concept by Nishinasuno Church and ARI
The life of faith in Christ is not only shown in the weekly praying and worship in the church but the real action for the defense of the weak and marginalized people is a part of praying. This small church is an example of how to practice the teachings of Jesus Christ's love. In his day Jesus was speaking the truth and defended the poor and oppressed by the peace movement, the anti-violent but very effective and clear result, that is a change. Changes that we feel right now, but follow-up is the responsibility of the followers of Christ and must be performed continuously.
Until today injustice is still happens in various forms all over the planet. In the name of development, the rural poor are often sacrificed. In the name of modernization and of some interest groups who have the power, people often ignore weak groups especially in rural areas. Yet they have great potential to act as subjects, not as objects of development.
Just as Jesus did, this village addressed church leaders in the world regardless of religious, ethnic and political backgrounds to serve rural communities in their countries. True Christianity realizes itself in plurality and this is truly appreciated by this small church.

Recommendations
Recommendations for Nishinasuno Church are:
1. This small research is only a first step which is very shallow. I wish there was a development of ideas or a more in-depth study of the history of this church by many historians, church members or society at large. Can be a study of the literature and interviews or more complete researches.
2. Community Development topic in the church would be able to bring up other topics that realistically happening in many churches
3. Nishinasuno should begin to prepare new leaders who continue Community Development as Jesus Christ did.
4. Other recommendations can be added by anyone who is involved in the community development church

Recommendation for ARI are :
1.    ARI is still remain as a tool of the church in serving the community in diversity and plurality as a part of church itself.
2.    ARI continues to educate the village leaders based on Christian Leadership, educating them to be able to capture the global issues of concern, then pass on to farmers and rural communities in accordance with their understanding then act locally with their idea and potency.

Servant Leadership in ARI
Village is a potential area to be developed in the future. ARI had a lot of good resources : staffs, nature, partner or other support resources. I have a feeling blessed became ARI student and involved in Organic agriculture life, Community Development, Rural Development Strategy with Christianity spirit. As a graduate I will continue this learning in my rural community back home. As a leader I will follow ARI style of leadership, servant leadership for community development. Servant leadership will continue show and apply clearly into the whole learning.


Eunike Widhi Wardhani-Indonesia
ARI 2014